Mengenakan pakaian militer berbintang lima, Castro menegaskan Kuba dan AS akan bekerja sama dalam menyingkirkan segala perbedaan "tanpa menanggalkan satu pun prinsip dasar masing-masing negara."
Warga Havana berkumpul di dekat televisi di rumah, sekolah dan kawasan bisnis untuk mendengarkan siaran bersejarah, yang juga bersamaan dengan pernyataan Presiden AS Barack Obama di Washington. Murid sekolah bersorak-sorai mendengar pidato Castro dan Obama.
Di Universitas San Geronimo di Havana, pengumuman Castro disambut dentingan lonceng menara. Euforia pengumuman bergemar di seluruh Kuba.
"Untuk warga Kuba, saya rasa ini adalah suntikan oksigen, suatu impian yang terkabul, karena akhirnya kita semua dapat menyingkirkan perbedaan," ujar Carlos Gonzalez, seorang ahli teknologi, seperti dikutip Associated Press.
"Ini merupakan awal dari jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi kedua negara," sambung dia.
Sementara itu Guillermo Delgado, pensiunan berumur 72 tahun, menilai pengumunan ini sebagai kabar luar biasa. "Ini merupakan kemenangan bagi Kuba karena normalisasi didapat tanpa meninggalkan prinsip dasar negara," sebut dia.
"Untuk Obama, saya rasa itu adalah langkah spektakuler. Semua negara harus mengubah kebijakan-kebijakan tak masuk akalnya," tambah Delgado.
Kakak Castro, Fidel, memimpin pemberontakan pada 1959 yang menggulingkan diktator Fulgencio Batista. AS mengakui pemerintahan baru Kuba ketika itu, tapi memutuskan tali diplomasi pada 1961 karena berbagai kebijakannya dinilai terlampau menyimpang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News