NEWSTICKER
Presiden AS Donald Trump (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Washington, 2 Januari 2020. (Foto: AFP/JIM WATSON)
Presiden AS Donald Trump (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Washington, 2 Januari 2020. (Foto: AFP/JIM WATSON)

Trump Sebut Erdogan Berusaha Cegah Tragedi di Idlib

Internasional krisis suriah
Willy Haryono • 19 Februari 2020 16:05
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendukung operasi militer Turki di Suriah, terutama di provinsi Idlib. Menurut Trump, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hanya berusaha mencegah terjadinya tragedi di Idlib.
 
"Dia berjuang untuk Idlib," ujar Trump kepada awak media, merujuk pada Erdogan. "Dia tidak mau ribuan, atau ratusan ribu orang, tewas terbunuh," sambung dia, sesaat sebelum naik ke pesawat kepresidenan Air Force One.
 
Dilansir dari Yeni Safak, Trump mengatakan Washington dan Ankara "bekerja sama" untuk menentukan langkah-langkah apa yang bisa diambil terkait operasi militer Suriah di provinsi Idlib.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut, operasi Suriah di Idlib -- didukung Rusia serta Iran -- telah memicu eksodus sekitar 900 ribu warga lokal ke beberapa negara tetangga, termasuk Turki.
 
"Ada banyak pertempuran yang terjadi saat ini," ucap Trump.
 
Mark Lowcock, Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, mengatakan bahwa aksi kekerasan di Idlib telah mencapai "level baru yang mengerikan." Sejak Suriah mulai menggempur Idlib pada Desember tahun lalu, Lowcock telah mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan tegas demi menghindari terjadinya bencana kemanusiaan.
 
"Bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21 hanya bisa dicegah jika DK PBB, dan negara-negara lain yang berpengaruh, mendahulukan kepentingan kemanusiaan. Satu-satunya opsi hanyalah gencatan senjata," ungkap Lowcock.
 
Pada September 2018, Turki dan Rusia sepakat menjadikan Idlib sebagai zona deeskalasi, atau sebuah wilayah bebas dari aksi kekerasan. Namun gempuran demi gempuran tetap terjadi di wilayah tersebut.
 
Gencatan senjata baru kemudian diterapkan pada 12 Januari, namun belum efektif menghentikan kekerasan hingga saat ini.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif