Militer AS berada di beberapa kawasan di Suriah. Foto: AFP
Militer AS berada di beberapa kawasan di Suriah. Foto: AFP

Trump Cabut Sanksi Turki, Hentikan Perang Suriah

Internasional amerika serikat Turki serang Kurdi
Fajar Nugraha • 24 Oktober 2019 07:10
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakhiri sanksi terhadap Turki pada Rabu 23 Oktober. Ini membuka peluang dihentikannya pertumpahan darah di Suriah.
 
Pasukan Turki dan Rusia merebut wilayah yang sebelumnya dipegang oleh pasukan AS dan sekutu Kurdi mereka yang terkepung.
 
"Biarkan orang lain memperebutkan pasir berlumuran darah ini," kata Trump dalam pidato Gedung Putih yang meresmikan penyerahan kekuasaan di Suriah utara ke Ankara dan Moskow, seperti dikutip AFP, Kamis, 24 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Trump mengatakan dia mencabut sanksi karena gencatan senjata diadakan di daerah yang diserbu Turki itu untuk mengusir kelompok-kelompok militer Kurdi.
 
Pengusaha properti ternama AS itu, menyebut gencatan senjata, yang memungkinkan Turki mengambil alih sebagian besar tanpa perlawanan, sebuah ‘terobosan besar.’
 
Namun dirinya menolak tuduhan bahwa dia mengkhianati Kurdi Suriah -,yang menderita ribuan korban pertempuran bersama pasukan AS melawan kelompok jihadis ISIS,- Trump mengatakan mereka bahagia.
 
Presiden mengatakan komandan Kurdi di negara itu, Mazloum Abdi, baru saja mengatakan kepadanya bahwa dia ‘sangat berterima kasih.’
 
Ankara memerintahkan operasi lintas-perbatasan ke Suriah pada 9 Oktober karena mengatakan pihaknya ingin menciptakan barisan keamanan bebas dari kelompok-kelompok bersenjata Kurdi yang mereka anggap sebagai teroris, terkait dengan pemberontak Kurdi di Turki.
 
Operasi yang telah direncanakan lama dimulai setelah Trump mengumumkan keluarnya pasukan militer AS yang kecil, namun signifikan secara politik yang sampai saat itu bersekutu erat dengan Kurdi. Trump mengatakan dia tidak ingin pasukan AS ditangkap di tengah perang Turki-Kurdi.
 
Dituduh baik oleh Partai Republik dan Demokrat meninggalkan Kurdi, Trump memberlakukan sanksi pada Turki pada 14 Oktober. Dia mengirim delegasi untuk membujuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk melakukan gencatan senjata singkat.
 
Dalam sebuah tweet dari seorang juru bicara pada Rabu, Mazloum berterima kasih kepada Trump "atas upayanya yang tak kenal lelah yang menghentikan serangan brutal Turki dan kelompok-kelompok jihad terhadap rakyat kami."
 
Menjelang pertemuan para menteri pertahanan NATO pada hari Kamis di Brussels, Amerika Serikat dan NATO dengan hati-hati menyambut proposal Jerman untuk zona keamanan di Suriah utara, meskipun Duta Besar AS untuk NATO Kay Bailey Hutchison mengatakan Eropa harus mengambil alih dan bukan pasukan AS.Hutchison juga meminta penyelidikan tentang apakah kejahatan perang dilakukan selama serangan Turki.
 
Di Washington, utusan khusus untuk Suriah James Jeffrey mengatakan kepada anggota parlemen bahwa pasukan AS telah melihat bukti kejahatan semacam itu selama serangan Turki dan menuntut penjelasan dari Ankara.
 
"Banyak orang melarikan diri karena mereka sangat prihatin dengan pasukan oposisi Suriah yang didukung Turki ini, seperti kita. Kami telah melihat beberapa insiden yang kami anggap sebagai kejahatan perang," kata Jeffrey.
 
Seorang pejabat senior pemerintah Trump mengatakan, tidak ada indikasi bahwa pasukan Turki telah menyerang populasi lokal seperti yang dikhawatirkan oleh para kritikus.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif