Presiden AS Donald Trump di Washington, 15 Maret 2019. (Foto: AFP/NICHOLAS KAMM)
Presiden AS Donald Trump di Washington, 15 Maret 2019. (Foto: AFP/NICHOLAS KAMM)

Penembakan Selandia Baru, Trump Komentari Supremasi Kulit Putih

Internasional Penembakan Selandia Baru
Willy Haryono • 16 Maret 2019 09:15
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai penembakan brutal di Selandia Baru yang menewaskan 49 orang tidak mengindikasikan tren berbahaya dari kelompok supremasi kulit putih.
 
Trump ditanya mengenai pelaku penembakan -- Brenton Tarrant asal Australia -- yang mengeluhkan bahwa orang kulit putih kini sudah semakin muak dengan banyaknya pendatang dan imigran di sejumlah negara Barat. Menurutnya, penembakan tersebut hanya kasus terisolasi.
 
"Saya rasa tidak (ada indikasi tren berbahaya). Saya rasa mereka adalah sekelompok kecil orang dengan masalah yang sangat, sangat serius," tutur Trump kepada awak media di Gedung Putih di Washington, seperti dilansir dari laman AFP.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi jika melihat kasus di Selandia Baru, mungkin demikian (ada indikasi tren supremasi kulit putih). Saya belum tahu banyak mengenai hal tersebut," lanjut dia.
 
Meski Trump menyebut penembakan di Selandia Baru "mengerikan," komentarnya kurang menyentuh terhadap ancaman yang lebih luas atas supremasi kulit putih dan gerakan sayap kanan. Selama ini, Trump dikecam sejumlah pihak karena kurang 'keras' saat mengomentari hal-hal terkait gerakan sayap kanan.
 
Tarrant menyerang dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat 15 Maret. Dia menyiarkan aksinya via media sosial, dan juga sempat merilis sebuah manifesto berisi sejumlah teori konspirasi.
 
Pria 28 tahun itu juga sempat menyinggung Trump, dan menyebut sebagainya "simbol pembaruan identitas kulit putih." Saat ditanya apakah pernah melihat manifesto Tarrant, Trump menjawab: "Tidak."
 
Sebelumnya, Trump mengaku telah berbicara dengan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern untuk mengekspresikan "solidaritas." Trummp juga sempat mengatakan, "kami mencintai Selandi Baru."
 
Pada 2017, banyak pihak termasuk beberapa orang terdekat Trump terkejut karena sang presiden menolak mengecam aksi unjuk rasa neo-Nazi di Charlottesville, Virginia. Demonstrasi tersebut berujung bentrokan dengan gerakan sayap kiri. Trump menyalahkan keduanya.
 
Hari ini, Sabtu 16 Maret 2019, Tarrant hadir di pengadilan distrik Christchurch. Dia muncul dengan mengenakan baju tahanan berwarna putih dan kedua tangannya terborgol. Tarrant duduk di hadapan hakim yang membacakan satu dakwaan pembunuhan. Serangkaian dakwaan lainnya diyakini akan dilayangkan kepada Tarrant.
 
Mantan instruktur kebugaran itu sempat melihat ke arah media di ruang sidang. Proses persidangan tertutup untuk umum atas alasan keamanan. Tarrant tidak mengajukan memohon skema uang jaminan, dan langsung dibawa ke ruang tahanan hingga persidangan berikutnya pada 5 April mendatang.
 
Baca:Teroris Brenton Tarrant Muncul di Pengadilan Selandia Baru
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif