Dewan Keamanan PBB desak gencatan senjata untuk akhiri krisis di Libya. Foto: AFP
Dewan Keamanan PBB desak gencatan senjata untuk akhiri krisis di Libya. Foto: AFP

DK PBB Desak Percepatan Gencatan Senjata di Libya

Internasional konflik libya
Fajar Nugraha • 22 Januari 2020 13:16
New York: Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Selasa menyerukan kepada pihak-pihak yang bertikai di Libya untuk segera melakukan gencatan senjata. Hal tersebut akan membuka jalan bagi proses politik yang bertujuan mengakhiri konflik di negara kaya minyak itu.
 
Pertemuan PBB merupakan tindak lanjut dari KTT Libya yang diadakan di Berlin, akhir pekan lalu. KTT itu berupaya untuk pembentukan komisi militer yang seharusnya menentukan cara untuk mengkonsolidasikan penghentian permusuhan.
 
KTT Libya dihadiri dari lima anggota pemerintah yang diakui PBB di Tripoli. Pertemuan juga dihadiri lawan-lawannya yang setia kepada Jenderal Khalifa Haftar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Para anggota Dewan Keamanan mendesak pihak-pihak yang bertika di Libya untuk terlibat secara konstruktif dalam komisi lima+lima (5+5) militer untuk menyelesaikan perjanjian gencatan senjata sesegera mungkin," pernyataan Dewan Keamanan PBB, seperti dikutip AFP, Rabu, 22 Januari 2020.
 
Negara Afrika Utara itu terpecah oleh pertikaian antara faksi-faksi bersenjata yang berseteru sejak pemberontakan yang didukung NATO 2011 yang menewaskan diktator Moamar Kadhafi dan menggulingkan rezimnya.
 
Sejak April tahun lalu, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB di Tripoli telah melawan balik para anggota milisi yang setia kepada Haftar. Haftar didukung oleh beberapa negara termasuk Rusia, Mesir, Uni Emirat Arab dan Prancis.
 
Sehari sebelum konferensi internasional, pasukan Haftar memblokir ekspor minyak dari pelabuhan utama Libya. Langkah untuk melumpuhkan sumber pendapatan utama negara itu adalah untuk memprotes keputusan Turki yang mengirim pasukan demi menopang saingan Haftar.
 
“Komisi militer diperkirakan akan bertemu dalam beberapa hari mendatang,” menurut PBB.
 
PBB saat ini diminta mengubah gencatan senjata yang rapuh menjadi gencatan senjata permanen seperti yang dikehendaki para pemimpin internasional di Berlin. Gencatan senjata itu disponsori bersama oleh Rusia dan Turki dan telah diadakan secara luas sejak diberlakukan pada 12 Januari.
 
KTT tersebut dihadiri oleh presiden Rusia, Turki, Prancis dan Mesir, serta Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
 
Pemimpin GNA, Fayez al-Sarraj dan Haftar juga ada di sana tetapi menolak untuk bertemu. Konferensi itu gagal membuat kedua saingan itu berkomitmen pada gencatan senjata permanen. Haftar menegaskan kampanye militernya ditujukan untuk memerangi kaum teroris yang berada di Libya.
 
Pada pertemuan puncak itu, negara-negara utama yang bersangkutan berjanji untuk tidak lagi mencampuri urusan Libya dan untuk menghormati embargo senjata yang diberlakukan pada 2011 tetapi yang telah dilanggar.
 
Pada akhir pertemuan Dewan Keamanan, Sekjen PBB Guterres mengatakan kepada wartawan bahwa "masih ada jalan panjang yang harus ditempuh."
 
Dia mengatakan pelanggaran gencatan senjata belum meluas. "Kita perlu pindah ke gencatan senjata, dan dari gencatan senjata, kita perlu pindah ke proses politik yang nyata dan kita belum berada di sana,” pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif