Saeb Erekat mengecam sikap menantu Presiden AS Donald Trump dalam proses perdamaian Timur Tengah. Foto: AFP
Saeb Erekat mengecam sikap menantu Presiden AS Donald Trump dalam proses perdamaian Timur Tengah. Foto: AFP

AS Dianggap Berupaya Rendahkan Posisi Palestina

Internasional amerika serikat palestina israel
Fajar Nugraha • 03 Februari 2020 18:29
Gaza: Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat mengecam penasihat khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jared Kushner. Menantu Presiden Trump itu menuduh Erekat bertanggungjawab karena gagal mencapai kesepakatan damai dengan Israel.
 
Dalam sebuah wawancara dengan jaringan MBC Masr di Mesir yang membahas rencana perdamaian AS, Kushner menuduh Erekat, yang juga bertindak sebagai Ketua Negosiator Otoritas Palestina (PA), memiliki "rekam jejak yang sempurna untuk gagal membuat kesepakatan damai".
 
Menanggapi hal itu, Erekat mengatakan Kushner sedang mencoba mendistorsi posisi Palestina dengan membuat pernyataan yang bertentangan dengan realitas tindakan mereka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami akan berusaha untuk mencapai negara Palestina dengan dukungan semua orang percaya dalam keadilan perjuangan kami, dipersenjatai dengan hukum dan legitimasi internasional," tegas Erekat, menurut Xinhua, Senin, 3 Februari 2020.
 
"Apa yang disebut ‘Kesepakatan Abad Ini’ mendikte hasil perbatasan, Yerusalem, pengungsi, keamanan, permukiman dan air. Masalah-masalah ini disepakati untuk dinegosiasikan antara Palestina dan Israel sebagai masalah status permanen," katanya.
 
"Ketika saya mengatakan masalah ini harus dinegosiasikan antara kami dan Israel secara langsung. Kushner menjawab dengan memanggil saya negosiator yang gagal dan dia bernegosiasi atas nama saya. Ini adalah seni dikte, arogansi dan pemerasan," imbuh Erekat.
 
Sementara Ketua Otoritas Palestina Mahmoud Abbas menolak rencana perdamaian AS, menyatakan bahwa rencana itu akan dibuang ke ‘tempat sampah sejarah.’ Pada Sabtu, Abbas berbicara pada pertemuan Liga Arab di Kairo, di mana ia sekali lagi menolak rencana AS.
 
"Saya terkejut dengan pengumuman Trump tentang perjanjian damai. Orang Amerika menelepon dan mengatakan kepada saya bahwa Trump ingin mengirimi saya perjanjian itu sehingga saya bisa membacanya. Saya menolak. Mereka mencoba menyambungkan dengannya beberapa kali. Saya menolak, ”katanya.
 
"Menurut rencana, Yerusalem yang tidak terbagi adalah ibu kota Israel, dan Masjid Al Aqsa juga akan dibagi dalam hal hari dan waktu untuk salat. Mengenai Al Aqsa, mereka menulis 'Gunung Bait Suci.' Artinya suatu hari, mereka (warga Yahudi) Akan berdoa di sana, dan suatu hari kita akan berdoa,” ucap Abbas.
 
Abbas menekankan bahwa "Saya menolak rencana itu secara langsung. Saya tidak ingin dikenal dalam sejarah sebagai orang yang menjual Yerusalem."
 
Kushner, yang merupakan bagian dari tim yang menulis rencana perdamaian AS, pekan lalu mendesak PA untuk melanjutkan pembicaraan dengan Israel. “Ini adalah momen yang sangat penting. Kita dapat memilih untuk bekerja bersama sekarang untuk membangun peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya ini atau kembali ke pokok pembicaraan dan posisi yang sama yang membawa kita ke tempat kita sekarang,” tutur Kushner.
 
“Palestina mungkin memiliki masalah dengan aspek-aspek rencana ini. Tetapi untuk mengatasinya, mereka harus mengidentifikasi bidang yang ingin mereka tingkatkan dan setuju untuk bernegosiasi dengan Israel. Kegagalan untuk melakukannya adalah kehilangan kesempatan yang mungkin tidak akan pernah datang lagi,” tulis Kushner di situs CNN.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif