Presiden Venezuela Nicolas Maduro akui berbicara dengan perwakilan Presiden AS Donald Trump. Foto: AFP.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro akui berbicara dengan perwakilan Presiden AS Donald Trump. Foto: AFP.

Presiden Venezuela Akui Pembicaraan Rahasia dengan AS

Internasional konflik venezuela as-venezuela
Arpan Rahman • 21 Agustus 2019 19:12
Caracas: Pemimpin Venezuela Nicolas Maduro mengonfirmasi para pejabat tinggi Venezuela telah berbicara dengan para staf Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dari Gedung Putih. Pengakuan itu muncul menyusul laporan bahwa orang kepercayaannya sudah menegosiasikan kejatuhan dirinya dengan Amerika Serikat.
 
"Saya mengkonfirmasi bahwa selama berbulan-bulan telah ada kontak antara pejabat senior dari pemerintah Donald Trump dan dari pemerintah Bolivarian yang saya pimpin -- dengan izin langsung dan tegas saya," kata pemimpin otoriter Venezuela dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa malam.
 
"Berbagai kontak dilakukan melalui berbagai saluran," tambah Maduro, dinukil dari Guardian, Rabu 21 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pernyataan Maduro keluar setelah dua laporan di media AS mengklaim Diosdado Cabello, salah satu tokoh paling kuat dan ditakuti Venezuela, terlibat dalam "komunikasi rahasia" dengan pejabat Trump.
 
Pada Minggu, Axios mengklaim bahwa dalam beberapa bulan terakhir Cabello, ketua majelis konstituen pro-Maduro yang berusia 56 tahun di Venezuela, berkomunikasi dengan penasihat Trump urusan Amerika Latin, Mauricio Claver-Carone. Beberapa pejabat Trump dilaporkan menganggap itu tanda positif yang menunjukkan bahwa lingkaran Maduro "berangsur-angsur retak".
 
Sebuah media mengklaim Cabello telah bertemu seseorang "dalam kontak yang dekat dengan pemerintahan Trump" di Caracas bulan lalu dan bahwa pertemuan kedua sedang direncanakan. AS dilaporkan berharap terlibat, sementara Cabello akan mengintensifkan "pertikaian tajam" internal yang diduga berkecamuk di puncak pemerintahan Maduro.
 
Para pengamat politik Venezuela menyambut laporan-laporan tersebut dengan skeptis. Itu tampaknya dirancang untuk membuat pemerintah Maduro yang dilanda krisis jadi pecah dengan merebaknya paranoia di lingkaran dalamnya.
 
Christopher Sabatini, seorang pakar senior untuk Amerika Latin di lembaga penelitian Chatham House, berkata: "Saya pikir apa yang AS coba lakukan adalah semacam hal operasi psikologis, mencoba untuk membuat keributan orang dalam pemerintahan Maduro."
 
Tetapi pada Selasa Maduro mengkonfirmasi kontak dengan AS, yang ia lukiskan sebagai bukti bahwa ia telah mencari cara "agar presiden Donald Trump benar-benar mendengarkan Venezuela dan kebenaran revolusi Bolivarian abad ke-21".
 
Sebelumnya pada hari itu juga Trump mengatakan kepada wartawan: "Kami berbicara dengan berbagai perwakilan Venezuela. Saya tidak ingin mengatakan siapa, tetapi kami berbicara pada tingkat yang sangat tinggi."
 
Geoff Ramsey, seorang ahli Venezuela di Kantor Washington di Amerika Latin, menggambarkan laporan bahwa terjadi pembicaraan antara Cabello dan pejabat Trump sebagai "tanda yang sangat positif".
 
"Menunjukkan pemahaman di tingkat atas pemerintah (Maduro) bahwa ini tidak berkelanjutan," katanya tentang krisis ekonomi, politik, dan kemanusiaan yang sedang berlangsung di Venezuela.
 
"Saya pikir apa yang dicari orang-orang ini adalah semacam jaminan (dari AS) bahwa mereka tidak akan berakhir di sel penjara di Miami," tambah Ramsey.
 
Maduro telah berjuang demi kekuasaan politiknya sejak Januari ketika seorang pemimpin oposisi muda, Juan Guaido, menyatakan dirinya sebagai presiden sah Venezuela dan menerima dukungan lebih dari 50 pemerintah, termasuk AS dan Inggris.
 
Lebih dari empat juta rakyat Venezuela kini meninggalkan negara mereka yang kaya minyak tetapi hancur secara ekonomi, menurut badan pengungsi PBB. Sedikitnya 1 juta orang minggat sejak November lalu saja.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif