Bangunan yang diklaim Tiongkok sebagai kamp re-edukasi bagi Uighur di Xinjiang. (Foto: AFP/GREG BAKER)
Bangunan yang diklaim Tiongkok sebagai kamp re-edukasi bagi Uighur di Xinjiang. (Foto: AFP/GREG BAKER)

Ancam Batasi Visa, AS Minta Tiongkok Berhenti Tekan Uighur

Internasional amerika serikat tiongkok uighur
Arpan Rahman • 09 Oktober 2019 10:03
Washington: Amerika Serikat berencana membatasi penerbitan visa bagi sejumlah pejabat Tiongkok hingga Beijing bersedia mengakhiri tindakan "represi" mereka terhadap Muslim Uighur dan etnis minoritas lainnya di Xinjiang.
 
Rencana pembatasan visa diumumkan satu hari usai AS memasukkan 28 perusahaan Tiongkok ke daftar hitam.
 
Dua langkah terbaru Washington menandai salah satu usaha terkeras dari kekuatan asing terhadap isu di Xinjiang. Sejumlah grup hak asasi manusia menuduh Tiongkok telah melanggar HAM dengan menahan dan membatasi gerak-gerik Uighur.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tiongkok telah secara paksa menahan lebih dari satu juta Muslim dalam sebuah kampanye sistematik yang brutal, dengan tujuan utama adalah menghapus agama serta budaya di Xinjiang," tulis Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo di Twitter.
 
Dikutip dari AFP, Selasa 8 Oktober 2019, Pompeo menambahkan bahwa Beijing "harus mengakhiri represi, membebaskan semua orang yang telah ditahan secara acak dan juga menghentikan tindakan pemaksaan terhadap Muslim dari etnis Tiongkok."
 
Pompeo mengatakan kementerian yang dibawahinya akan membatasi visa bagi sejumlah pejabat Partai Komunis Tiongkok. Pembatasan akan diberlakukan bagi mereka yang terlibat dalam "penahanan" paksa terhadap Uighur dan etnis minoritas Muslim lainnya di Xinjiang.
 
Pembatasan juga berlaku bagi anggota keluarga para pejabat Tiongkok, termasuk anak-anak yang mungkin berniat masuk ke universitas di Negeri Paman Sam.
 
Kemenlu AS tidak menyebut secara spesifik siapa-siapa saja yang akan terlarang pembatasan visa ini. Namun sebelumnya parlemen AS sempat meminta Pompeo untuk segera bertindak terhadap Chen Quanguo, kepala Partai Komunis Tiongkok untuk urusan Xinjiang.
 
Dikenal di internal partai atas sikapnya terhadap grup minoritas, Chen pernah menerapkan kebijakan keras dalam menghancurkan suara kritik dan aksi protes di Tibet.
 
Mengenai tudingan penahanan paksa, selama ini Pemerintah Tiongkok mengklaim hanya memasukkan Uighur ke "kamp re-edukasi" untuk menumbuhkan bibit-bibit nasionalisme.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif