Pasukan Turki bersiaga di tengah bentrokan dengan warga Suriah di kota al-Bab, 17 November 2019. (Foto: AFP/BAKR ALKASEM)
Pasukan Turki bersiaga di tengah bentrokan dengan warga Suriah di kota al-Bab, 17 November 2019. (Foto: AFP/BAKR ALKASEM)

Pentagon Sebut ISIS Manfaatkan Invasi Turki di Suriah

Internasional isis
Willy Haryono • 20 November 2019 07:37
Washington: Kelompok militan Islamic State (ISIS) memanfaatkan penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah dan juga invasi Turki ke negara tersebut untuk mengumpulkan kembali kekuatan. Demikian disampaikan dalam laporan terbaru Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon, Selasa 19 November 2019.
 
Awal Oktober lalu, Presiden Donald Trump mengatakan sekitar 1.000 personel militer AS akan meninggalkan Suriah. Pasukan itu sengaja disiagakan AS untuk menjaga perdamaian antara Turki dan milisi Kurdi.
 
Penarikan pasukan AS oleh Trump memungkinkan Turki menginvasi Suriah, dengan tujuan menghabisi semua milisi dan gerilyawan Kurdi. Turki menganggap para milisi itu, terutama Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), sebagai perpanjangan tangan dari kelompok teroris Partai Pekerja Kurdi (PKK).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dikecam keras sejumlah pihak atas penarikan, Trump akhirnya mengumumkan bahwa sejumlah kecil personel militer AS akan tetap berada di Suriah.
 
"ISIS mengeksploitasi invasi Turki dan penarikan pasukan AS untuk menggalang kembali kekuatan dan sumber daya di dalam Suriah. ISIS juga berusaha memperkuat kemampuannya dalam melancarkan serangan di luar negeri," ujar Departemen Kantor Pertahanan Inspektur Jenderal Pentagon (DIA) dalam laporan terbaru, dilansir dari AFP.
 
Departemen itu, yang merupakan sayap independen Pentagon, meyakini invasi Turki dapat membuat ISIS memiliki kesempatan untuk melancarkan serangan di dunia Barat, dan juga memberikan dukungan kepada para simpatisannya di sejumlah negara.
 
"Dalam jangka panjang, (ISIS) mungkin akan mencoba menguasai kembali beberapa wilayah di Suriah dan mengembangkan jejaknya di kancah global," sebut laporan DIA.
 
Masih dari laporan DIA, kematian pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi diyakini hanya berdampak kecil terhadap upaya kelompok itu dalam menggalang kembali kekuatan.
 
DIA menyebut ISIS telah "mengaktifkan beberapa sel untuk meningkatkan serangannya" terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF), sebuah aliansi yang diandalkan AS dalam memerangi grup ekstremis tersebut.
 
Laporan DIA memaparkan bahwa pasukan AS di Suriah akan terus mempersenjatai SDF, namun tidak akan menjalankan program pelatihan. Menurut dokumen DIA, SDF memiliki sekitar 100 ribu personel hingga akhir kuartal ketiga tahun ini.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif