Kawat Berduri 'Donald Trump' di Perbatasan AS dan Meksiko
Prajurit AS memasang kawat berduri di sepanjang wilayah yang berbatasan dengan Meksiko. (Foto: AFP/Thomas Watkins)
Laredo: Tentara bergerak cepat di pagi hari, mengurai dan mengikat kawat berduri ke tiang hijau yang dipalu ke dalam tanah. Selama tiga hari, penghalang berupa kawat berduri muncul seperti ular berwarna perak di sepanjang tepi sungai di perbatasan AS-Meksiko.

Kawat berduri terentang sejauh mata memandang. Ini adalah hasil kerja lebih dari 100 personel militer Batalyon Insinyur 19 yang berbasis di Fort Knox, Kentucky, Amerika Serikat. 

Mereka semua ditugaskan di Laredo, sebuah kota perbatasan yang sibuk, menghadap ke hamparan sungai Rio Grande di Texas barat daya. Mereka mematuhi perintah kontroversial dari Presiden AS Donald Trump.


Trump telah mengirim sekitar 5.800 prajurit ke perbatasan dalam upaya mencegah kedatangan kafilah imigran asal Amerika Tengah. Para imigran itu melakukan perjalanan panjang melintasi Meksiko untuk menuju AS. Upaya menghalangi imigran itu menuai kritik, yang dianggap sebagian pihak sebagai aksi politik menjelang pemilu sela awal bulan lalu.


Kawat berduri bertujuan menghalangi pergerakan imigran. (Foto: AFP/Thomas Watkins)

Sebelum pemilu, Trump mengklasifikasikan masalah keimigrasian ini sebagai "darurat nasional" dan menyebut kafilah imigran sebagai pasukan "penjajah" yang beranggotakan "preman serta anggota geng kriminal."

Baca: Trump Bertekad Cegah Imigran Menginvasi AS

Sejauh ini upaya paling terlihat dari Trump untuk mencegah kedatangan imigran adalah kawat berduri yang diharapkan dapat menghambat pergerakan. Kawat ini direntangkan di sejumlah area yang mungkin dijadikan titik masuk ke AS oleh para imigran.

Selama akhir pekan, peleton Letnan Alan Koepnick merangkai kawat berduri di sepanjang tepi sungai yang tenang di dekat pusat kota Laredo. Koepnick menyebut beberapa penduduk Laredo menyuarakan ketidaknyamanan mereka tentang pagar berduri dan kehadiran pasukan AS.

"Tetapi juga ada banyak dukungan, orang-orang berdatangan, dokter hewan menyapa kami, membawakan kue, air, dan lainnya," kata Koepnick, seperti dilansir dari kantor berita AFP, Senin 19 November 2018.

Sekitar 100 meter di belakang Koepnick, sekelompok orang di wilayah Meksiko terlihat berdiri di tepi sungai.

"Anda akan melihat orang-orang di seberang sungai memaki kami dalam bahasa Spanyol, melemparkan botol kepada kami. Tetapi di sisi ini (wilayah AS), suasananya lebih positif," ujar Koepnick.


Prajurit AS melihat aktivitas warga di sisi perbatasan Meksiko. (Foto: AFP/Thomas Watkins)

Koepnick dan seluruh anggota peleton yang dipimpinnya tidak bersenjata. Tetapi sekelompok polisi militer bersenjata bersiaga untuk memberikan perlindungan jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.

Di bawah hukum AS, militer tidak diizinkan melakukan penegakan hukum domestik dalam banyak kasus. Jadi, secara teknis tentara AS tidak akan berinteraksi langsung dengan para imigran.

Laura Pole, seorang turis Inggris yang mengunjungi Laredo untuk kali ketiga, kurang antusias terhadap situasi di perbatasan ini. "Ini mengingatkan saya pada Hitler dan kamp konsentrasi," ucap dia. "Saya benar-benar tidak tahu apa langkah terbaik untuk dilakukan dalam situasi ini."

Sebagian besar kafilah imigran belum tiba di area sekitar Laredo. Mayoritas dari imigran diketahui bergerak atau sudah berada di Tijuana, kota terbesar di Baja California yang berlokasi sekitar 2.000 kilometer dari San Diego. Otoritas Tijuana mengatakan lebih dari 3.000 imigran telah tiba.



(WIL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id