Sekolah Myanmar di Depeyin, Sagaing yang terkena serangan junta. Foto: AFP
Sekolah Myanmar di Depeyin, Sagaing yang terkena serangan junta. Foto: AFP

Serangan Mengerikan Junta Myanmar, 11 Anak Sekolah Tewas

Fajar Nugraha • 20 September 2022 15:03
Yangon: Sedikitnya 11 siswa sekolah tewas dalam serangan udara dan penembakan di sebuah desa Myanmar. Laporan ini disampaikan oleh badan PBB yang mengurus anak-anak (UNICEF), saat sebuah serangan yang menurut junta negara itu menargetkan pemberontak yang tengah bersembunyi.
 
Myanmar berada dalam kekacauan sejak junta militer merebut kekuasaan dalam kudeta pada Februari tahun lalu, dengan hampir 2.300 warga sipil tewas dalam tindakan keras terhadap perbedaan pendapat menurut kelompok pemantau lokal.
 
Wilayah Sagaing di barat laut negara itu telah menjadi saksi beberapa pertempuran paling sengit, dan di tengah bentrokan antara pejuang antikudeta dan militer, seluruh desa telah dibakar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


UNICEF mengutuk insiden Jumat 16 September 2022 di Depeyin, Sagaing.
 
"Pada 16 September, setidaknya 11 anak tewas dalam serangan udara dan tembakan membabi buta di wilayah sipil," kata UNICEF dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Senin, seperti dikutip AFP, Selasa 20 September 2022.
 
Dikatakan sekolah harus aman dan tidak pernah ditargetkan.
 
"Setidaknya 15 anak dari sekolah yang sama masih hilang," ucap UNICEF, menyerukan pembebasan segera mereka dengan aman.
 
Rekaman video yang diperoleh dari kelompok masyarakat setempat menunjukkan ruang kelas dengan darah di lantai, kerusakan pada atap dan seorang ibu menangisi mayat putranya.
 
Junta membenarkan bahwa mereka telah mengirim pasukan dengan helikopter ke desa itu setelah menerima petunjuk bahwa para pejuang dari Tentara Kemerdekaan Kachin -,sebuah kelompok pemberontak etnis,- dan dari milisi antikudeta setempat sedang memindahkan senjata di daerah itu.
 
Militer menuduh pejuang pemberontak menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, dan mengatakan telah menyita ranjau dan bahan peledak dari desa.
 
Direktur Regional Save the Children Asia Hassan Noor menyatakan, belasungkawa kepada keluarga dan mengatakan sekolah harus terlarang dan keselamatan siswa dilindungi.
 
"Berapa banyak lagi insiden seperti ini yang perlu dilakukan sebelum tindakan diambil?" ucap Noor, mendesak Dewan Keamanan PBB dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengambil tindakan cepat.
 
ASEAN sejauh ini telah memimpin upaya diplomatik yang sia-sia untuk menyelesaikan krisis di Myanmar dan para pemimpinnya akan bertemu di Phnom Penh, Kamboja pada November untuk membahas kemajuan terbatas pada rencana perdamaian.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif