Seorang prajurit Brasil melakukan penjagaan di Rio de Janeiro (Foto: AFP).
Seorang prajurit Brasil melakukan penjagaan di Rio de Janeiro (Foto: AFP).

Kekerasan Meningkat, Tentara Brasil Kendalikan Keamanan di Rio

Arpan Rahman • 17 Februari 2018 16:14
Rio de Janeiro: Presiden Brasil Michel Temer telah menandatangani sebuah dekrit yang menempatkan militer bertanggung jawab atas keamanan di Rio de Janeiro. 
 
Dekrit berlaku menyusul meningkatnya kejahatan jalanan dan kekerasan terhadap narkoba. Perampokan massal dan baku tembak selama karnaval, diikuti oleh kerusuhan yang menewaskan empat korban dan menyebabkan kekacauan, telah menambah kecemasan bahwa ibu kota lepas dari kendali.
 
"Saya mengambil tindakan ekstrem ini karena keadaan menuntutnya," kata Temer setelah menandatangani keputusan pada Jumat. "Cukup," tegasnya seperti dilansir Guardian, Sabtu 17 Februari 2018. 
 
Tentara sudah beroperasi di Rio tahun lalu dan melakukannya selama Olimpiade dan Piala Dunia.
 
Tapi keputusan Temer juga akan menempatkan tentara bertanggung jawab di atas kepolisian kota -- pertama kalinya Brasil mengambil keputusan semacam itu sejak memperkenalkan sebuah konstitusi baru pada 1988 setelah dua dekade kediktatoran militer.
 
Keamanan di Brasil biasanya berada di bawah kendali masing-masing negara bagian. Sekarang akan dijalankan oleh Jenderal Walter Braga Netto, yang membantu mengkoordinasikan keamanan selama Olimpiade dua tahun lalu, media setempat melaporkan.
 
"Ini pengakuan bahwa ada ketidakstabilan serius di negara bagian Rio de Janeiro," kata Roberto Dias, profesor hukum konstitusional di Getulio Vargas Foundation di Sao Paulo.
 
"Sangat serius membekukan otonomi sebuah negara bagian karena peraturan di satu federasi adalah otonomi," imbuhnya.
 
Gubernur Rio Luiz da Souza mengatakan bahwa polisi sendiri tidak dapat menghentikan perang geng di negara bagian. Ia mengatakan bahwa integrasi dibutuhkan pada 'momen ekstrem'.
 
Intervensi militer adalah topik yang menarik perhatian bagi banyak orang Brasil. Meskipun banyak pihak semakin mendukung kembalinya pemerintah militer.
 
Keputusan tersebut mendapat serangan dari penduduk favela Rio yang sudah merasakan kekerasan oleh tentara yang tidak terlatih untuk menangani urusan sipil.
 
Pendudukan militer 15 bulan di Rio favela Mare yang luas, berakhir pada Juni 2015, sudah gagal menyelesaikan kekerasan abadi di antara kelompok geng narkoba.
 
Timbul keuntungan politik bagi Presiden Temer, yang telah mempertaruhkan keberhasilan kepresidenannya dalam langkah-langkah penghematan demi upaya mengendalikan defisit Brasil. Termasuk perombakan pensiun yang kontroversial karena akan dipilih di Kongres dalam beberapa pekan mendatang. Ekspektasi berkembang, pemerintahannya akan kehilangan suara.
 
Sementara intervensi militer Rio sedang berlaku, Kongres tidak dapat menyetujui perubahan apapun terhadap Konstitusi, yang menunda reformasi penangguhan Temer.
 
"Dia mengganti taktik, dia akan mengambil peran utama dalam masalah keamanan publik ini," kata Ricardo Ismael, profesor ilmu politik di Catholic Pontifical University, Rio de Janeiro. "Dia akan mencoba untuk mendapatkan popularitas."
 
Temer mengatakan kapan waktunya tepat, dia akan menangguhkan tindakan tersebut, sehingga pemungutan suara bisa berlangsung.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan