NEWSTICKER
Wamenlu Mahendra Siregar. (Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta)
Wamenlu Mahendra Siregar. (Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta)

Wawancara Khusus Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar

Diplomasi Indonesia di Tengah Wabah Korona

Internasional Virus Korona Coronavirus virus corona covid-19 Berita Virus Corona Hari Ini
Marcheilla Ariesta • 23 Maret 2020 06:16
Jakarta: Virus korona covid-19 telah menewaskan 48 warga negara Indonesia dan menginfeksi 514 orang di Indonesia. Virus ini tak hanya melanda, Indonesia namun sudah menyebar ke lebih dari 170 negara di seluruh dunia.
 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan covid-19 sebagai pandemi. Beberapa negara telah melakukan lockdown untuk menekan angka penyebaran virus tersebut.
 
Pandemi covid-19 berdampak buruk bagi sektor perekonomian negara manapun, tak terkecuali Indonesia. Diberi mandat langsung oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar harus pintar mencari cara agar diplomasi ekonomi Indonesia tetap berjalan di tengah pandemi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apa yang dilakukan Indonesia untuk tetap menarik investor asing dan bagaimana kondisi ekonomi Indonesia, serta apa tantangannya, telah Medcom.id bahas bersama Wamenlu Mahendra Siregar dalam konferensi video, Jumat 20 Maret 2020.
 
Berikut wawancaranya:
 
Sebagai Wakil Menlu yang diberi tugas khusus oleh Presiden Joko Widodo, bagaimana Anda melihat diplomasi ekonomi Indonesia?
 
Dari kacamata strategisnya dulu ya. Jadi di waktu sebelumnya, memang kita melihat pendekatan terkait kebijakan dan katakanlah politik luar negeri itu di satu sisi memiliki visi misi khusus yang pedomannya tentu sejauh mukadimah konstitusi kita. Namun di lain pihak, untuk diplomasi ekonomi juga memiliki visi dan misi yang kuat untuk itu.
 
Nah, dalam perkembangan belakangan ini, lagi-lagi sebelum bicara mengenai covid-19, kita lihat perkembangan geopolitik, perkembangan kepentingan dan katakanlah isu strategis global itu semakin dikaitkan dengan kepentingan nasional ekonomi masing-masing.
 
Jadi berbeda dengan katakanlah sebelum 2015, yang memang di tingkat global urusan politik keamanan strategis global kepentingan internasional itu terpisah dengan perjalanan ekonomi dunia yang didorong globalisasi.
 
Tetapi dalam beberapa tahun terakhir kedua hal tersebut semakin terkait. Jadi perkembangan ekonomi global tidak hanya semata-mata karena globalisasi, tapi juga semakin dipengaruhi oleh perkembangan politik, strategis dan kepentingan nasional dari negara-negara. Nah ini yang saya rasa perubahan mendasar yang melatarbelakangi tren diplomasi ekonomi.
 
Oleh karena itu, Indonesia tentu juga harus mempertahankan kepentingan nasionalnya di dalam konteks global yang berubah tadi. Jadi kalau sebelumnya kita melakukan lebih banyak kebijakan politik luar negeri, strategis yang sudah ada pakemnya dan ekonomi, yang seakan-akan ada pakem berbeda, sekarang dikaitkan. Karena merupakan satu kepentingan sinergis dan saling berpengaruh.
 
Indonesia memiliki struktur ekonomi, baik dari segi kemampuan pasokan maupun pasar yang besar, ini menjadi bagian dari leverage politik luar negeri dan kebijakan luar negeri kita. Jadi tidak lagi berjalan sendiri seperti sebelumnya. Ini menjadi esensi dari diplomasi ekonomi dan bagaimana seluruh instrumen dan elemen serta leverage yang ada di dalam kebijakan luar negeri kita bisa juga mendorong kepentingan ekonomi kita. Ini yang perlu kita sadari.
 
Dalam hal itu tentu pengejawantahannya dalam tingkat policy making, dan juga implementasinya adalah pertama, pemahaman yang lebih baik tentang pergeseran dan perubahan global. Kedua, koordinasi dan kerja sama lebih baik dari semua pihak yang terkait dengan itu, bukan hanya di tataran pemerintah tapi juga tentu yang penting sekali di dunia usaha, bukan hanya yang besar dan menengah, tapi juga yang kecil UMKM dan tentu pemangku kepentingan lain yang harus dilihat secara satu kesatuan.
 
Ini yang tentu harus didorong kesadaran dan koordinasi sinergi kerja samanya. Ini yang saya anggap segi prioritas kepada Kementerian Luar Negeri dalam mendorong diplomasi ekonomi dalam artian yang utuh seperti tadi.
 
Apa yang menjadi perhatian khusus dari negara sahabat tertarik melakukan bisnis di Indonesia. Ada tantangan tidak?
 
Kalau yang paling menarik bagi negara lain tentu saja ekonomi Indonesia yang besar, relatif besar. Kalau dilihat dari nilai PDB secara nominal adalah yang ke-16 terbesar, tapi dilihat dari segi per kapita tentu masih relatif rendah bagi negara berkembang pendapatan menengah.
 
Tapi tentu dengan PDB yang besar bisa lebih lagi menarik adalah disertai dengan usia populasi yang muda, bonus demografi, sehingga daya belinya bisa terus semakin besar menjadi daya tarik bagi banyak pihak. Jadi itu yang jadi daya tarik utama.
 
Dalam konteks tadi, lagi-lagi Indonesia tidak semata-mata menarik investasi apapun itu, harus dilihat dari segi kebutuhan strategis kita. Indonesia bukan lagi sebagai satu ekonomi yang tidak punya apa-apa, jadi apapun boleh masuk, sudah tidak begitu lagi. Indonesia memiliki sesuatu kondisi ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya dan juga punya sasaran yang ingin dicapai.
 
Yang ingin kita tarik adalah investasi yang mendukung upaya kita untuk mencapai tujuan tadi dan memperbaiki struktur ekonomi kita. Misalnya saja yang ingin kita dorong terus meningkatkan mutu produksi untuk mendapat nilai tambah, ya ini yang kita ingin coba dorong terus.
 
Di lain pihak, ada kepentingan ekonomi negara lain yang lebih menginginkan kita terus mengekspor barang mentah, tidak produksi sendiri untuk diinvestasi di dalam negeri. Bagi kita hal itu tidak sejalan, dan kita tidak ingin terus ekspor barang mentah dan kemudian negara lain yang menikmati nilai tambahnya, dan kita jadi konsumen semata-mata.
 
Kalau itu kita tidak inginkan investasinya. Karena justru merugikan dan tidak sejalan dengan nilai strategis kita. Jadi lagi-lagi kondisi objektif memang menarik, dan kita punya target yang ingin dicapai. Jadi yang ingin kita tarik adalah bentuk investasi yang sejalan dengan kepentingan dan visi kita tadi.
 
Dalam kondisi kita saat ini (covid-19), ada negara yang bertanya mengenai iklim investasi atau bisnis di Indonesia? Karena covid-19 ini membuat kondisi ekonomi menurun.
 
Oh pasti, kalau menurun ini pasti. Saya melihatnya kondisi ekonomi dunia sangat menurun. Bahkan hampir pasti akan menuju resesi global. Tapi itu memang kondisi yang saya katakan hampir tidak terhindarkan. Tetapi persoalannya bukan apakah akan resesi atau tidak tapi seberapa lama resesi terjadi dan seberapa dalam resesi ini akan ada itu.
 
Itu kondisi tersendiri saya pikir. Tentu kita harus mencermati dan merespons terhadap perkembangan yang suram tadi itu. Tapi di lain pihak, strategi interest kita jangka panjang atau menengah itu harus didorong. Jadi jangan kita kemudian gamang atau menjadi panik, sehingga kesulitan yang terus terjadi dalam beberapa bulan, setidaknya enam bulan ke depan membuat kita grogi, atau gamang, sehingga yang terus kita kerjakan sesuai visi dan keinginan dan target kita ke depan.
 
Apakah ada informasi yang disampaikan Kemenlu kepada negara-negara sahabat terkait investasi di tengah covid-19?
 
Tidak secara khusus, tapi justru yang ingin disampaikan adalah kepada perwakilan KBRI atau KJRI mengenai target-target yang harus mereka capai untuk mendorong ekspor, investasi yang lebih spesifik di negara masing-masing. Saya rasa lebih ke sana. Kalau ke luar negeri, disampaikannya melalui perwakilan kita, KBRI dan KJRI tadi, di customize sifatnya.
 
Kami mendapat informasi Anda melakukan video conference dengan para duta besar negara sahabat di Indonesia. Apakah dibahas mengenai kerja sama ekonomi dalam covid-19? Apakah Indonesia menawarkan bantuan ke negara-negara terdampak?
 
Memang yang kita lakukan kemarin dengan 101 Kedutaan Asing maupun Perwakilan Organisasi Internasional di Jakarta. Tujuannya untuk menyampaikan update perkembangan mengenai kondisi, langkah-langkah dan tentu pertukaran pikiran untuk menghadapi dan merespons perkembangan tadi yang melibatkan kedutaan dan perwakilan asing. Baik apakah ada warga negara mereka, atau kondisi tertentu dan juga bagaimana bisa terus membangun komunikasi, termasuk di dalamnya jika memerlukan kerja sama lebih baik, di antara dalam negeri kita dengan negara-negara tadi yang bisa didukung kedutaan mereka atau perwakilan asing di sini. Jadi esensinya memang hanya mengenai covid-19.
 
Apakah ada pernyataan kekhawatiran dari perwakilan asing mengenai investasi mereka di Indonesia karena adanya covid-19?
 
Secara umum tidak. Saya rasa semua melihat kondisi ini dalam perspektif khusus. Prioritas jangka sekarang, yang segera, di depan mata kita, dan bagaimana kita harus merespons baik secara cepat, tapi juga tentunya sedapat mungkin efektif.
 
Untuk itu, saya rasa semuanya tahu diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik sekali di antara semua, bukan hanya dengan Indonesia tapi secara internasional. Jadi semangat yang terlihat dalam diskusi video conference kemarin lebih ke arah sana.
 
Saya rasa juga semua tahu sedikit banyak ada dampak pada kondisi ini dan perekonomian yang terjadi di masing-masing negara, yang bahkan banyak diantaranya lebih berisiko di negara mereka dibanding di Indonesia.
 
Apa strategi Kemenlu mengatasi imbas virus covid-19 terhadap investasi asing?
 
Sebenarnya yang paling penting bagaimana kita bisa memitigasi dampak covid-19 ini, baik kepada kesehatan masyarakat kita itu paling utama, dan juga kepada dampak tidak langsung kepada ekonomi. Ini yang pada gilirannya menentukan seberapa jauh pengaruh negatif covid-19 di negara kita ketimbang perekonomian itu sendiri yang akan melemah.
 
Jadi sumber kelemahan itu karena kondisi kesehatan masyarakat dan juga berbagai kebijakan yang dilakukan terhadap covid-19 ini lah yang membawa dampak pada perekonomian. Bagaimana kita merespons itu?
 
Kita lakukan dengan baik tentunya membawa confidence kepada siapapun yang melihat Indonesia sebagai prospek yang baik seperti di awal. Karena objektif itu tidak berubah terhadap salah satu perekonomian terbesar dan masuk dalam G20, populasinya muda, pasar dalam negeri besar, itu tetap terjadi.
 
Sekarang yang menjadi perhatian besar adalah seberapa mampu kita menghadapi dan merespons kondisi covid-19 ini. Hal-hal tepat dan baik pada gilirannya akan menambah kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia ke depan.
 
Apakah ada negara yang mengirim bantuan ke Indonesia, seperti misalnya Tiongkok mengirimkan alat tes untuk covid-19?
 
Kalau itu saya rasa sedang dan terus berjalan. Seperti tempo hari, kita memberikan dukungan kepada Tiongkok di saat awal mereka mengalami pandemik di Provinsi Hubei itu. Saya rasa kalau solidaritas internasional antarnegara itu kuat terutama dalam menghadapi bencana atau situasi besar seperti ini.
 
Kita pun seperti saya sampaikan tadi, kita beri dukungan ke Tiongkok, dan sekarang Tiongkok sedang membicarakan hal itu. Saya rasa negara lain juga demikian, terbuka untuk bahas lebih lanjut kerja sama seperti itu dalam konteks perkuat dan membangun kerja sama dalam menghadapi kondisi yang harus kita hadapi dalam beberapa waktu ke depan ini.
 
Kita sadar bahwa tidak ada negara yang mampu menghadapi sendiri. Justru diperlukan kerja sama dan kebersamaan. Ini juga yang kita dorong dalam komunikasi dengan negara-negara anggota ASEAN, G20, kita ke depankan bahwa pertemuan ASEAN, G20 sekarang fokus saja ke covid-19 baik dari segi penanganannya, kesehatan, sampai segi ekonominya.
 
Jadi tidak usah dulu bahas yang lain-lain dari segi urgensinya tidak sebesar covid-19 ini. Juga di tingkat internasional baik WHO atau PBB kita lakukan upaya untuk dorong komunitas internasional untuk penanggulangan covid-19 ini di berbagai forum multilateral, regional, atau organisasi tadi, seperti G20.
 
Isu kelapa sawit masih jadi isu utama di Indonesia, perkembangannya bagaimana?
 
Masih (jadi perhatian). Kita sudah mengajukan ke WTO gugatan kepada Uni Eropa dalam konteks unit penyelesaian perselisihan di WTO.
 
Bagaimana respons dari gugatan tersebut?
 
Ini masih dalam proses, karena baik dalam WTO, maupun PBB sekarang terpengaruh kondisi covid-19 jadi menunda pertemuan sehingga prosesnya menjadi lebih panjang dari perkiraan semula. Tetapi terlepas dari kondisi itu, Indonesia sudah meminta secara resmi ke WTO pembentukan panel untuk menyelesaikan perselisihan dengan Uni Eropa masalah kebijakan Eropa yang kita anggap diskriminasi.
 
Apakah ada negara Eropa yang awalnya menolak, kini terlihat mendukung Indonesia?
 
Tidak ada.
 
Baca:Eropa Diskriminasi Sawit, RI Ajukan Gugatan ke WTO
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif