Mantan Presiden Bolivia Evo Morales telah tiba di Argentina. Foto: AFP
Mantan Presiden Bolivia Evo Morales telah tiba di Argentina. Foto: AFP

Evo Morales Diberikan Status Pengungsi di Argentina

Internasional argentina evo morales bolivia
Arpan Rahman • 13 Desember 2019 18:07
Buenos Aires: Mantan Presiden Bolivia Evo Morales telah tiba di Argentina dan diberikan status pengungsi. Menteri Luar Negeri Argentina Felipe Sola memastikan hal tersebut.
 
Morales sebelumnya berada di Meksiko di mana dia diberikan suaka setelah dia mengundurkan diri November di tengah tekanan setelah pemilu yang disengketakan. Dia kembali diberi suaka untuk melakukan perjalanan ke Argentina dan telah meminta status pengungsi untuk tetap tinggal, kata Sola di saluran berita TN.
 
"Kami ingin komitmen dari Evo Morales untuk tidak membuat pernyataan politik di Argentina," kata Sola, dirilis dari Al Jazeera, Jumat 13 Desember 2019. Ia menambahkan bahwa empat orang lainnya juga telah meminta suaka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kedatangan mantan presiden Bolivia itu terjadi hanya dua hari setelah Presiden Argentina baru Alberto Fernandez dilantik. Fernandez sebelumnya mengatakan ada "kudeta" terhadap Morales.
 
Presiden pribumi pertama Bolivia, Morales mundur sebagai presiden pada 10 November setelah 14 tahun masa pemerintahannya terusik menyusul rilis audit Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) yang merinci ketidakberesan dalam pemilu Oktober.
 
Bocoran itu turut mendorong sekutu-sekutu partai pemerintahan Morales mundur. Tentara mendesak kepergian Morales dari negara itu, yang telah diguncang oleh protes, baik untuk membela atau melawan presiden, di seluruh negeri sejak pemungutan suara.
 
"Saya melakukan percakapan kemarin dengan Evo Morales yang memberi tahu saya tentang keputusannya untuk pindah ke Buenos Aires. Dia berterima kasih atas kemurahan hati rakyat dan pemerintah Meksiko," Menlu Meksiko Marcelo Ebrard mencuit pada Kamis.
 
Sola mengatakan tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Morales dan Fernandez, tetapi mereka dapat berbicara di telepon.
 
Setelah pengunduran diri Morales, Jeanine Anez, wakil presiden kedua Senat, menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Bolivia. Ia mengatakan setiap orang di garis suksesi di depannya, semua pendukung Morales, telah mengundurkan diri. Mahkamah Konstitusi negara itu mendukung klaimnya bahwa dia tidak perlu dikonfirmasi oleh Kongres, sebuah badan yang dikendalikan oleh partai Gerakan Menuju Sosialisme (MAS) Morales.
 
Pendukung Morales, banyak yang takut rasisme baru terhadap masyarakat adat, terus melakukan protes setelah kepergiannya.
 
Komisi Antar-Amerika untuk Hak Asasi Manusia telah menyerukan penyelidikan dugaan pelanggaran hak oleh pemerintah sementara selama kerusuhan. Sebuah laporan yang dirilis pekan ini mencatat 36 kematian dalam kekerasan pasca-pemilu.
 
Penyelidik menemukan "indikasi kuat pelanggaran HAM, dengan dampak mendalam bagi kehidupan masyarakat Bolivia", kata laporan itu.
 
Pemerintah sementara membantah laporan itu, Eddy Luis Franco, wakil menteri untuk koordinasi gerakan sosial, menyebutnya 'tidak adil'.
 
Bulan lalu, Kongres Bolivia menyetujui sebuah RUU yang membatalkan hasil pemilu Oktober dan menyerukan pemilu baru diadakan tanpa Morales. Pemilu diperkirakan akan dilakukan tahun depan.
 
Morales, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera pada November, berjanji untuk kembali ke Bolivia. Anez mengatakan mantan presiden itu bebas buat kembali ke negara itu, tetapi harus "menjawab keadilan atas penipuan pemilu".
 
"Keadilan harus melakukan tugasnya tanpa tekanan politik," tambahnya.
 
Morales menyatakan bahwa dia meninggalkan negara itu karena ancaman kekerasan terhadap dirinya dan kolaboratornya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif