Menlu Retno Marsudi memimpin dalam pertemuan DK-PBB di New York, Amerika Serikat pada 7 Mei 2019 (Foto: Auli
Menlu Retno Marsudi memimpin dalam pertemuan DK-PBB di New York, Amerika Serikat pada 7 Mei 2019 (Foto: Auli

Kemilau Batik Mewarnai Debat Terbuka DK PBB

Internasional indonesia-pbb
Marcheilla Ariesta • 08 Mei 2019 04:36
New York: Para delegasi negara-negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memakai batik dalam debat terbuka DK PBB di New York, Amerika Serikat (AS), 7 Mei 2019.
 
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan ini merupakan upaya para anggota DK PBB menghormati Indonesia yang menjadi Presiden.
 
"Mereka pakai batik menghormati Indonesia, karena delegasi Indonesia memakai batik," ujar Arrmanatha lewat pesan singkat kepada Medcom.id, Selasa 7 Mei 2019 waktu AS.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arrmanatha menambahkan para delegasi memiliki batik karena ada yang membeli sendiri dan ada pula yang mendapatkan batik karena menjadi ketua delegasi di pertemuan Indonesia.
 
"Ada yang pernah dapat karena mereka jadi ketua delegasi di pertemuan di Indonesia seperti Sekjen PBB," imbuh dia.
 
Kemilau Batik Mewarnai Debat Terbuka DK PBB
Menlu Retno Marsudi memimpin debat terbuka di DK PBB. (Foto: Dok.Kemenlu RI).
 
Dia menuturkan beberapa ketua delegasi, seperti Tiongkok, Pantai Gading, Republik Dominika, Prancis, Jerman, Peru, Amerika Serikat dan Sekjen PBB Antonio Guterres memakai batik. Sementara itu, delegasi dari Polandia juga memakai pakaian khas Indonesia tersebut.
 
Saat ini Indonesia tengah memegang keketuaan di DK PBB selama sebulan penuh. Tema yang diambil adalah mengenai Operasi Penjaga Perdamaian.
 
Beberapa kegiatan dilakukan Indonesia selama menjadi Presiden DK PBB, seperti debat terbuka mengenai penjaga perdamaian, dan juga pameran foto.
 
Empat isu penting
 
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang memimpin debat terbuka, memaparkan empat hal penting dalam debat yang bertemakan “Investing Peace: Improving Safety and Performance of UN Peacekeepers”.
 
Pertama menurut Menlu Retno, pendekatan misi spesifik sangat diperlukan. Sebuah pendekatan satu untuk semuanya, dinilai tidak hemat.
 
“Kedua. Keterlibatan langsung dengan masyarakat sangatlah penting. Kemampuan pasukan perdamaian tidak boleh hanya skill tempur, tetapi bisa diperkuat juga dengan komunikasi dan membangun kepercayaan,” ujar Menlu Retno.
 
“Kemudian ketiga adalah investasi ke perempuan sama saja berinvestasi untuk perdamaian,” tuturnya.
 
Kemilau Batik Mewarnai Debat Terbuka DK PBB
Foto: Dok.Kemenlu.
 
Menurut Menlu Retno, pasukan perdamaian perempuan lebih efektif dalam memenangkan hati dan pikiran warga di mana mereka ditugaskan.
 
Terakhir yang menjadi perhatian mantan Dubes RI untuk Belanda itu adalah latihan yang memerlukan rekan. Dikarenakan tantangan makin kompleks, maka sebuah pelatihan harus lebih adaptif.
 
Indonesia, menurut Menlu Retno menawarkan pusat pelatihan pasukan perdamaian PBB, untuk dijadikan lokasi pelatihan misi pelatiihan internasional.
 

 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif