Abu Bakar al-Baghdadi  dikhianati oleh anggotanya sendiri. Foto: AFP
Abu Bakar al-Baghdadi dikhianati oleh anggotanya sendiri. Foto: AFP

Pemimpin ISIS Tewas karena Informasi Anggotanya Sendiri

Internasional isis
Arpan Rahman • 30 Oktober 2019 19:08
Washington: Pasukan komando Amerika Serikat memusatkan perhatian pada persembunyian terakhir Abu Bakar al-Baghdadi dengan bantuan informan yang disusupkan dengan sangat baik.
 
Seorang agen ISIS yang memfasilitasi pergerakan pemimpin teroris di sekitar Suriah dan bahkan membantu mengawasi pekerjaan konstruksi di rumah persembunyiannya di Suriah, menurut para pejabat AS berbasis di Timur Tengah, yang mengetahui operasi tersebut.
 
Pengetahuan penyusup yang terperinci tentang keberadaan Baghdadi serta tata ruang-kamar di tempat perembunyiannya terbukti sangat penting dalam serangan 26 Oktober yang berakhir dengan kematian teroris paling dicari di dunia, kata para pejabat itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Informan tersebut hadir selama serangan di kompleks Baghdadi di Provinsi Idlib, Suriah, dan ia diekstradisi dari wilayah itu dua hari kemudian bersama keluarganya. Pria itu, yang kewarganegaraannya belum terungkap, diperkirakan akan menerima sebagian atau seluruh hadiah USD25 juta atau Rp350 miliar yang telah disediakan untuk kepala Baghdadi, menurut para pejabat. Seorang pejabat mengatakan dia adalah seorang Arab Sunni yang berbalik melawan Islamic State (ISIS) karena salah satu kerabatnya sudah dibunuh oleh kelompok itu.
 
Pembelot ISIS itu telah disusupkan sebagai aset oleh Pasukan Demokrat Suriah (SDF), milisi mayoritas Kurdi yang menjadi pasukan darat untuk kampanye pimpinan AS menghancurkan kekhalifahan yang diproklamasikan oleh kelompok teroris itu di Suriah timur. Para pemimpin SDF kemudian menyerahkan kendali agen tersebut kepada agen intelijen AS, yang menghabiskan waktu beberapa pekan memeriksa dia sampai mereka yakin dia asli, kata para pejabat.
 
Upaya berbulan-bulan untuk mengeksploitasi terobosan intelijen dimulai pada musim panas, tetapi hanya dalam sebulan terakhir kiat informan mengarah pada peluang untuk bertindak.
 
"Diperkirakan cukup lama bahwa orang tersebut mungkin memiliki kunci jawaban," kata seorang pejabat AS yang mengetahui masalah tersebut.
 
"Itu hanya benar-benar serius menjadi jelas dalam beberapa pekan terakhir," bubuhnya, disiarkan dari The Washington Post , Rabu 30 Oktober 2019.

SDF berperan


Sebelumnya The Washington Post melaporkan kontribusi dari operasi ISIS yang tidak memuaskan dalam mengungkap lokasi tempat persembunyian Baghdadi. Pemimpin SDF Jenderal Mazloum Abdi mengatakan kepada NBC News pada Senin bahwa salah satu informan organisasinya telah membantu memimpin komando Amerika ke kompleks Baghdadi, dan mengatakan barang-barang pribadi, termasuk pakaian dalam, diambil dari kompleks untuk pengujian DNA guna mengkonfirmasi kehadiran Baghdadi di gedung itu. Baik Pentagon maupun Gedung Putih tidak secara resmi mengomentari keberadaan penyusup tingkat tinggi di dalam misi untuk membunuh atau menangkap Baghdadi.
 
Jenderal Angkatan Darat AS Mark A. Milley, ketua Kepala Staf Gabungan, menjawab secara tidak langsung ketika ditanya Senin apakah seseorang yang berafiliasi dengan SDF terlibat langsung dalam serangan itu.
 
"Saya tidak akan mengomentari apa yang mungkin atau mungkin tidak terjadi dengan SDF pada serangan," katanya.
 
"Tindakan pada sasaran, pesawat yang masuk, pesawat di atas kepala dan tentara yang melakukan serangan, adalah operasi yang hanya dilakukan AS," tambahnya.
 
Deskripsi informan dan kontribusinya diberikan oleh dua pejabat AS dan seorang pejabat berbasis di Timur Tengah, semuanya mengetahui informasi terperinci tentang serangan Sabtu. Ketiganya berbicara dengan syarat anonim untuk menggambarkan apa itu intelijen yang sangat rahasia dan operasi militer.
 
Seorang pejabat yang mengetahui informan itu mengatakan bahwa lelaki itu adalah seorang fasilitator dan asisten logistik tepercaya yang terlibat dalam membantu Baghdadi bergerak di antara rumah-rumah aman di daerah Idlib sebelum pindah ke kompleks tempat ia menemui ajalnya.
 
Informan, yang digambarkan sebagai partisipan yang berkomitmen dan bahkan antusias dalam misi, memberikan detail pribadi yang penting tentang pemimpin teroris yang tertutup, termasuk fakta bahwa ia selalu bepergian dengan sabuk bunuh diri sehingga ia bisa bunuh diri jika terpojok. Dirinya bahkan sangat dipercaya sehingga kadang-kadang ia mengantar anggota keluarga Baghdadi buat mendapatkan perawatan medis.
 
Kompleks Baghdadi diserbu oleh anggota elit Delta Force militer dan Resimen Ranger ke-75, beberapa pejabat AS mengatakan, secara anonim untuk membahas operasi tersebut. Bersama mereka ada anjing pekerja militer yang mengejar pemimpin militan ketika ia berusaha melarikan diri.
 
Pasukan komando meledakkan jalan mereka ke dalam rumah setelah baku tembak dan kemudian memojokkan Baghdadi di sebuah terowongan di bawah bangunan. Teroris Irak itu membawa tiga anaknya bersamanya, tampaknya sebagai perisai manusia.
 
Baghdadi meledakkan sabuk bunuh diri setelah salah satu anjing militer tim AS membuntutinya. Dia dan ketiga anaknya terbunuh dan tubuh mereka sebagian terkubur di bawah puing-puing ketika langit-langit terowongan runtuh. Dua istrinya juga tewas dalam operasi itu. Anjing-anjing itu hidup.
 
Para pejabat AS mengatakan bahwa informan diperiksa dengan sangat hati-hati ketika agen-agen intelijen berusaha menghindari terulangnya bencana CIA 2009 di Khost, Afghanistan, ketika seorang informan Yordania dengan informasi yang menjanjikan tentang para pemimpin Al Qaeda meledakkan sebuah bom dalam sebuah pertemuan, menewaskan tujuh prajurit operasi intelijen Amerika bersama sopir Yordania dan Afghanistan.
 
Seorang pejabat AS mengatakan informan itu berbalik berkhianat karena ia jelas kehilangan kepercayaan pada ISIS. Terlepas dari bantuannya, rencana untuk membunuh atau menangkap Baghdadi terhambat atau bergeser beberapa kali ketika situasi berubah di lapangan.
 
"Saya tidak ingat berapa kali kami merasa seperti, 'Oke, kami mendapatkannya,'" kata pejabat itu. "Beberapa bulan terakhir, kami merasa itu datang bersama-sama, tetapi itu tidak sampai sekitar bulan terakhir di mana kami merasa, 'Oke, kali ini nyata.'"
 
Waktu serangan itu dipengaruhi oleh risiko bahwa Baghdadi akan pindah. "Itu adalah kekhawatiran, pasukan melakukan pemaksaan," kata pejabat tersebut.


Puncak keberhasilan


Para pejabat AS dan Timur Tengah mengatakan serangan itu adalah puncak dari bertahun-tahun kerja yang melibatkan enam mitra dan sekutu asing. Sejak setidaknya 2015, tim komando AS, disertai oleh pasukan Irak dan Kurdi, ditempatkan di wilayah tersebut secara khusus buat mencari Baghdadi dan para pemimpin senior Negara Islam lainnya.
 
Beberapa tim mencapai sejumlah keberhasilan, seperti pembunuhan kepala propaganda ISIS Abu Muhammad al-Adnani pada 2016. Tapi Baghdadi terbukti menjadi incaran yang jauh lebih sulit diintai karena gerakannya yang sering berpindah dan penolakan untuk menggunakan ponsel atau perangkat yang dapat dilacak lainnya.
 
Seorang pejabat Timur Tengah yang mengetahui rincian pencarian mengatakan fokus perburuan beralih ke Idlib selama musim panas, dengan berbagai tim dari AS dan operator Prancis dan peralatan pengintaian terdepan menjelajahi daerah itu berburu keberadaan Baghdadi.
 
Idlib, sebuah provinsi yang diduduki oleh pelbagai milisi berseteru dan jauh dari pangkalan ISIS, awalnya tampaknya pilihan yang tidak masuk akal, kata para pejabat.
 
"Tidak ada yang bisa masuk ke sana," kata pejabat AS itu, menggambarkannya sebagai penuh dengan ekstremis Islamis. "Rusia menguasai wilayah udara."
 

Dengan bantuan informan, pejabat AS mempersempit fokus mereka ke kota Barisha, di provinsi barat laut Idlib, tempat Baghdadi pindah ke kompleks yang sangat aman lengkap dengan terowongan. Perencanaan serangan itu dimulai Rabu lalu, dengan harapan bahwa kepala teroris itu bisa diambil hidup-hidup.
 

Pasukan penyerang mengepung kompleks dan memberi "seruan," kata seorang pejabat, memberi tahu penghuninya agar menyerah.
 
Hampir selusin anak muncul bersama beberapa orang dewasa, tetapi Baghdadi tetap di dalam, melarikan diri dengan tiga anaknya ke dalam terowongan di mana ia akhirnya terpojok dan memicu rompi bunuh diri.
 
Komandan pasukan serangan memilih untuk tidak mengambil mayat yang tewas bersama Baghdadi yang masih mengenakan rompi bunuh diri, kata pejabat itu. "Orang-orang terbaring di sana mati di bawah semua puing-puing ini," kata pejabat itu. "Kami harus menggali mereka. Dan mereka punya bahan peledak yang peka melekat pada mereka. Itu terlalu berbahaya," cetusnya.
 
Kepala Baghdadi tampaknya utuh setelah ledakan, dan operator AS yakin akan identitasnya bahkan sebelum tes DNA lapangan dilakukan untuk konfirmasi, kata pejabat itu.
 
Salah satu dari pasukan komando menyiarkan tayangannya.
 
"Kami melihatnya! Ini Baghdadi," kata operator itu. "Jackpot."
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif