Demonstran pendukung Evo Morales memblokade sebuah ruas jalan di kota El Alto, Bolivia, 11 November 2019. (Foto: AFP/AIZAR RALDES)
Demonstran pendukung Evo Morales memblokade sebuah ruas jalan di kota El Alto, Bolivia, 11 November 2019. (Foto: AFP/AIZAR RALDES)

Militer dan Kepolisian Bolivia Sepakat Antisipasi Kekerasan

Internasional bolivia
Willy Haryono • 12 November 2019 09:44
La Paz: Militer Bolivia sepakat untuk menggelar operasi gabungan bersama jajaran kepolisian dalam mencegah dan mengantisipasi aksi kekerasan usai mundurnya Evo Morales dari kursi presiden, Senin 11 November.
 
Awalnya militer Bolivia menolak ikut campur, karena menilai masalah seputar mundurnya Morales sebagai isu politik.
 
"Komando militer telah menjadwalkan operasi gabungan bersama polisi untuk mencegah pertumpahan darah dan pertikaian antar masyarakat Bolivia," tegas Jenderal Williams Kaliman dalam sebuah pidato di televisi, dikutip dari AFP, Selasa 12 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kaliman akhirnya mau turun tangan usai Kepala Kepolisian kota La Paz, Jose Barrenechea, meminta bantuan kepada pihak militer. Barrenechea mengaku tidak sanggup jika hanya jajarannya yang harus menghadapi lautan pedemo.
 
Senator yang akan menggantikan Morales, Jeanine Anez, bertekad akan menggelar pemilihan umum demi memulihkan situasi di Bolivia.
 
"Kita akan menggelar pemilu," tutur Anez kepada awak media di La Paz. "Akan ada sebuah proses elektoral yang merefleksikan keinginan semua warga Bolivia," lanjut dia.
 
Anez , seorang Wakil Ketua Senat Bolivia, secara konstitusi adalah tokoh yang memang akan menjadi presiden interim jika petahana tidak bisa lagi berkuasa. Ia kemungkinan akan memimpin Bolivia untuk sementara waktu hingga Januari tahun depan.
 
Para anggota parlemen Bolivia akan berkumpul hari ini untuk memulai proses penunjukan Anez sebagai presiden interim.
 
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) telah menyuarakan kekhawatiran mereka usai Morales dan puluhan menteri serta pejabat tinggi Bolivia mengundurkan diri. Mereka khawatir aksi kekerasan di Bolivia bisa benar-benar meletus tak terkendali di tengah vakum kekuasaan.
 
Unjuk rasa di Bolivia dipicu tudingan kubu oposisi bahwa proses penghitungan suara dalam pemilu bulan lalu dipenuhi kecurangan.
 
Negara sahabat Bolivia, Meksiko, mengaku telah memberikan suaka kepada Morales. Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard mengaku permohonan suaka disampaikan langsung Morales via sambungan telepon.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif