Demonstran berperisai berkumpul di salah satu ruas jalan di kota Yangon, Myanmar pada Minggu, 7 Maret 2021. (STR / AFP)
Demonstran berperisai berkumpul di salah satu ruas jalan di kota Yangon, Myanmar pada Minggu, 7 Maret 2021. (STR / AFP)

Tekan Junta Militer, Pertokoan dan Pabrik Myanmar Berhenti Beroperasi

Internasional konflik myanmar myanmar politik myanmar aung san suu kyi Kudeta Myanmar
Marcheilla Ariesta • 08 Maret 2021 14:09
Yangon: Aliansi serikat dagang Myanmar telah menyerukan penutupan kegiatan ekonomi sebagai langkah menentang kudeta militer. Seruan ini direspons dengan penutupan deretan toko, pabrik dan bank di seantero Myanmar.
 
Menurut aliansi serikat dagang, membiarkan bisnis dan kegiatan ekonomi terus berlanjut hanya akan menguntungkan junta militer. "Sekarang waktunya mengambil tindakan demi mempertahankan demokrasi kita," seru mereka.
 
Dilansir dari Channel News Asia, Senin, 8 Maret 2021, saksi mata mengatakan saat ini hanya beberapa toko teh kecil yang beroperasi di Yangon. Pusat perbelanjaan utama di kota tersebut memilih tutup, dan aktivitas di sejumlah pabrik pun dihentikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aksi menghentikan operasi ini dinilai dapat menambah tekanan terhadap militer Myanmar yang telah melakukan kudeta pada 1 Februari lalu. Kudeta kala itu diawali dengan penahanan sejumlah tokoh, termasuk pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint.
 
Baca:  Pejabat Partai Suu Kyi Meninggal di Tahanan Militer Myanmar
 
Maung Saungkha, salah satu koordinator aksi protes menentang kudeta, menyerukan agar semua perempuan di Myanmar ikut serta menentang kudeta.
 
Dalam aksi protes terbaru, para demonstran terlihat mengibarkan bendera yang dibuat dari htamain (sarung perempuan Myanmar) di beberapa tempat, atau menggantungnya di garis seberang jalan sebagai penanda Hari Perempuan Internasional. Gestur ini ditujukan untuk mengecam kekuasaan junta Myanmar.
 
Dalam tradisi Myanmar, berjalan di bawah htamain dianggap membawa sial bagi pria, dan hal ini dimanfaatkan para demonstran untuk memperlambat gerakan polisi dan tentara.
 
Nay Chi, salah satu penyelenggara gerakan htamain, menggambarkan perempuan sebagai sosok "revolusioner." "Rakyat kami tidak bersenjata tetapi bijaksana. Mereka mencoba memerintah dengan ketakutan, tetapi kami akan melawan ketakutan itu," katanya.
 
Protes di Myanmar tak kunjung padam, militer pun terus meredam perlawanan dengan aksi kekerasan. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 50 demonstran Myanmar dilaporkan tewas di tangan pasukan keamanan.
 
Kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik (AAPP) mengatakan bahwa hampir 1.800 orang telah ditahan di bawah perintah junta militer sejak awal aksi protes hingga akhir pekan kemarin.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif