Meski sudah kesepakatan antara Presiden Barack Obama dan Presiden Raul Castro, masalah kedua negara tidak menghilang begitu saja secara ajaib. Menurut Julia Sweigh, analis dari Dewan Hubungan Luar Negeri AS, Rabu (17/12/2014), masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam membentuk hubungan diplomasi normal.
Contohnya, saat ini AS masih melarang aktivitas pariwisata ke Kuba. Obama juga tidak bisa mengakhiri embargo tanpa ada persetujuan Kongres, sesuatu yang sulit terjadi jika Castro masih memimpin Kuba.
Sementara di pihak Kuba, Castro menegaskan negaranya masih tetap berpegang teguh pada paham komunis. Artinya, demokrasi, kebebasan pers dan kapitalisme belum akan hadir di Kuba.
Dan walaupun hubungan komersial kedua negara mungkin meningkat, sebut Sweig, Obama tidak akan menggunting pita (meresmikan) gedung McDonald atau Starbucks atau bisnis Negeri Paman Sam lainnya di Kuba dalam waktu dekat.
"Obama menciptakan momentum yang akan berujung pada pembukaan, contohnya (hotel) Mariott," ujar Sweig, seperti diwartakan Associated Press.
Perekonomian Kuba hanya tumbuh 1,4 persen tahun ini. Banyak bisnis sektor privat di Kuba gulung tikar dalam beberapa tahun terakhir. Aturan investasi asing di Kuba juga belum terlalu dapat menarik minat investor.
Ucapan terima kasih dilayangkan Obama pada Kanada atas perannya memfasilitasi rapat rahasia pada 2013 dan 2014. Sejumlah pejabat tinggi AS menyebut peran Kanada krusial dalam menghangatkan hubungan AS dan Kuba.
Paus Fransiskus juga memainkan peranan penting dalam normalisasi AS dan Kuba. Ia telah menemui Obama dan Presiden Kuba Raul Castro sejak beberapa bulan terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News