Sejak pertama kali menjabat sebagai presiden pada 2008 lalu, kebijakan luar negeri Obama difokuskan pada meningkatkan hubungan dengan negara Islam. Tetapi tidak kurang upaya itu terganggu dengan aksi radikalisme.
Obama pun menegaskan bahwa kelompok militan Islamic State (ISIS) telah merusak Islam. Baginya ISIS tidak mewakili suara Islam. Tetapi Obama juga meminta Muslim untuk membantu melawan radikalisme.
"Bagaimana cara kita melawan kelompok yang membunuh orang tidak berdosa," ujar Obama, seperti dikutip AFP, Kamis (4/2/2016).
"Ini tidak bisa dilakukan oleh satu keyakinan saja. Tidak bisa hal ini menjadi beban dari komunitas Muslim saja, meskipun pada kenyataannya komunitas Muslim harus memegang peranan penting," pungkasnya.
Pesan dari Obama ini ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan Muslim di AS. Salah satunya adalah anggota Muslim Public Affairs Council Riham Osman.
"Saya sadar isu keamanan nasional akan keluar dalam pidato, hanya karena kondisi keamanan saat ini," tutur Riham.
"Sedikit mengesalkan memang, karena ini kunjungan pertama ke masjid (di AS) dan ada anak-anak yang tumbuh di era pasca serangan 9/11 dan keyakinan mereka selalu dikaitkan dengan keamanan dan ekstremisme," imbuh Riham.
Setidaknya sekitar 49 persen warga Amerika merasa bahwa Muslim di AS memiliki sentimen anti-Amerika. Hal tersebut diungkapkan oleh poling dari Pew Research Center Rabu 3 Februari lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id