Ilhan Omar dan Rashida Tlaib, anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang diserang secara rasis oleh Presiden Donald Trump. (Foto: AFP).
Ilhan Omar dan Rashida Tlaib, anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang diserang secara rasis oleh Presiden Donald Trump. (Foto: AFP).

Rashida Tlaib: Trump Adalah Sosok Perundung Terparah

Internasional
Fajar Nugraha • 17 Juli 2019 13:05
Washington: Anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang mendapatkan serangan rasis dari Presiden Donald Trump, menyebutkan bahwa Trump adalah sosok perundung atau bully yang paling keras dia hadapi.
 
Rashida Tlaib bersama dengan anggota Kongres lainnya seperti: Alexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar dan Ayanna Pressley, duduk bersama dalam sebuah wawancara sejal Trump menjadikan mereka target serangan melalui Twitter.
 
Media AS menyebut kelompok politikus tersebut sebagai ‘Skuad’. Keempatnya diserang Trump melalui Twitter yang menyuruh mereka untuk kembali ke negara asalnya. Mereka memang politikus yang keluarganya merupakan imigran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Saya berhadapan dengan perundung terbesar dalam hidup dan mencoba menjauhi hal itu. Kami saat ini hanya ingin melakukan pekerjaan yang diminta rakyat, terutama yang fokus kepada masyarakat,” ujar Tlaib, seperti dikutip dalam wawancara di CBS, yang dikutip The New York Post, Rabu, 17 Juli 2019.
 
“Ini adalah sebuah pengalihan,” tuturnya.
 
Baca juga: Diusir Trump, Politikus Perempuan Demokrat Melawan.
 
Presiden Trump langsung diserang dengan kritikan oleh pihak Partai Demokrat dengan serangan rasis itu. Trump pun membela isi Tweet yang dibuatnya, menurutnya hal itu tidak rasis.
 
Sementara Ocasio-Cortez dalam wawancara tersebut juga menyebutkan bahwa Partai Republik tidak bertindak banyak untuk mengecam komentar dari Trump.
 
“Mereka (Partai Republik) tidak bisa bersuara atas kepatutan manusiawi, terhadap pernyataan yang dikeluarkan oleh presiden,” sebut Ocasio-Cortez.
 
Partai Demokrat pun berencana untuk pemungutan suara di DPR AS untuk mengecam Trump. Presiden yang juga mantan pengusaha properti itu menyebutkan upaya pemungutan suara itu sebagai cara kotor Demokrat, Partai Republik seharusnya tidak terjebak.
 
Baca juga: DPR AS Gelar Pemungutan Suara untuk Kecam Trump.
 
Ketika ditanya apakah keempat politikus ini bersedia untuk bertemu dengan Ketua DPR AS Nancy Pelosi, mereka menegaskan siap melakukan pertemuan itu. Menurutnya, Pelosi memiliki hak untuk bertemu mereka bahkan bisa meminta pertemuan untuk dilakukan klarifikasi.
 
Keempat politikus perempuan ini menginginkan Pelosi dan Trump untuk mengakui bahwa mereka ada perempuan yang memiliki warna kulit.
 
“Akui kami sebagai perempuan yang memiliki warna kulit, jadi ketika kami diabaikan, perhatikan atas apa yang kau lalukan. Terutama sebagian dari kami menerima ancaman pembunuhan, karena banyak dari kami pula yang diabaikan atas dasar latar belakang, pengalaman dan masih banyak alasan lain,” pungkas Tlaib.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif