Pekerja beraktivitas di pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran selatan, 26 Oktober 2010. (Foto: AFP/Fars/HAMED MALEKPOUR)
Pekerja beraktivitas di pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran selatan, 26 Oktober 2010. (Foto: AFP/Fars/HAMED MALEKPOUR)

AS Tuduh Iran Lakukan 'Pemerasan Nuklir'

Internasional amerika serikat nuklir iran iran
Willy Haryono • 06 November 2019 06:11
Washington: Amerika Serikata menuduh Iran melakukan 'pemerasan nuklir' usai Teheran bertekad akan melanjutkan program peningkatan pengayaan uranium di sebuah situs di Fordow.
 
Produksi pengayaan uranium Iran kini telah mencapai lima kilogram per hari, dari hanya 450 gram dua bulan lalu. Peningkatan ini merupakan kelanjutan dari langkah AS yang memutuskan menarik diri dari perjanjian nuklir Iran tahun lalu.
 
"Iran tidak memiliki alasan kredibel untuk meningkatkan program pengayaan uranium mereka, baik itu di Fordow atau tempat lain. Iran sudah jelas berusaha melakukan pemerasan melalui nuklir, yang hanya akan memperdalam isolasi politik serta ekonomi mereka," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dikutip dari AFP, Selasa 5 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami akan terus menerapkan tekanan maksimal terhadap rezim (Iran) hingga mereka bersedia menghentikan perilaku saat ini," lanjutnya.
 
Presiden Hassan Rouhani mengatakan Iran akan melanjutkan program pengayaan uranium di sebuah fasilitas dekat kota Qom. Fasilitas Fordow tersebut sempat dibekukan di bawah perjanjian nuklir 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
 
Kemenlu AS mengaku sedang menunggu Agensi Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memverifikasi kebenaran dari pernyataan Iran mengenai pengayaan uranium.
 
Status JCPOA menjadi tidak jelas usai Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian tersebut. Tidak hanya menarik diri, Trump juga menjatuhkan rangkaian sanksi baru kepada Iran.
 
Geram atas tindakan AS, Iran pun turut melanggar JCPOA dan bertekad menambah pengayaan uranium. Peningkatan produksi ini dimungkinkan karena Iran menggunakan dua mesin sentrifugal terbaru, salah satunya terlarang dalam JCPOA.
 
Salehi menambahkan Iran tengah mengembangkan prototipe sentrifugal terbaru, IR-9, yang dapat bekerja 50 kali lebih cepat dari mesin IR-1.
 
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menegaskan, bahwa selama negara-negara yang menandatangani JCPOA tidak membela Iran dari sanksi AS, maka Teheran akan terus melanjutkan pengayaan uranium.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif