Warga Venezuela mulai berbondong-bondong keluar rumah memadati apotek, supermarket, dan toko-toko bahan kebutuhan pokok dalam situasi yang oleh sebagian orang disebut sebagai aksi belanja panik.
Sebagian besar toko di Venezuela masih tutup hingga menjelang subuh, sementara beberapa lainnya baru membuka pintu lebih siang, mendekati tengah hari.
"Saya tidak tahu apakah kami akan buka," kata seorang pemilik toko kelontong, seraya menjelaskan bahwa sejumlah pegawainya belum datang, sementara kerumunan pembeli telah mengantre di luar.
Pantauan menunjukkan warga membeli air minum, tepung jagung, mentega, keju, roti, beras, serta makanan tahan lama seperti tuna. Persediaan tersebut dianggap penting untuk bertahan hidup apabila pertempuran berlanjut selama beberapa hari.
| Baca juga: Venezuela Tuding Israel Terlibat dalam Penangkapan Maduro oleh AS |
Banyak warga berusaha segera kembali ke rumah untuk berlindung di tengah kekhawatiran akan potensi penjarahan, meski hal itu pada akhirnya tidak terjadi.
Di Maracaibo, kota terbesar kedua di Venezuela, penduduk memanfaatkan situasi untuk mengisi bahan bakar kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar. Persediaan BBM dilaporkan cukup untuk melayani ratusan mobil, sepeda motor, dan truk. Seperti sebelumnya, truk-truk milik perusahaan minyak negara PDVSA tampak datang untuk mengisi tangki SPBU.
Pengeboman di ibu kota Caracas oleh pasukan AS berlangsung lebih dari dua jam dan dimulai sekitar pukul 02.00 dini hari. Puncaknya, Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya ditangkap oleh milliter AS di kediaman mereka di Caracas.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diterbangkan ke luar negeri untuk menghadapi tuduhan kriminal narkoterorisme.
Unggahan Trump di Truth Social itu dengan cepat menyebar dalam percakapan dan grup pesan ribuan warga Venezuela, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Seorang perempuan mengaku menangis bahagia, sementara perempuan lainnya memilih bersikap lebih hati-hati sambil menunggu arah perubahan politik negaranya yang kerap berlangsung tiba-tiba. Di sisi lain, tidak banyak warga yang benar-benar memahami pernyataan awal pascapemboman dari para pejabat tinggi sekutu Maduro.
Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello menyerukan ketenangan. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino menegaskan kesetiaan dalam menghadapi serangan yang disebutnya keji, sementara Wakil Presiden Delcy Rodríguez menuntut Amerika Serikat membuktikan bahwa Maduro masih hidup.
Tidak ada seruan aksi dari militer, dan warga juga tidak diminta melancarkan perang gerilya atas nama proyek sosialis nasional, sesuatu yang sebelumnya dikatakan Maduro akan dilakukan jika terjadi agresi asing. Situasi siang hari seolah menunjukkan musuh telah menghilang dan tidak ada lagi yang perlu diperangi.
"Berlindunglah, berhati-hatilah di rumah," pesan seorang pria Venezuela kepada teman dan keluarganya di Maracaibo.
Kekhawatiran untuk mengekspresikan pendapat secara terbuka di media sosial pun meningkat. Warga saling mengingatkan agar menghapus percakapan jika harus keluar rumah, karena polisi dikhawatirkan akan memeriksa ponsel untuk mencari tanda-tanda ketidaksetiaan.
Di saluran televisi pemerintah Venezolana de Television, pernyataan para gubernur dan wali kota sekutu Maduro disiarkan bersamaan dengan tayangan langsung pria-pria berseragam dan puluhan pendukung pemerintah yang mengecam serangan AS.
Namun, seiring waktu berlalu, kesunyian tetap menyelimuti jalanan. Tidak tampak kerumunan massa, tidak terdengar seruan perang, dan tidak muncul tuntutan balas dendam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News