Junta Myanmar akan menindak tegas pelaku serangan ke pesawat sipil./AFP
Junta Myanmar akan menindak tegas pelaku serangan ke pesawat sipil./AFP

Junta Myanmar Janji Ambil Tindakan Serius Terkait Serangan ke Pesawat Komersil

Marcheilla Ariesta • 01 Oktober 2022 18:54
Yangon: Pemerintah militer Myanmar berjanji untuk mengambil 'tindakan serius' terhadap pasukan pemberontak yang dituduh melakukan serangan terhadap pesawat komersil. Aksi itu menyebabkan satu penumpang dirawat di rumah sakit, dan merusak badan pesawat.
 
Seorang penumpang dalam penerbangan domestik Myanmar National Airlines mengalami luka di wajah usai peluru menembus kabin pesawat saat bersiap mendarat di Loikaw pada Jumat kemarin. Penerbangan itu membawa 63 penumpang.
 
"Meskipun rusak, pesawat berhasil mendarat di bandara Loikaw karena upaya kru kabin," ucap juru bicara pemerintah junta, Mayor Jenderal Zaw Min Tun, dilansir dari Al Jazeera, Sabtu, 1 Oktober 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penumpang yang terluka telah menerima perawatan di rumah sakit," imbuhnya.
 
Ia menggambarkan serangan terhadap pesawat sipil dan penumpang ini sebagai 'kejahatan militer dan tindakan kriminal'.
 
Baca juga: Pemberontak Myanmar Tembak Pesawat Sipil, Lukai Seorang Penumpang
 
"Yang ingin saya katakan adalah aparat keamanan akan menindak tegas para pelaku atau kelompok yang melancarkan serangan brutal tersebut," ujar Zaw Min Tun dikutip oleh outlet berita Global New Light of Myanmar yang dikelola negara.
 
Pesawat itu, yang terbang dari ibu kota Naypyidaw, mendapat serangan di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Junta menyalahkan pejuang dari Partai Progresif Nasional Karenni, sebuah tentara pemberontak etnis, atas penembakan itu.
 
Media pemerintah merilis foto-foto pesawat yang rusak akibat peluru dan penumpang sedang dirawat. Kantor Myanmar National Airlines di Loikaw mengumumkan bahwa semua penerbangan ke kota itu dibatalkan tanpa batas waktu.
 
Negara bagian Kayah telah mengalami konflik intens antara militer Myanmar dan kelompok perlawanan lokal sejak tentara merebut kekuasaan tahun lalu, menggulingkan pemerintah Aung San Suu Kyi yang terpilih secara demokratis.
 
Kudeta pada 1 Februari 2021 disambut dengan protes nasional yang damai, tetapi setelah tentara dan polisi membunuh demonstran yang menentang kekuasaan militer. Warga sipil di seluruh negeri membentuk unit bersenjata sebagai bagian dari Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) untuk melawan kekuasaan militer.
 
Ribuan orang tewas dalam pertempuran itu dan banyak lagi yang dipenjara oleh militer.
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif