Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana saat menjamu Presiden Tiongkok Xi Jinping dan ibu negara saat makan malam KTT G20 Bali, 15 November 2022. Foto: AFP
Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana saat menjamu Presiden Tiongkok Xi Jinping dan ibu negara saat makan malam KTT G20 Bali, 15 November 2022. Foto: AFP

Kaleidoskop 2022: Keberhasilan KTT G20 Bukti Terobosan dalam Diplomasi Indonesia

Fajar Nugraha • 31 Desember 2022 06:04
Jakarta: Tahun 2022 menjadi penanda keberhasilan Indonesia dalam percaturan politik internasional. Pelaksanaan pertemuan puncak G20 di Bali 15-16 November 2022 menjadi sorotan utama.
 
G20 sedianya merupakan pertemuan yang membahas isu ekonomi. Namun dengan adanya perang Rusia-Ukraina, isu politik pun menjadi sangat kental. Ini dikarenakan Rusia merupakan anggota G20 dan Ukraina meskipun bukan anggota G20, menjadi sekutu penting bagi dunia barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.
 
Sejak memegang Presidensi G20 pada 1 Desember 2021, Indonesia mengusung tema 'Recover Together Recover Stronger', Presidensi Indonesia memberi pesan yang sangat dalam bagi global untuk bersama pulih dari pandemi. Ada enam agenda unggulan Presidensi G20, antara lain:
  1. Exit strategy untuk mendukung pemulihan ekonomi.
  2. Scarring effect untuk mengamankan pertumbuhan di masa depan.
  3. Sistem pembayaran digital.
  4. Keuangan berkelanjutan.
  5. Inklusi keuangan.
  6. perpajakan internasional.
Presidensi G20 Indonesia juga menunjukkan tingkat resiliensi dan daya tahan di tengah pandemi. Sekaligus mempromosikan komitmen dan potensi Indonesia dalam mempraktikkan kepemimpinan global.

Krisis Rusia-Ukraina membayangi

Indonesia memimpin G20 pada masa sulit. Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022, langsung membawa dunia ke dalam krisis multidimensi. Tidak hanya pandemi, pada akhirnya, dunia juga dihadapkan pada krisis ekonomi dan juga kelangkaan pangan serta masalah energi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tindakan Rusia terhadap Ukraina ini membuat negara-negara besar yang merupakan anggota G20, menekan Indonesia agar Rusia tidak diikutsertakan dalam setiap agenda G20 di awal tahun hingga penutupan pada November 2022.
 
Pada akhirnya, Rusia tetap diikutsertakan karena Indonesia bersikeras bahwa G20 merupakan forum untuk membahas ekonomi bukan soal keamanan.
 
Atas kesulitan ini, Indonesia pun dipandang pesimis dalam memimpin KTT G20 dan menghasilkan deklarasi bersama.

Kehadiran pemimpin

Pada pertemuan puncak KTT G20, hampir seluruh negara, dipimpin oleh kepala negara. Namun kepala negara ternama hadir di Bali.
 
Mereka antara lain, Presiden AS Joe Biden, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, Kanselir Jerman Olaf Scholz, hingga PM India Narendra Modi.
 
Sementara Rusia yang menjadi perhatian besar tidak diikuti oleh Presiden Vladimir Putin. Putin mengirim Menlu Sergey Lavrov untuk menggantikannya.
 
Sedangkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky hadir dalam KTT ini secara virtual.

Langkah konkret

Menteri Luar Negeri Retno menegaskan, Indonesia berhasil menepati janji dalam menjalankan Presidensi G20 dengan sebaik-baiknya. Keberhasilan Indonesia pun membuahkan pujian dari komunitas internasional.
 
Ssalah satu janji yang disampaikan Presiden Joko Widodo di awal Presidensi G20 Indonesia adalah menyuarakan kepentingan negara berkembang.
 
"Jika kita lihat paragraf Deklarasi G20, maka tampak sekali, bahwa kepentingan dan suara negara berkembang tersuarakan dengan baik," ujar Menlu Retno.
 
"Inklusifitas juga tercermin dari paragraf-paragraf yang memberikan perhatian kepada kaum perempuan. Bahkan kepentingan negara kepulauan kecil pun tersuarakan," sambungnya.
 
Tak hanya itu, untuk pertama kalinya G20 dapat menghadirkan daftar kerja sama konkret, yaitu annex yang bertajuk G20 Actions for Strong and Inclusive Recovery.
 
"Ketahanan kesehatan global diperkuat, antara lain melalui dibentuknya Pandemic Fund, yang jumlahnya sudah 1,5 miliar dolar AS per detik ini dan masih akan terus bertambah," ungkapnya.
 
Namun, tak hanya Pandemic Fund, G20 juga berkomitmen untuk transisi energi yang termasuk kolaborasi pendanaan teknologi. Retno menjelaskan, bantuan kapasitas fiskal negara miskin dan rentan juga didapat dengan komitmen pendanaan hingga USD81,6 miliar dari negara maju.
 

Deklarasi akhir

KTT G20 di hari kedua, Rabu, 16 November 2022, menghasilkan pernyataan bersama berupa Deklarasi Pemimpin atau Leaders' Declaration. Terdapat 52 poin dalam deklarasi ini, termasuk seputar perang Rusia-Ukraina.
 
Menurut negara-negara anggota G20, agresi Rusia di Ukraina sejak Februari lalu telah berimbas buruk terhadap perekonomian global.
 
"Kami menekankan kembali posisi nasional kami dalam berbagai fora lain, termasuk di DK PBB dan Majelis Umum PBB, yang mengecam keras agresi Federasi Rusia terhadap Ukraina, dan meminta Rusia menarik semua pasukannya tanpa syarat dari Ukraina," demikian tertulis di poin ketiga Leaders' Declaration G20.
 
"Sebagian besar negara anggota mengecam perang di Ukraina, dan menekankan bahwa konflik tersebut telah menimbulkan penderitaan besar bagi manusia serta memperburuk kerapuhan ekonomi global."
 
Dalam konteks ekonomi, dampak buruk perang Rusia meliputi memperlambat pertumbuhan, meningkatkan inflasi, mengganggu rantai pasokan, memperburuk ketahanan energi dan pangan, serta meningkatkan risiko stabilitas finansial.

Keberhasilan

Kremlin menyebut deklarasi akhir KTT G20 yang baru-baru ini disimpulkan di Indonesia sebagai 'kemenangan akal sehat'. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, G20 bisa saja berakhir tanpa deklarasi akhir untuk pertama kalinya dalam sejarah, tetapi 'agresivitas buta Barat dinetralkan' dan kompromi tercapai.
 
Peskov menambahkan, Rusia berencana untuk melanjutkan pekerjaannya dengan G20, dan menyebutnya sebagai platform paling efektif untuk memecahkan masalah global yang ada.
 
Di akhir KTT, G20 mengeluarkan deklarasi akhir, yang mengatakan, sebagian besar anggota mengutuk perang di Ukraina dan menekankan itu menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan memperburuk kerentanan yang ada dalam ekonomi global.
 
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan kepemimpinan Indonesia di G20 mendapat banyak pujian. Pujian bahkan diberikan para pengamat internasional.
 
"Banyak pihak mengatakan, jika bukan Indonesia sebagai presiden G20, mungkin G20 sudah tidak intact lagi," katanya dalam pidato di Congress Indonesia Foreign Policy (CIFP) di Jakarta, Sabtu, 26 November 2022.
 
Menlu Retno mengatakan, berbagai komunitas internasional memuji kepemimpinan Indonesia di G20 tahun ini, yang disebut-sebut tidak mudah. Salah satu pujian berasal dari Shada Islam yang menulis di euobserver.com.
 
Pujian lainnya juga datang dari Greg Poling yang adalah pengamat dari Washington's Center for Strategic and International Studies. "Indonesia pantas mendapat pujian karena berhasil melewatinya tanpa ledakan besar," kata Retno mengutip tulisan Poling.
 
Di sisi lain, Aaron Connelly, pengamat senior International Institute for Strategic Studies di London mengatakan, "KTT G20 tidak berantakan, dan menghasilkan komunike. Ini sebenarnya bukan komunike dari Deklarasi, dan menurut saya harus dianggap sukses."

Gangguan

Ada sedikit gangguan ketika KTT G20 berlangsung. Seluruh jadwal rangkaian agenda di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 hari kedua harus mundur hingga 90 menit. Musababnya, beberapa pemimpin negara yang hadir, tepatnya yang tergabung dalam G7, harus menggelar pertemuan darurat menyusul adanya insiden penembakan rudal milik Rusia ke Polandia.
 
Pertemuan darurat itu dihelat pagi hari, bertepatan dengan jadwal kunjungan para pemimpin negara G20 ke Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai. Bahkan, untuk menutup kekosongan waktu, Presiden Joko Widodo yang sudah berada di lokasi sejak sekitar pukul 08.00 WITA bisa berkeliling di lokasi terlebih dulu bersama sejumlah media asing.
 
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang sebelumnya memberikan pidato secara virtual, menuduh Rusia berada di balik penembakan rudal ke Polandia itu.
 
Namun Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara pendukung Ukraina tidak mempercayai sepenuhnya klaim. Bahkan Presiden AS Joe Biden menyebutkan ragu bahwa rudal itu berasal dari Rusia.
 
Akhirnya disimpulkan bahwa rudal itu berasal dari Ukraina sendiri. Meskipun demikian Ukraina bersikeras bahwa rudal tersebut berasal dari Rusia.

Perhatian

KTT G20 di Bali menjadi pertemuan puncak yang menarik perhatian banyak pihak. Tidak hanya isu dari KTT, tetapi ragam acara hingga tingkah para pejabat yang ikut serta.
 
Gelaran budaya di saat makan malam G20 di Garuda Wishnu Kencana menggugah banyak pihak. Atraksi selama makan malam itu pun membuat para pemimpin dunia terkesima.
 
Salah satu yang menarik perhatian adalah tingkah para pemimpin. Ini seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menikmati Bali dengan berjalan mengenang masa kecilnya yang pernah ke Bali.
 
Kemudian, Perdana Menteri Inggris yang baru ditunjuk Rishi Sunak bersama Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau yang kedapatan makan malam bersama di warung lokal.  Trudeau bahkan menikmati bir Bintang adapun Sunak menikmati minuman jeruk.
 
Tidak kalah menariknya adalah ulah Menteri PUPR Basuki Hadimulyono. Dengan mengenakan topi terbalik, Menteri Basuki membawa kamera dan berbaur dengan tamu dan jurnalis lainnya yang bermaskud memotret para pemimpin dunia yang hadir.
 
Dengan berakhirnya KTT G20, Indonesia menyerahkan keketuaan G20 ke India. Menutup pidatonya, Presiden Joko Widodo mengatakan, 'Let's we recover together, recover stronger'.
 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif