Seorang pria berusaha memadamkan barikade terbakar yang dipasang demonstran pro-Morales di pinggiran kota Sacaba, Bolivia, 18 November 2019. (Foto: AFP/RONALDO SCHEMIDT)
Seorang pria berusaha memadamkan barikade terbakar yang dipasang demonstran pro-Morales di pinggiran kota Sacaba, Bolivia, 18 November 2019. (Foto: AFP/RONALDO SCHEMIDT)

Petani Bolivia Bertekad Lawan Presiden Interim

Internasional bolivia
Medcom • 19 November 2019 12:37
Sacaba: Sembilan warga sipil ditembak pasukan keamanan Bolivia pekan lalu. Di lokasi penembakan di kota Sacaba, sekelompok petani daun koka mengheningkan cipta dan juga bertekad akan melawan Presiden interim Bolivia, Jeanine Anez.
 
Para petani itu adalah pendukung Evo Morales, presiden Bolivia yang mengundurkan diri pada 10 November lalu. Morales mundur di tengah aksi unjuk rasa yang dipicu tuduhan adanya kecurangan dalam pemilihan umum bulan lalu.
 
Terkait penembakan, para petani koka menuding prajurit dan polisi Bolivia sengaja menembaki demonstran pro-Morales yang berusaha memasuki kota Cochabamba pada Jumat 15 November. Penembakan itu adalah insiden paling mematikan sejak aksi protes dimulai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelum terjadi penembakan, Anez telah mengeluarkan sebuah dekrit presiden yang memberikan imunitas kepada aparat keamanan dalam menangani demonstran.
 
"Unjuk rasa sudah beberapa kali terjadi di Bolivia, tapi aparat keamanan tidak menggunakan peluru (tajam). Kini mereka bisa bebas menembakkan senjata, dan tidak terkena hukuman," kata Jaime Marcas, salah satu petani koka, dalam keterangan di situs AFP, Selasa 19 November 2019.
 
Usai penembakan, akses jalan dari Sacaba menuju kota Cochabamba -- basis pendukung Morales -- telah diblokade aparat keamanan.
 
"Mereka tidak mengizinkan kami memasuki kota. Mereka memeriksa segalanya, sudah seperti kota perbatasan saja," tutur petani lainnya, Leonor Gonzalez, kepada AFP.
 
Gonzalez mengaku ditipu petugas yang mengatakan akan mengizinkan wanita memasuki Cochabamba. Namun setelah itu, menurut Gonzalez, petugas menembaki sejumlah pria yang hendak memasuki Cochabamba.
 
Menteri Dalam Negeri Bolivia Arturo Murillo memicu kontroversi usai melontarkan wacana bahwa penembakan di Sacaba pada kenyataannya terjadi antar demonstran demi menarik simpati.
 
Thomas Becker, seorang pengacara Amerika Serikat dari Klinik HAM Internasional di Harvard University, menolak teori Murillo. Ia mengaku telah mendatangi kamar jenazah di kota Sacaba, tempat para korban tewas dibawa.
 
Becker mengatakan kepada AFP via telepon bahwa dirinya telah mewawancarai 50 orang di Sacaba. Mereka semua berkukuh tidak ada satu pun warga sipil yang membawa senjata api saat berunjuk rasa.
 
Penulis: Rifqi Akbar

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif