Aksi unjuk rasa berujung bentrok terjadi di Caracas, Venezuela, 21 Januari 2019. (Foto: AFP/YURI CORTEZ)
Aksi unjuk rasa berujung bentrok terjadi di Caracas, Venezuela, 21 Januari 2019. (Foto: AFP/YURI CORTEZ)

Kekacauan di Venezuela Kian Menekan Presiden Maduro

Internasional venezuela
Arpan Rahman • 23 Januari 2019 13:57
Caracas: Percobaan pemberontakan militer, gelombang aksi protes bernuansa kekerasan dan juga rencana unjuk rasa berskala nasional semakin menekan Presiden Nicolas Maduro, yang posisinya kian terancam sejak negara tersebut jatuh dalam krisis perekonomian.
 
Rangkaian peristiwa sepanjang pekan ini diprediksi sejumlah pihak akan menjadi yang terberat bagi Maduro.
 
Maduro, yang Agustus tahun lalu selamat dari percobaan pembunuhan oleh pesawat tanpa awak alias drone, masih berusaha memimpin Venezuela yang dilanda krisis ekonomi serta sosial.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Senin 21 Januari, 27 petugas keamanan ditangkap atas tuduhan berusaha memicu pemberontakan. Hal tersebut merupakan indikasi Maduro mulai kehilangan dukungan dari beberapa elemen militer.
 
Beberapa jam kemudian, gelombang protes berujung kekerasan melanda sejumlah titik di Caracas. Padahal beberapa lokasi protes itu adalah tempat tinggal basis pendukung Maduro.
 
Massa yang marah membakar barikade polisi, sementara pasukan keamanan menembakkan gas air mata. Unjuk rasa di seantero ibu kota ini dilakukan dalam menentang tingginya berbagai harga barang dan rendahnya pendapatan masyarakat.
 
"Situasi saat ini benar-benar sudah tidak dapat diterima lagi," ucap Eduardo Solano, seorang ilmuan komputer yang ikut berdemo di Diego Lozada.
 
"Sudah tidak penting lagi apakah gaji Anda berupa bolivar atau dolar, semuanya sudah tidak mencukupi lagi," lanjut dia.
 
Solano dan para pengunjuk rasa lainnya membubarkan diri menjelang tengah malah. Selasa 22 Januari pagi, banyak area di Caracas dipenuhi bebatuan, dan berbagai ruas jalan dikotori bekas benda-benda terbakar.
 
Pemberontakan gagal dan bentrokan ini terjadi menjelang rencana unjuk rasa berskala nasional dalam menentang Maduro yang dijadwalkan berlangsung hari ini, Rabu 23 Januari 2019.
 
Venezuela, negara kaya minyak, dilanda krisis politik dan ekonomi yang parah. Hiperinflasi di Venezuela membuat mata uang bolivar hampir tidak bernilai. Hal tersebut memicu merosotnya pasokan makanan, obat-obatan dan berbagai barang kebutuhan dasar lainnya. Lebih dari 3 juta warga Venezuela telah pergi ke negara lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
 
Melanjutkan kekuasaan Hugo Chavez yang meninggal pada 2013, Maduro menolak mundur di tengah krisis. Saat gelombang unjuk rasa meletus pada 2017, Maduro mengerahkan pasukan Garda Nasonal, yang berujung pada tewasnya sekitar 120 orang dan melukai ratusan lainnya.
 
Baca:Maduro Tuduh AS Berusaha Lakukan Kudeta
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif