NEWSTICKER
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Foto: AFP)
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Foto: AFP)

Sekjen PBB Serukan Gencatan Senjata di Idlib

Internasional krisis suriah
Willy Haryono • 22 Februari 2020 15:22
New York: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyerukan penerapan gencatan senjata di Idib, benteng pertahanan terakhir pemberontak Suriah yang terus digempur pasukan pemerintah. Dalam membombardir Idlib, Suriah dibantu pasukan Rusia.
 
"Sejak hampir satu tahun terakhir, kita semua telah melihat rentetan serangan darat yang dilancarkan Suriah dengan dibantu gempuran udara Rusia," ucap Guterres, dikutip dari Asharq al-Awsat, Jumat 21 Februari 2020.
 
"Mimpi buruk kemanusiaan yang dialami warga Suriah harus dihentikan sekarang juga," sambung dia kepada awak media di New York.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah sepakat untuk lebih intens mendiskusikan masalah serangan di Idlib. Erdogan sebelumnya telah meminta agar Rusia berhenti membantu Suriah dan mengurangi kekerasan di seantero Idlib.
 
Mark Lowcock, Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, mengatakan bahwa aksi kekerasan di Idlib telah mencapai "level baru yang mengerikan." Sejak Suriah mulai menggempur Idlib pada Desember tahun lalu, Lowcock telah mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan tegas demi menghindari terjadinya bencana kemanusiaan.
 
"Bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21 hanya bisa dicegah jika DK PBB, dan negara-negara lain yang berpengaruh, mendahulukan kepentingan kemanusiaan. Satu-satunya opsi hanyalah gencatan senjata," ungkap Lowcock.
 
Operasi militer Suriah dan Rusia di Idlib telah memicu eksodus sekitar 900 ribu warga. Agensi Kemanusiaan PBB, OCHA, mengatakan bahwa 60 persen dari total 900 ribu orang itu adalah anak-anak.
 
"Kami menyerukan gencatan senjata sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah," sebut juru bicara OCHA, Jens Laerke dalam konferensi pers di Jenewa.
 
Turki, yang saat ini menampung 3,7 juta pengungsi Suriah, mengaku sudah tidak mampu lagi menerima gelombang baru.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif