Berbicara kepada surat kabar New York Times di Cleveland, seperti dikutip The Guardian, Kamis (21/7/2016), Trump mengatakan negara-negara NATO harus memahami pendekatannya terhadap pertahanan kolektif. Ia menyebut bisa saja perjanjian AS dengan NATO dibatalkan jika beban pertahanan dirasa terlalu dilimpahkan kepada Negeri Paman Sam.
Selama ini Trump berulang kali menegaskan bahwa negara sekutu harus mau mengeluarkan lebih banyak dana untuk pertahanan dan tidak melulu mengandalkan AS.
"Saya lebih memilih melanjutkan perjanjian yang ada saat ini (dengan NATO), tapi dengan syarat negara-negara anggota harus mengakhiri ketergantungannya kepada AS," ujar Trump.
Saat ditanya apakah AS akan membela negara-negara Baltik jika seandainya suatu saat diserang Rusia, Trump menjawab dirinya akan terlebih dahulu mengukur tingkat kontribusinya.
"Jika mereka sudah memenuhi kewajibannya kepada kita, jawabannya iya," tutur pengusaha real-estate itu.
Trump juga menegaskan kembali dirinya akan menarik pasukan AS yang tersebar di seluruh dunia. Rencana Trump ini memicu kekhawatiran beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan, yang menjadi tuan rumah bagi puluhan ribu prajurit AS.

Pangkalan militer AS di Okinawa, Jepang. (Foto: AFP)
"Kita menghabiskan banyak dana untuk militer hanya untuk kehilangan USD800 miliar (dalam sektor perdagangan)," ucap Trump. "Itu bukan langkah yang pintar."
Sementara itu mengenai percobaan kudeta di Turki, Trump menilai AS harus mencoba "memperbaiki masalah dalam negeri" terlebih dahulu sebelum ikut campur dengan urusan domestik negara lain.
"Menurut saya kita tidak berhak menggurui. Lihat apa yang terjadi di negara kita. Bagaimana kita bisa menggurui saat orang-orang menembaki polisi secara brutal?" tanya Trump.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News