Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar saat membuka 'Policy Dialogue on Strategic Bioenergy in indonesia and Sweden' di Jakarta. Foto: Dok.Kemenlu
Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar saat membuka 'Policy Dialogue on Strategic Bioenergy in indonesia and Sweden' di Jakarta. Foto: Dok.Kemenlu

Wamenlu Geram Sawit Indonesia Masih Jadi Target Diskriminasi Eropa

Internasional minyak sawit ekspansi kelapa sawit
Marcheilla Ariesta • 11 Maret 2020 16:33
Jakarta: Dalam berkomitmen untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tidak boleh ada diskriminasi terhadap kebijakan pencapaian SDGs negara lain. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar saat membuka 'Policy Dialogue on Strategic Bioenergy in indonesia and Sweden' di Jakarta.
 
Pernyataannya tersebut menyinggung kebijakan Uni Eropa yang dirasa terlalu mendiskriminasi sawit Indonesia.
 
"Jangan hanya memilih satu atau dua target lalu kemudian menerapkannya seakan-akan menjadi target global, seperti yang dilakukan dalam kebijakan Uni Eropa yang saya sebut tadi renewable energy directive dengan petunjuk pelaksanaannya yang menurut kami tidak tepat," tutur Mahendra, Rabu 11 Maret 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Mahendra, kebijakan tersebut merupakan tantangan besar yang dapat mencegah kedua negara melakukan hubungan yang lebih produktif dan konstruktif antara kedua negara.
 
Dalam kegiatan ini, Mahendra menunjukkan bukti produktivitas sawit Indonesia yang hingga sembilan kali lebih tinggi dari minyak nabati lainnya. Selain itu, sambung dia, penggunaan pupuk dan pestisida kelapa sawit Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan minyak canola (rape seed).
 
"Padahal pestisida dan pupuk itu mengakibatkan polusi yang luar biasa pada lingkungan, baik air maupun tanah, yang kemudian mengalir ke sungai, danau, dan sebagainya. Jadi ini jauh lebih destruktif sifatnya," imbuh Mahendra.
 
Dia menegaskan, jika ingin melihat dampak lingkungan dan keberlanjutan, perlu diadakan penelitian dan pengkajian bersama sehingga dapat hasil yang murni.
 
"Jadi kita dorong kerja sama antar pusat riset, akademik, dan peneliti, antar industri, tapi kerangka objektifnya harus menyeluruh berdasarkan framework yang diakui secara internasional," serunya.
 
"Bukan yang pilih memilih sesuai dengan keinginan untuk melindungi satu produk," tegas Mahendra.
 
Karenanya, bekerja sama dengan Swedia, Kemenlu menyelenggarakan 'Policy Dialogue on Strategic Bioenergy in Indonesia and Sweden'. Kegiatan ini dinilai bertujuan untuk membahas kebijakan dalam mempromosikan pengembangan bioenergi berkelanjutan.
 
"Kegiatan ini merupakan bilateral untuk kerja sama dengan Swedia, mempromosikan masalah kegunaan yang juga penelitian lebih lanjut untuk sustainable bioenergy," ungkap Mahendra.
 
Kegiatan dialog ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terkait riset bioenergi di Indonesia dan proses transisi menuju bioenergi modern. Selain itu, diharapkan para peserta dapat mendiskusikan pelajaran yang didapat terkait dengan penerapan kebijakan untuk mengembangkan bioenergi berkelanjutan.

 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif