medcom.id, Boston: Pelaku bom Boston akhirnya divonis hukuman mati oleh pihak pengadilan Amerika Serikat (AS). Dzokhar Tsarnaev diperkirakan akan dieksekusi mati dengan suntikan.
Dzhokhar Tsarnaev sebelumnya dinyatakan bersalah atas keterlibatannya dalam pengeboman maraton Boston dua tahun lalu. Insiden pada April 2013 itu menewaskan tiga orang dan melukai 264 orang lainnya.
Dewan juri Boston, yang terdiri dari tujuh pria dan lima perempuan, mencapai keputusan pada hari Jumat (15/5/2015) dalam pengadilan fase penetapan hukuman final setelah berdikusi selama lebih dari tiga hari.
"Beberapa juri menangis.Tsarnaev duduk dengan kepala tertunduk," tulis Wartawan VOA Fatima Tlisova dalam akunt Twitternya, seperti dikutip VOA Indonesia, Sabtu (16/5/2015).
Dewan juri berketetapan menetapkan hukuman mati berdasarkan pertimbangan yang memberatkan dan meringankan. Suara bulat memutuskan bahwa Tsarnaev harus dihukum mati.
Selain itu, Dewan juri harus mencapai suara bulat tentang keputusan hukuman mati terhadap Tsarnaev. Jika tidak, Tsarnaev harus dipenjara seumur hidup, tanpa pembebasan bersyarat.
Namun keputusan kepada Tsarnaev ini ditentang oleh sebuah kelompok dari "Veterans for Peace". Mereka melakukan unjuk rasa memrotes hukuman mati di depan gedung Pengadilan Federal di kota Boston sementara dewan juri mempertimbangkan keputusan.
Pria yang kini berusia 21 tahun, dinyatakan bersalah April lalu atas 30 dakwaan atas terorisme dan lainnya. Dari dakwaan tersebut, 17 memungkinkannya untuk dijatuhi hukuman mati.
Para juri diharuskan untuk mengisi formulir keputusan yang panjang dan rumit yang meminta mereka untuk menyampaikan 12 faktor yang memberatkan terdakwa untuk menerima hukuman mati dan 21 faktor yang meringankan yang menurut pembelanya mendukung keputusan untuk hukuman penjara seumur hidup.
Dewan juri kemudian harus mempertimbangkan faktor meringankan lainnya yang mereka temukan dan membandingkannya dengan faktor yang memberatkan untuk memutuskan hukuman yang harus dijatuhkan pada Tsarnaev.
Di proses persidangan fase penetapan hukuman final, jaksa menolak argumen bahwa Tsarnaev di bawah pengaruh kuat kakaknya yang radikal dan lebih tua, Tamerlan, yang tewas ditembak polisi.
"Walaupun saat pemboman marathon itu Tsarnaev baru berusia 19 tahun, Dzhokhar Tsarnaev sudah cukup dewasa untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, dan ia ingin membalas dendam atas perang-perang yang dilancarakan AS di Iran dan Afghanistan," sebut Dewan Juri.
Serangan bom maraton Boston merupakan salah satu serangan teroris yang banyak memakan korban di Amerika sejak 11 September 2011.
Dua bom buatan sendiri dikemas dengan benda-benda tajam, meledak dekat garis finish maraton itu 15 April 2013. Kakak beradik Tsarnaev juga menembak mati polisi di Institut Teknologi Massachusetts (MIT) beberapa hari kemudian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News