Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington, 1 Juli 2019. (Foto: AFP/NICHOLAS KAMM)
Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington, 1 Juli 2019. (Foto: AFP/NICHOLAS KAMM)

Trump Sebut Iran 'Bermain dengan Api' Terkait Nuklir

Internasional amerika serikat nuklir iran iran
Willy Haryono • 02 Juli 2019 09:30
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran "sedang bermain dengan api" usai Teheran melewati batas cadangan uranium yang diatur dalam perjanjian nuklir 2015. Pemerintah AS di bawah Trump telah menarik diri dari perjanjian tersebut, yang memiliki nama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
 
"Mereka tahu apa yang sudah mereka langgar. Mereka tahu mereka sedang bermain dengan api," ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih, Washington, dilansir dari laman AFP, Selasa 2 Juli 2019.
 
AS menarik diri dari perjanjian JCPOA tahun lalu dan menjatuhkan rangkaian sanksi kepada sektor perminyakan serta finansial Iran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melalui kantor berita ISNA, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa negaranya telah "melewati batas 300 kilogram (cadangan uranium)." Zarif menambahkan, langkah terbaru Iran ini tidak bersifat mutlak dan dapat diubah.
 
Israel mendorong negara-negara Eropa untuk melayangkan sanksi kepada Iran atas pelanggaran batas uranium. Rusia juga menyayangkan pelanggaran tersebut, namun menilai tindakan Iran adalah konsekuensi dari tekanan AS.
 
Inggris menyerukan kepada Iran "untuk menahan diri agar tidak melangkah lebih jauh lagi dari perjanjian (JCPOA)." Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa mendorong Iran agar tetap patuh terhadap perjanjian tersebut.
 
Iran, yang telah meminta dukungan kepada sejumlah negara untuk menyelamatkan JCPOA, mengumumkan pada 8 Mei lalu bahwa Teheran tidak akan lagi menghormati batas cadangan uranium. Alasannya sederhana, karena AS telah menarik diri dari perjanjian 2015 dan menjatuhkan rangkaian sanksi.
 
Teheran mengancam akan bertindak lebih jauh jika negara-negara penandatangan JCPOA -- Inggris, Tiongkok, Prancis, Jerman dan Rusia -- tidak membantu mengatasi sanksi ekonomi AS.
 
Sebelumnya, Gedung Putih telah menegaskan bahwa "Amerika Serikat dan negara-negara mitra tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir."
 
"Membiarkan Iran menambah pasokan Uranium adalah sebuah pelanggaran perjanjian nuklir," tegas juru bicara Gedung Putih Stephanie Grisham.
 
Baca:Indonesia Minta AS-Iran Redakan Ketegangan
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif