Pertemuan Menlu Retno Marsudi dengan Dubes Palestina untuk PBB Riyadh Mansour di New York, Amerika Serikat. (Foto: Dok. Kemenlu RI).
Pertemuan Menlu Retno Marsudi dengan Dubes Palestina untuk PBB Riyadh Mansour di New York, Amerika Serikat. (Foto: Dok. Kemenlu RI).

Palestina Inginkan Indonesia Bantu Perjuangan Melalui DK PBB

Internasional indonesia-palestina indonesia-pbb
Fajar Nugraha • 22 Januari 2019 20:15
New York: Memulai tugas sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melakukan pertemuan. Pertemuan pertama dilakukan dengan Palestina.
 
Menlu Retno melakukan pertemuan dengan Duta Besar Palestina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Riyadh Mansour di kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York, Amerika Serikat (AS) Senin 21 Januari waktu setempat. Ada alasan mengapa pertemuan dengan Palestina diletakkan sebagai pertemuan pertama dari rangkaian pertemuan yang dilakukan Menlu selama empat hari di New York.
 
Baca juga: Indonesia Terus Dukung Palestina di Tahun 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Pertemuan ini untuk menunjukkan isu Palestina merupakan prioritas politik luar negeri Indonesia dan bukan hanya politik luar negeri Republik Indonesia, tetapi juga selama kita menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB isu Palestina juga akan menjadi prioritas,” ujar Menlu Retno dalam rekaman video yang diterima dari Kemenlu RI, Selasa 22 Januari 2019.
 
“Tadi kita juga berbicara mengenai masalah beberapa hal beberapa perkembangan dan meminta masukan juga dari palestina mengenai hal-hal yang dapat perjuangkan bersama selama Indonesia duduk di dalam DK PBB. Kebetulan 15 Januari kemarin, Palestina juga menjadi ketua anggota G77 (kelompok negara berkembang). Tadi Indonesia menyampaikan selamat atas keketuaan Palestina di G77,” tuturnya.
 
“Beberapa hal dari Palestina pertama adalah apresiasi, Palestina sangat mengapresiasi konsistensi Pemerintah Indonesia untuk terus membantu,” jelasnya.
 
Harapan kedua yang disampaikan Palestina kepada Indonesia adalah membahas mengenai masalah pengungsi yang dalam hal ini khususnya yang dikelola United Nations Relief and Works Agencyfor Palestine Refugees in the Near East (UNRWA). Tahun lalu ada masalah pendanaan UNRWA, maka harus lebih memberikan perhatian dan kontribusi lebih. Indonesia juga sudah memberikan kontribusi berlibat-libat. Oleh karena itu untuk tahun 2019 masalah yag sama akan dihadapi ada kekurangan dana yang diperlukan UNRWA untuk mengelola pengungsi yang jumlahnya lebih dari 5 juta jiwa tersebut.
 
“Tadi saya sudah sampaikan bahwa Indonesia siap untuk memberikan kontribusi paling tidak seperti kontribusi yang diberikan pada 2018,” imbuh Menlu Retno.
 
Selama tahun 2018, bantuan Indonesia untuk UNRWA, baik yang berasal dari pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, maupun perorangan (philanthropist) telah mencapai nilai USD1,365 juta. Saat ini sedang dijajagi rencana peluncuran (launching) kampanye #Dignity is priceless yang akan dilakukan oleh UNRWA bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam rangka menggalang dukungan dari publik Indonesia untuk membantu pengungsi Palestina.
 
Baca juga: Indonesia Terus Bantu Pendanaan UNRWA Palestina.
 
Melalui pertemuan ini sudah ada satu pemahaman yang sama mengenai isu-isu kemungkinan yang akan muncul dan harapan Palestina terhadap Indonesia juga sudah disampaikan.
 
“Intinya kita ingin terus menunjukkan kepada dunia bahwa posisi kita selalu bersama Palestina. Dapat dilihat, misalnya saat Palestina memerlukan melakukan lobi dengan satu negara. Maka Palestina bisa datang ke Indonesia, bisa ditemani melakukan lobi dengan negara itu. Ini menunjukkan trust (kepercayaan) yang tinggi (dari Palestina) terhadap Indonesia,” sebutnya.
 
Menlu menyebutkan, dukungan tidak hanya dalam arti perjuangan untuk mendapatkan hak-haknya sendiri, tetapi bahkan dalam rangka melobi negara-negara yang posisi nya kurang menguntungkan Palestina. Indonesia selalu menjadi negara yang selalu diminta menemani Palestina. Saat ini belum diketahui masalah apa yang akan muncul seperti apa. Namun melalui pertemuan kedua pihak, sudah punya pemahaman yang sama.
 
Setidaknya suara Indonesia ini sejalan dengan sikap negara-negara Muslim lainnya. Seperti bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia yakin bahwa negara-negara Muslim memiliki kemampuan yang cukup banyak untuk saling membantu.
 
“Kalau kerja sama ini dapat dilakukan dengan baik saya yakin kesejahteraan negara Muslim akan lebih baik lagi. Di dalam OKI, saya kira semua negara OKI tahu bagaimana posisi Indonesia bagaimana kontribusi indonesia. kita aktif di OKI dan yang menjadi ciri khas Indonesia adalah terus memjembatani apabila terjadi perbedaan-perbedaan. Karena normal di dalam satu organisasi ada banyak perbedaan,” ucap mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda itu.
 
Menarik dari posisi Palestina tahun ini adalah, karena negara itu jadi ketua G77, maka posisi Riyadh Mansour diberi pangkat setingkat menteri. Ini sesuatu hal yang baru dan ini pertemuan Menlu RI yang pertama dalam kapasitas Indonesia sebagai anggota DK PBB. Menlu Retno menyampaikan sikap ini menunjukkan Indonesia ingin betul-betul memberikan kontribusi untuk membela hak-hak rakyat Palestina.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif