Inggris menjadi salah satu negara yang mengalami lonjakan tinggi covid-1 akibat varian Omicron. Foto: AFP
Inggris menjadi salah satu negara yang mengalami lonjakan tinggi covid-1 akibat varian Omicron. Foto: AFP

Kaleidoskop Internasional 2021

Kejutan Jelang Akhir Tahun, Kemunculan Varian Covid-19 Omicron

Internasional covid-19 Omicron Varian Omicron Kaleidoskop 2021 Kaleidoskop Internasional 2021
Marcheilla Ariesta • 31 Desember 2021 16:25
Jakarta: Pandemi covid-19 masih terus berlanjut di 2021. Tahun ini menjadi sedikit kelam karena ada beberapa varian yang dikategorikan 'dalam perhatian' oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti Delta dan Omicron.
 
Varian Delta menyerang di awal tahun dengan India sebagai wilayah yang paling terkena dampak. Varian ini menyerang India diduga pada Desember 2020. Namun, kasus Delta melonjak tajam di Negeri Bollywood sejak akhir Maret hingga awal Juni tahun ini.
 
Varian ini telah ditemukan di lebih dari 111 negara, termasuk Indonesia. Selain varian Delta, ada beberapa varian lain dari virus korona yang bermutasi, misalnya varian Alfa, Beta, Gamma, dan Lambda.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di saat varian Delta masih mendominasi, jelang akhir tahun 2021, muncul lagi varian baru yang diidentifikasi sebagai B.1.1.529 atau yang dikenal dengan sebutan Omicron. Varian baru virus korona, Omicron sudah terdeteksi di beberapa negara sejak pertama kali ditemukan di Benua Afrika. Varian ini disebut sebagai salah satu yang sangat cepat dalam menularkan virus.
 
WHO mengatakan, varian ini pertama kali dilaporkan ke mereka dari Afrika Selatan pada 24 November 2021. Situasi epidemiologis di Afrika Selatan telah ditandai oleh tiga puncak berbeda dalam kasus yang dilaporkan, yang terakhir didominasi varian Delta. 
 
“Dalam beberapa minggu terakhir, infeksi telah meningkat tajam, bertepatan dengan deteksi varian B.1.1.529. Infeksi B.1.1.529 terkonfirmasi pertama yang diketahui berasal dari spesimen yang dikumpulkan pada 9 November 2021,” demikian penjelasan WHO yang dipublikasikan pada 26 September lalu.
 
Varian Omicron memiliki sejumlah besar mutasi, beberapa di antaranya mengkhawatirkan. WHO menjelaskan bukti awal menunjukkan peningkatan risiko infeksi ulang dengan varian ini, dibandingkan dengan Variant of Concern (VOC) lainnya. 
 
“Jumlah kasus varian ini tampaknya meningkat di hampir semua wilayah di Afrika Selatan. Diagnostik PCR SARS-CoV-2 saat ini terus mendeteksi varian ini. Beberapa laboratorium telah menunjukkan bahwa untuk satu tes PCR yang banyak digunakan, salah satu dari tiga gen target tidak terdeteksi,” ungkap mereka.
 
Oleh karena itu, WHO mengungkapkan tes ini dapat digunakan sebagai penanda untuk varian Omicron sambil menunggu hasil dari metode penyebaran mutasi virus.
 
“Dengan menggunakan pendekatan ini, varian ini telah terdeteksi pada tingkat yang lebih cepat daripada lonjakan infeksi sebelumnya, menunjukkan bahwa varian ini mungkin memiliki keunggulan pertumbuhan,” ungkapnya.
 
Karenanya, berdasarkan bukti-bukti yang sudah ada, WHO menetapkan varian Omicron sebagai VOC. VOC diartikan sebagai varian virus korona yang menyebabkan peningkatan penularan serta kematian dan bahkan dapat mempengaruhi efektivitas vaksin. WHO meminta agar negara-negara untuk meningkatkan upaya pengawasan dan pengurutan untuk lebih memahami varian SARS-CoV-2 yang beredar.
 
“Individu diingatkan untuk mengurangi risiko covid-19, termasuk kesehatan masyarakat dan tindakan sosial yang terbukti seperti mengenakan masker yang pas, kebersihan tangan, menjaga jarak fisik, meningkatkan ventilasi ruang dalam ruangan, menghindari ruang ramai, dan mendapatkan vaksinasi,” tegas WHO.
 
Omicron disebut juga dapat 'menghindari' kekebalan vaksin. Meski demikian, WHO sangat menganjurkan agar masyarakat tetap mendapatkan vaksin karena masih cukup ampuh melawan penyakit berat yang ditimbulkan virus dengan varian baru ini.
 
Di beberapa negara, sebut saja Amerika Serikat dan Inggris, mereka memberikan vaksin booster untuk meningkatkan kekebalan. Bahkan, Israel memberikan vaksin booster keempat untuk menghalau penyebaran varian Omicron.
 
Berdasarkan data Global Health pada Selasa, 21 Desember lalu, jumlah kasus covid-19 varian Omicron tercatat sebanyak 81.770 yang tersebar di 102 negara. Kasus terbanyak berada di Inggris, disusul dengan Denmark.
 
Di Indonesia juga sudah terdeteksi beberapa kasus Omicron. Diharapkan dengant terus mengingat #pesanibu seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak sosial, maka risiko penularannya akan semakin kecil. Tak lupa untuk mendapatkan vaksinasi yang dapat menghindari diri dari penyakit parah akibat covid-19.
 
Saat ini, pemerintah mulai melakukan antisipasi, salah satunya dengan membatasi kedatangan warga negara asing (WNA) dan mewajibkan seluruh pendatang dari luar negeri, baik melalui udara, laut, maupun darat, untuk menjalani karantina.
 
Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Nomor IMI-269.GR.01.01 Tahun 2021 yang berlaku efektif mulai tanggal 29 November 2021. 
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif