Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berada di Gedung Putih bersama Presiden AS Donald Trump. Foto: AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berada di Gedung Putih bersama Presiden AS Donald Trump. Foto: AFP

Kunjungan Erdogan ke Gedung Putih Disambut dengan Demonstrasi

Internasional amerika serikat turki donald trump Recep Tayyip Erdogan
Arpan Rahman • 14 November 2019 16:08
Washington: Ratusan pedemo berunjuk rasa di dekat Gedung Putih pada Rabu ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Mereka menyuarakan oposisi terhadap kunjungan Erdogan dan invasi Turki ke Suriah utara.
 
Berkumpul di Lafayette Park di seberang jalan dari Gedung Putih, pembela kepentingan Kurdi, Armenia, dan Yunani berbaris dan berteriak "Hentikan Invasi Turki, “Trump Memalukan” dan "hidup YPG." YPG mengacu pada Unit Perlindungan Rakyat, pasukan Kurdi Suriah yang berjuang untuk membersihkan Suriah utara dari militan Islamic State (ISIS).
 
Erdogan memerintahkan pasukan Turki menyerang Suriah utara pada awal Oktober setelah Trump memerintahkan pasukan AS meninggalkan daerah itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sam Humiston, yang mengaku baru saja kembali dari Suriah setelah menjadi sukarelawan di Pasukan Demokrat Suriah, mengatakan: "Turki melihat Suriah dengan pola pikir Ottoman yang diperbarui. Turki selalu memiliki masalah dengan kebijakan Kurdi yang dipolitisasi."
 
"Trump perlu berhenti mendukung militer Turki," kata Humiston, dilansir dari UPI, Kamis 14 November 2019.
 
Pada Mei 2017, dalam kunjungan ke AS, penjaga keamanan Erdogan menyerang para demonstran yang mengadvokasi kepentingan Kurdi di Washington dekat kediaman duta besar Turki. Serangan itu memicu kemarahan dari komunitas Kurdi.
 
Sebelum protes pada Rabu, anggota DPR Dan Crenshaw, (Partai Republik dari Texas), menulis surat kepada Kementerian Luar Negeri AS dan Kepolisian Metropolitan Washington, D.C., meminta kedua lembaga itu melindungi hak-hak orang untuk memprotes kunjungan Erdogan. Surat itu ditandatangani bersama oleh 40 anggota Kongres lainnya.
 
"Sementara Erdogan telah menolak kebebasan ini di Turki, ia dan unsur keamanannya harus mematuhi mereka di sini," kata Crenshaw.
 
"Kemampuannya untuk bertindak sebagai penguasa otoriter berakhir ketika dia menginjakkan kaki di tanah Amerika,” imbuhnya.
 
Polisi berpatroli di sekitar protes, meredakan ketegangan sesudah seorang pria Turki menghadapi pengunjuk rasa di pintu masuk taman.
 
Komite Nasional Armenia Amerika juga hadir dalam protes tersebut. Emil Sanamyan, seorang warga Amerika keturunan Armenia, mengatakan serangan terhadap para pemrotes pada 2017 memotivasi dia untuk menghadiri acara tersebut. Sanamyan katakan dia juga ada di sana untuk memprotes keputusan kebijakan luar negeri Trump.
 
Pada 29 Oktober, Dewan Perwakilan Rakyat AS mengeluarkan resolusi yang mengakui dan mengutuk genosida Armenia, di mana sekitar 1,5 juta orang Armenia terbunuh oleh Kekaisaran Ottoman. Turki membantah terjadi genosida dan pemungutan suara di DPR AS membuat ketegangan dengan Turki semakin meningkat sebelum kunjungan Erdogan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif