"Mau tutup Perbatasan Selatan!" Presiden Trump menulis.
"Meksiko tidak melakukan apa-apa untuk membantu menghentikan aliran imigran ilegal ke negara kita. Mereka semua berbicara tapi tidak ada tindakan," katanya.
"Demikian juga, Honduras, Guatemala, dan El Salvador telah mencuri uang kita selama bertahun-tahun, dan tidak melakukan apa-apa. Para (politisi) Demokrat tidak peduli, seperti itulah undang-undang yang buruk," kecamnya, disitat dari laman AFP, Jumat 29 Maret 2019.
Ancaman baru guna menutup salah satu perbatasan tersibuk di dunia, yang memisahkan dua negara dengan hubungan ekonomi dan budaya yang besar, menunjukkan Trump menggandakan upayanya menjadikan imigrasi sebagai batu loncatan kampanye pemilihan presiden ulang tahun 2020.
Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador menepis kritik Trump. Ia berkata kepada wartawan: "Kami melakukan sesuatu tentang masalah ini."
"Kami akan membantu dengan segala cara yang kami bisa. Kami sama sekali tidak menginginkan konfrontasi dengan Amerika Serikat," katanya.
Tetapi Lopez Obrador mengatakan solusi akan tergantung pada "mengatasi secara mendasar penyebab migrasi."
Pada Rabu, Trump menyebut perlunya lebih banyak tembok perbatasan demi menghentikan "para pendatang."
"Negara-negara lain berjaga di sana dengan senapan mesin siap menembak. Kita tidak bisa melakukan itu," katanya kepada Fox News. "Kami sedang membangun tembok besar, banyak, bermil-mil sekarang, dan kami bersiap untuk melakukan lebih banyak lagi."
Belum pernah terjadi sebelumnya
Komisaris badan perlindungan perbatasan AS, Kevin McAleenan, mengatakan Rabu bahwa perbatasan barat daya menghadapi "krisis kemanusiaan dan keamanan perbatasan yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Tempat terburuk, katanya, adalah di sekitar El Paso, Texas, di mana para agen tidak punya tempat untuk menampung sejumlah besar pelintas perbatasan ilegal yang mereka tahan.
Secara nasional, badan perbatasan itu menerima lebih dari 12.000 imigran pekan ini, katanya, sementara hanya setengah dari jumlah itu yang dianggap sudah mencapai "tingkat krisis."
Agensi tersebut bekerja untuk menahan lebih dari 100.000 orang pada Maret, "itu akan menjadi total bulanan tertinggi dalam satu dekade," kata pihak agensi.
Secara keseluruhan, upaya melintasi perbatasan ke AS secara ilegal turun secara substansial dari satu atau lebih dekade lalu.
Namun, tahun lalu terlihat lonjakan dan umumnya kedatangan berubah dari para pria lajang menjadi sekeluarga dan seringkali membawa anak-anak kecil. Rombongan itu sangat menyulitkan tugas pihak berwenang dalam menyediakan layanan dasar bagi imigran yang ditahan, sementara kasus mereka telah diputuskan.
Imigran juga muncul dalam jumlah yang lebih besar berasal dari Amerika Tengah, bukan hanya Meksiko, terkadang berjalan dalam sejumlah kelompok besar yang dijuluki karavan.
Satu kelompok saat ini terbentuk di Honduras, menurut Menteri Dalam Negeri Meksiko, Olga Sanchez Cordero. Dia mengatakan itu bisa menjadi "induk dari semua karavan dan mereka pikir mungkin isinya lebih dari 20.000 orang."
Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Honduras Nelly Jerez berkilah "tidak ada indikasi" merumunan kelompok seperti itu. "Kami tidak punya info apa-apa tentang itu."
Pertarungan tembok
Terakhir kali Trump mengancam untuk menutup perbatasan Meksiko adalah pada Desember. Ketika perselisihan tentang permintaannya untuk dana miliaran dolar dalam pembangunan tembok berada pada titik puncaknya.
Politisi Demokrat di Kongres menolak dana tersebut, dengan alasan bahwa Trump melebih-lebihkan masalah di perbatasan demi keuntungan politik. Sebagai balasan, Trump menolak menandatangani rancangan undang-undang soal anggaran yang lebih luas, yang menyebabkan sebagian besar pemerintah federal harus ditutup selama lima pekan.
Trump akhirnya mengumumkan keadaan darurat nasional sehingga ia dapat memutus jalur Kongres dan membuka dana -- suatu langkah yang mengundang kecaman bahkan dari banyak politisi Republikan di pihak Trump sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News