Ilustrasi penyelidikan kasus kriminal. (Medcom)
Ilustrasi penyelidikan kasus kriminal. (Medcom)

Inggris Serukan Penggunaan Teknologi untuk Melawan Perdagangan Manusia

Willy Haryono • 30 Juli 2022 12:04
Jakarta: Hari Sabtu ini, 30 Juli 2022, diperingati sebagai Hari Anti Perdagangan Manusia Sedunia. Perdagangan Manusia adalah perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penyembunyian atau penerimaan orang dengan paksa, penipuan atau pengelabuan, dengan tujuan untuk memanfaatkan mereka demi keuntungan bisnis.
 
Singkatnya, para korban telah dirampas kebebasannya, hak-hak dan martabatnya, dan sangat menderita. Pria, wanita dan anak-anak dari segala usia dan dari semua latar belakang bisa menjadi korban kejahatan ini, yang sayangnya sudah terjadi di setiap wilayah dan negara di dunia.
 
Indonesia telah mengambil langkah serius untuk mengatasi masalah tersebut dan membantu para korban. Nelayan ditemukan tengah melakukan kerja paksa di kapal penangkap ikan berbendera Tiongkok dan diselamatkan; korban perdagangan orang telah dipulangkan ke Indonesia dari Arab Saudi; dan pemerintah Indonesia telah mempertahankan Nota Kesepahaman (MoU) yang mencakup perekrutan, penempatan, dan perlindungan pekerja migran dengan negara-negara tujuan besar seperti Arab Saudi dan Malaysia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indonesia memperkirakan bahwa lebih dari 2 dari 6-8 juta orang Indonesia yang bekerja di luar negeri, banyak di antaranya perempuan yang bekerja di sektor domestik, tidak memiliki dokumen atau telah memperpanjang masa berlaku visa mereka, sehingga meningkatkan kerentanan mereka terhadap perdagangan manusia.
 
Secara keseluruhan, jutaan orang di seluruh dunia menderita karena kejahatan serius dari perbudakan modern, dan orang-orang yang paling terdampak atas kejahatan ini adalah masyarakat minoritas. Para pedagang sering menggunakan kekerasan atau agen tenaga kerja palsu dan janji palsu dengan mengatasnamakan pendidikan dan kesempatan kerja untuk mengelabui dan memaksa korban mereka.
 
Menurut perkiraan global dari Organisasi Perburuhan Internasional, 152 juta anak menjadi pekerja anak (pekerjaan apa pun yang merampas masa kanak-kanak, potensi dan martabat mereka, dan yang berbahaya bagi perkembangan fisik dan mental) dan 25 juta orang dewasa dan anak-anak berada dalam kerja paksa (semua pekerjaan atau layanan yang dituntut dari siapa pun di bawah ancaman hukuman dan orang tersebut tidak menawarkan dirinya secara sukarela, termasuk dalam rantai pasokan global), tetapi konsumen seringkali tidak mengetahui sama sekali mengenai kondisi yang dihadapi para pekerja yang membuat barang-barang mereka, atau menghasilkan makanan mereka.
 
Baca:  Indonesia Masuk Daftar Pengawasan Perdagangan Manusia AS, Ini Tanggapan Kemenlu
 
Tema Hari Anti Perdagangan Manusia Sedunia tahun ini, yaitu "Penggunaan dan Penyalahgunaan Teknologi," menyoroti bahwa teknologi telah secara signifikan memperburuk eksploitasi dan perdagangan manusia. Penyalahgunaan teknologi merupakan inti dari model bisnis eksploitasi, dari pedagang yang menggunakan teknologi untuk mengiklankan perempuan dan anak perempuan di platform layanan dewasa, hingga penyelundupan manusia yang mungkin menggunakan teknologi untuk merekrut korban dan mengatur migrasi ilegal.
 
Berdasarkan keterangan tertulis Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, tantangan terkait hal ini adalah memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari solusi. Teknologi memberikan kesempatan untuk menanggapi kebutuhan para korban dan penyintas, untuk meningkatkan proses penuntutan dan untuk membantu penyelidikan, untuk meningkatkan kesadaran dan menurunkan risiko perdagangan manusia.
 
Pemerintah dan masyarakat madani harus bermitra dengan perusahaan teknologi dalam melawan perekrutan dan eksploitasi yang difasilitasi oleh internet dan teknologi. Contoh dari nilai besar dari kemitraan tersebut adalah kampanye peningkatan kesadaran bersama 'Bantuan untuk Ukraina' oleh Kantor Perwakilan Khusus dan Koordinator untuk Memerangi Perdagangan Manusia dan Layanan Khusus Thomson Reuters, yang akan meningkatkan kesadaran seputar risiko perdagangan manusia dan meningkatkan visibilitas hotline perdagangan manusia.
 
Banyak negara bekerja sama dengan Inggris untuk mencegah krisis yang disebabkan oleh perang agresi Rusia sehingga dapat menghindari risiko dari banyaknya orang yang diperdagangkan. Upaya anti-perdagangan manusia kami harus didasarkan pada pendekatan berbasis hak asasi manusia yang berpusat pada korban, trauma, sensitivitas gender, dalam kemitraan dengan masyarakat sipil, bisnis, dan perusahaan teknologi.
 
Penting juga untuk mengakhiri kebal hukum atas kejahatan dunia maya, dan meningkatkan keamanan internet bagi pengguna yang berisiko, termasuk anak-anak dan remaja, termasuk juga mereka yang paling terlibat dan terhubung secara online di dunia saat ini.
 
Hari Anti Perdagangan Manusia Sedunia tahun ini adalah seruan untuk bertindak bagi kita semua untuk meningkatkan upaya mencegah dan memerangi perbudakan modern dan perdagangan manusia dalam segala bentuknya, baik online maupun offline, dan terutama untuk melindungi mereka yang berisiko tinggi, mendukung para korban dan penyintas, mengakhiri kebal hukum atas kejahatan ini dan memastikan ditegakkannya keadilan.
 
Pemerintah Inggris tetap berkomitmen untuk memberantas segala bentuk perbudakan modern, kerja paksa, dan perdagangan manusia sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB 8.7 pada tahun 2030.
 
"Hari internasional yang penting ini menyoroti masalah paling serius yang mungkin belum pernah Anda dengar. Korban perdagangan ini secara efektif menjadi perbudakan modern: bekerja dengan jam kerja yang berlebihan, tidak memiliki kontrak formal dan perlindungan kerja, di mana mereka rentan terhadap kekerasan dan upah mereka tidak dibayar. Orang-orang mati dalam kesengsaraan, sementara yang lain memperoleh keuntungan," ujar Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rob Fenn.
 
"Ini merupakan masalah global, di mana kita harus bahu-membahu untuk menghapuskannya dengan membukanya ke ruang publik. Kita hanya bisa melawannya, dengan meningkatkan kesadaran akan masalah ini dan mengungkapkannya secara terbuka. Saya bangga bahwa banyak program kedutaan kami berusaha untuk mengatasi masalah ini."
 
"Program Akses Digital kami mencoba menghubungkan masyarakat pedesaan ke internet; mendidik mereka tentang hak digital mereka dan bagaimana agar tetap aman saat online; dan memberikan akses panduan gratis bagi mereka yang mengalami masalah hukum. Program Tech Hub kami membantu wanita di daerah pedesaan menciptakan bisnis yang sukses di komunitas mereka. Kita harus terus bekerja sama untuk mencegah perdagangan manusia, untuk sekarang dan selamanya," pungkasnya.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif