Kota La Paz di Bolivia saat dilihat dari kereta gantung, 16 November 2019. (Foto: AFP/RONALDO SCHEMIDT)
Kota La Paz di Bolivia saat dilihat dari kereta gantung, 16 November 2019. (Foto: AFP/RONALDO SCHEMIDT)

Bolivia Klaim Kerusuhan Sudah Mulai Mereda

Internasional bolivia
Willy Haryono • 18 November 2019 06:46
La Paz: Pemerintahan interim Bolivia mengklaim kerusuhan di tengah gelombang unjuk rasa terkait sengketa pemilihan umum perlahan mereda. Menteri Dalam Negeri Arturo Murillo menyebut jumlah titik kerusuhan di Bolivia sudah "berkurang separuh."
 
Data milik Komisi Hak Asasi Manusia Antar-Amerika (IACHR) mencatat kerusuhan di Bolivia telah menewaskan sedikitnya 23 orang dan membuat ratusan lainnya terluka sejak akhir Oktober.
 
Aksi protes dipicu tuduhan oposisi bahwa kubu petahana Evo Morales berbuat curang dalam pemilihan umum. Morales mengundurkan diri pada 10 November lalu di bawah tekanan demonstran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Demonstrasi terus berlanjut setelah itu, namun kini dilakukan massa pro-Morales. Dalam unjuk rasa di kota Cochabamba, IACHR mencatat ada sembilan orang tewas dalam bentrokan antara pedemo dan aparat keamanan. Pemerintah interim Bolivia hanya mencatat adanya lima korban jiwa.
 
Murillo membuat kelompok pendukung Morales marah usai melontarkan wacana bahwa para petani daun koka telah menembak temannya sendiri demi mendapat simpati publik. Morales adalah pernah menjadi petani koka di masa lalu.
 
Thomas Becker, seorang pengacara Amerika Serikat dari Klinik HAM Internasional di Harvard University, menolak teori Murillo. Ia mengaku telah mendatangi kamar jenazah di kota Sacaba, tempat para korban tewas dibawa.
 
Becker mengatakan kepada AFP via telepon bahwa dirinya telah mewawancarai 50 orang di Sacaba. Mereka semua berkukuh tidak ada satu pun warga sipil yang membawa senjata api saat berunjuk rasa.
 
Sementara itu dari Meksiko, Morales mengecam keras pembunuhan yang dilakukan aparat keamanan terhadap pedemo. "Kejahatan terhadap kemanusiaan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja," tegasnya, yang mendapat perlindungan suaka dari Pemerintah Meksiko.
 
IACHR mengecam "dekrit" yang dikeluarkan pemerintahan interim Bolivia di bawah Presiden Jeanine Anez. Dekrit ini memberikan kekuasaan lebih kepada aparat keamanan untuk menjaga ketertiban umum.
 
Namun Menteri Kepresidenan Bolivia Jerjes Justiniano berkukuh dekrit tersebut bukanlah sebuah "izin untuk membunuh."
 
Anez, wanita 52 tahun, telah mendeklarasikan dirinya sebagai presiden interim pada Selasa pekan kemarin. Morales menuduh Anez adalah salah satu tokoh yang telah merencanakan kudeta untuk menggulingkan dirinya.
 

(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif