Duta Besar Jerman untuk Venezuela diusir karena membantu penyaluran bantuan kemanusiaan. (Foto: AFP).
Duta Besar Jerman untuk Venezuela diusir karena membantu penyaluran bantuan kemanusiaan. (Foto: AFP).

AS Perketat Sanksi Venezuela Usai Pengusiran Dubes Jerman

Arpan Rahman • 07 Maret 2019 17:42
Caracas: Venezuela mengusir Duta Besar Jerman karena dukungan internasional yang diberikan untuk pemimpin oposisi, Juan Guaido. Di saat yang sama, Amerika Serikat (AS) meningkatkan sanksi untuk pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
 
Kementerian Luar Negeri Venezuela memberi waktu 48 jam untuk Dubes Jerman Daniel Kriener pergi. Dia dianggap turut ‘campur tangan’ dalam urusan internal Venezuela.
 
Saat kembali ke negaranya Senin lalu, Dubes Jerman tersebut berpamitan kepada Guaido di Bandara Caracas. Guaido mengatakan pengusiran Kriener akan dilihat ‘sebagai ancaman bagi dunia bebas’.
 
Kriener termasuk di antara lebih dari selusin perwakilan asing yang menyambut pemimpin Majelis Nasional saat kembali ke Venezuela. Guaido diakui sebagai presiden sementara oleh lebih dari 50 negara, tetapi sejauh ini dianggap ‘persona non grata’ di negerinya sendiri.
 
Kriener membantu agar bantuan kemanusiaan masuk ke Negeri Bolivaria. "Tampaknya rezim Maduro tidak memaafkan siapa pun yang ingin membantu Venezuela," kata Guaido, dikutip dari AFP, Kamis 7 Maret 2019.
 
Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas berkata bahwa mengusir Kriener hanya memperburuk situasi.
 
AS Perketat Sanksi
 
Washington terus memperketat sanksi untuk memaksa Maduro mundur dari kekuasaan. Negeri Paman Sam juga mencabut visa 77 orang yang terkait dengan rezim itu, termasuk pejabat dan keluarga mereka.
 
"Kami akan terus meminta semua rezim Maduro bertanggung jawab sampai demokrasi dan kebebasan sepenuhnya dipulihkan," kata Wakil Presiden AS Mike Pence dalam pidatonya.
 
Sebanyak 250 warga Venezuela jadi target dari larangan visa AS tersebut.
 
AS sudah berusaha melumpuhkan akses finansial Maduro melalui sanksi terhadap perusahaan minyak negara PDVSA dan menyerahkan kendali ke Guaido dari rekening bank Venezuela di AS.
 
Namun, kepala hak asasi manusia Michelle Bachelet menyebutkan sanksi memperburuk krisis ekonomi dan politik Venezuela yang melumpuhkan, yang telah memaksa 2,7 juta orang melarikan diri sejak 2015.
 
"Venezuela dengan jelas menggambarkan cara pelanggaran hak-hak sipil dan politik -- termasuk kegagalan menegakkan kebebasan mendasar, dan independensi lembaga-lembaga utama -- dapat menekankan anjloknya hak-hak ekonomi dan sosial," kata Bachelet, mantan presiden Chile.
 
Guaido, 35, kembali ke Venezuela untuk disambut bagai pahlawan pada Senin, setelah menentang larangan meninggalkan negara itu buat memulai tur 10 hari di antara sekutu Amerika Selatan. Dia tetap bebas, meskipun ada ancaman penangkapan oleh pemerintah.
 
Pada Selasa, hari libur nasional, ia bertemu dengan para pemimpin serikat sektor publik.
 
Maduro, sementara itu, menekan para pendukungnya untuk mengadakan pawai "anti-imperialis" pada Sabtu guna melawan protes baru yang direncanakan Guaido.
 
Ketika kembali ke Caracas, Guaido mengumumkan kepada puluhan ribu pendukung rencana protes baru pada Sabtu. Dia berjanji membentuk pemerintahan transisi dan mengadakan pemilu baru.
 
Selama turnya, Guaido bertemu Pence dan para pemimpin Kolombia, Brasil, Argentina, Paraguay, Chile, dan Ekuador.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan