NEWSTICKER
Mantan kepala penjara Alejandro Giammattei telah terpilih sebagai presiden Guatemala. Foto: AFP.
Mantan kepala penjara Alejandro Giammattei telah terpilih sebagai presiden Guatemala. Foto: AFP.

Mantan Kalapas Menang di Pilpres Guatemala

Internasional guatemala politik guatemala
Arpan Rahman • 12 Agustus 2019 18:15
Guatemala City: Mantan kepala penjara Alejandro Giammattei telah terpilih sebagai presiden Guatemala, demikian putusan Mahkamah Pemilu negara itu.
 
Calon konservatif tersebut meraup 59 persen suara, sedangkan lawannya dari sayap kiri Sandra Torres meraih 41 persen, dengan 95 persen suara sudah dihitung. Mantan ibu negara, Torres mencalonkan diri kali ketiga, sementara Giammattei melakukan upaya keempatnya.
 
Rakyat Guatemala menyebut ketidakamanan sebagai perhatian utama mereka, disusul oleh pengangguran, biaya hidup yang tinggi, dan korupsi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Itu tidak mudah, tetapi tujuannya tercapai. Merupakan kehormatan besar untuk menjadi presiden negara ini yang sangat saya cintai," kata Giammattei.
 
"Kita akan membangun kembali Guatemala. Saya tidak punya kata-kata untuk mengatakan betapa bersyukurnya saya," cetusnya, dinukil dari BBC, Senin 12 Agustus 2019.
 
Presiden Guatemala terpilih akan menjabat selama empat tahun. Presiden petahana Jimmy Morales tidak maju mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.
 
Karena tidak satupun dari 19 kandidat pada pilpres putaran pertama yang diadakan 16 Juni mendapatkan 50 persen suara yang dibutuhkan buat menang secara langsung, dua kandidat teratas maju ke putaran kedua atau terakhir. Pemungutan suara sudah diadakan pada Minggu.
 
Alejandro Giammattei akan mulai menjabat pada Januari 2020. Calon berusia 63 tahun ini mewakili partai sayap kanan Vamos (Let's Go) dan upaya keempatnya untuk menjadi presiden. Setiap kali, ia mencalonkan diri untuk pilpres yang berbeda.
 
Giammattei adalah dokter ahli yang diangkat menjadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan Guatemala pada 2006. Di tahun yang sama, ia memimpin operasi kontroversial untuk mengendalikan penjara Pavon, yang telah dikuasai tahanan selama satu dekade. Tujuh narapidana tewas selama razia dari pasukan keamanan.
 
Giammattei adalah di antara delapan orang yang dituduh atas insiden itu dan setelah menghabiskan 10 bulan di penahanan pra-persidangan, ia dibebaskan karena kurangnya bukti.
 
Dia berada di urutan keempat dalam pilpres 2015. Giammattei berjanji membangun "tembok kemakmuran" mencegah warga Guatemala bermigrasi ke Amerika Serikat. Demi mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin, ia ingin menarik lebih banyak investasi asing ke Guatemala dengan memperkuat perlindungan yang diberikan pada properti pribadi.
 
Sementara mantan ibu negara Sandra Torres, 63, gagal dalam dua upaya sebelumnya untuk terpilih sebagai presiden, tetapi memenangkan putaran pertama pemungutan suara dengan 26 persen suara.
 
Torres menikah dengan Alvaro Colom, yang memerintah Guatemala 2008-2012, dan yang saat ini sedang diselidiki atas dugaan penipuan.
 
Dia bercerai pada 2011 untuk memutus aturan yang melarang kerabat dekat presiden menggantikan jabatan. Saat itu, dia berkata bahwa "Saya menceraikan suami saya, tetapi saya akan menikah dengan rakyat". Dia juga mengaku merasa "sangat sulit" meninggalkan "pernikahan yang penuh cinta" dengan Colom.
 
Pada 2011, pencalonannya ditolak Mahkamah Konstitusi, tetapi ia diizinkan untuk mencalonkan diri pada 2015. Saat itu, ia memiliki cukup suara yang membawanya ke putaran kedua di mana ia dikalahkan oleh Jimmy Morales dengan selisih telak hampir 35 persen suara.
 
Torres mencalonkan diri untuk partai Persatuan Harapan Nasional (UNE) yang berhaluan demokratik sosialis. Dia dan partainya sedang diselidiki atas dugaan pembiayaan kampanye ilegal selama pilpres terakhir, yang dia tepis.
 
Sebelum pemilihan, jajak pendapat menunjukkan bahwa Torres sangat populer di kalangan pemilih di daerah pedesaan Guatemala karena program sosial mantan suaminya, tetapi di daerah perkotaan tuduhan korupsi memukulnya dengan keras.
 
Rakyat Guatemala mengatakan kepada para jajak pendapat bahwa kekhawatiran utama mereka adalah rasa tidak aman yang mengatakan bahwa mengatasi tingkat kejahatan yang tinggi dan serangan bersenjata harus menjadi prioritas bagi siapa pun yang memenangkan pemilihan.
 
Presiden Morales menandatangani perjanjian "Negara Aman Ketiga" pada 27 Juli, hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam Guatemala dengan tarif dan sanksi lainnya.
 
Menjelang pilpres, muncul fakta bahwa dua favorit pemenang telah dicegah maju dalam pemilihan. Mantan jaksa agung, Thelma Alana, dan Azury Rios, putri mendiang penguasa militer, Refrain Rios Mont dilarang mencalonkan diri oleh pengadilan konstitusional Guatemala yang membuat marah warga yang berencana memilih mereka.
 
Banyak orang Guatemala juga muak dengan skandal korupsi yang telah mengguncang negara tersebut. Empat tahun setelah protes anti-korupsi berskala besar memaksa Presiden Otto Perez Molina saat itu mengundurkan diri, banyak yang merasa belum cukup dilakukan oleh pemerintah Jimmy Morales guna memerangi korupsi.
 
Korupsi tetap menjadi salah satu dari tiga masalah teratas yang ingin diamati oleh pemilih. Tetapi Giammattei dan Torres tidak mengatakan apakah mereka berencana memperbarui mandat Komisi Internasional PBB untuk Impunitas di Guatemala, yang akan berakhir pada September.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif