NEWSTICKER
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam sebuah acara di Daytona, Florida, 16 Februari 2020. (Foto: AFP/SAUL LOEB)
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam sebuah acara di Daytona, Florida, 16 Februari 2020. (Foto: AFP/SAUL LOEB)

Trump Minta Rusia Berhenti Dukung 'Kekejaman' Suriah

Internasional krisis suriah
Willy Haryono • 17 Februari 2020 10:08
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Rusia untuk berhenti mendukung "kekejaman" rezim Suriah. Pernyataan disampaikan Trump di tengah kekhawatiran AS terhadap berlangsungnya operasi penyerangan di Idlib yang dilakukan Suriah bersama Rusia.
 
Berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan via telepon, Trump "mengekspresikan kekhawatiran mengenai aksi kekerasan di Idlib dan berharap Rusia dapat segera berhenti mendukung kekejaman rezim (Presiden Suriah Bashar) Assad."
 
Pasukan Assad telah merebut sejumlah posisi baru dalam operasi besar-besaran di Idlib, Minggu 16 Februari. Idlib merupakan markas pertahanan terakhir kelompok pemberotak dan ekstremis di Suriah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Didukung serangan udara Rusia, pasukan Suriah terus menggempur idlib dan beberapa area di provinsi Aleppo serta Latakia sejak Desember 2019.
 
Minggu kemarin, dilansir dari AFP, Senin 17 Februari 2020, grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan bahwa pasukan Suriah telah menguasai semua desa dan kota kecil di sekitar Aleppo untuk kali pertama sejak 2012.
 
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, operasi penyerangan Suriah yang didukung Rusia telah memicu gelombang pengungsian terbesar dalam perang sipil di negara tersebut. Desember lalu, total 800 ribu warga Suriah telah kehilangan tempat tinggal dan mencoba melarikan diri ke beberapa negara terdekat.
 
Selain membahas Suriah, Trump juga mendiskusikan konflik Libya dengan Erdogan. Trump "menekankan bahwa intervensi kekuatan asing di Libya hanya akan memperburuk situasi."
 
Libya terjerumus dalam kekacauan sejak pemberontakan yang didukung NATO menewaskan diktator Moamer Gaddafi pada 2011. Sejak kematiannya, dua kubu utama mencoba menguaasai sepenuhnya Libya.
 
Turki dan Qatar mendukung pemerintahan resmi Libya yang diakui PBB. Sementara Rusia, Prancis, Uni Emirat Arab dan Mesir mendukung tokoh oposisi, Khalifa Haftar.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif