Krisna Mukti (Foto: MI/Adam Dwi)
Krisna Mukti (Foto: MI/Adam Dwi)

Fokus Kampanye Terpecah, Krisna Mukti Kecewa Pileg-Pilpres Digabung

Hiburan Caleg Artis
Purba Wirastama • 26 April 2019 09:00
Jakarta: Krisna Mukti adalah salah satu calon anggota legislatif yang merasakan dampak negatif dari pelaksanaan serentak Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019. Menurut Krisna, perhatian sebagian besar warga terjebak kepada persoalan kubu calon presiden 01 atau 02 saja.
 
Dia mengaku cukup maklum. Pemilu dengan model jadwal begini baru pertama kali dilakukan di Indonesia sejak reformasi. Namun jika bisa diubah, dia berharap Pilpres dan Pileg berikutnya terpisah jadwal sebagaimana pernah dilakukan pada 2014.
 
"Pemilu 2014 dipisah, itu lebih kondusif, lebih nyaman, enggak grasa grusu, dan banyak orang mencoblos lebih santai," kata Krisna kepada Medcom.id, Kamis, 25 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau sekarang, dampaknya (pemilu gabungan) kayak terjadi ke saya. Saya ikut Pileg, konsentrasi masyarakat ke Pilpres dan kadang mereka malas mencoblos yang lainnya. Jadi setelah mencoblos presiden, yang empat (surat suara legislatif) enggak dicoblos. Suara buat kami (caleg) berkurang. Itu salah satu dampaknya. Saya survei, banyak yang seperti itu, yang dicoblos hanya capres, kalau enggak 01, ya 02," tutur Krisna.
 
Dia bercerita, minat sebagian warga untuk memilih caleg semakin rendah karena surat suara DPR hingga DPRD I dan II hanya memuat nama caleg. Beda dengan surat suara kandidat presiden dan anggota DPD yang memuat foto para calon. "Kadang mereka enggak tahu siapa sehingga hanya mencoblos partainya atau sama sekali enggak mencoblos."
 
Selama kampanye, aktor-presenter kelahiran 1969 ini juga sulit untuk fokus pada pencalonan dirinya. Pasalnya, dia harus ikut berkampanye mendukung kandidat presiden yang diusung oleh koalisi partai. Padahal, belum tentu para pendukung Krisna punya pililhan kandidat presiden yang sama.
 
"Terkadang di lapangan enggak sesuai teorinya," kata Krisna. "Misalnya, di dapil saya ini, kebanyakan adalah pendukung pasangan calon (paslon) presiden nomor 02, sementara kami dukung paslon nomor 01."
 
"Mereka bilang begini, 'Saya mau coblos Mas Krisna, tetapi buat presiden, kami coblos 02 ya.' Kadang begini, 'Ah, Mas Krisna dukung 01. Males ah, sudah ya, saya coblos 02 saja. Saya coblos caleg yang dukung 02 saja.' Banyak seperti itu terjadi. Jadi, kami juga yang kesusahan di bawah. Kalau misal dipisah, mereka enggak melihat Pilpres sehingga benar-benar konsentrasi ke Pileg," jelasnya.
 
Dia mengaku cukup maklum. Pemilu dengan model jadwal begini baru pertama kali dilakukan di Indonesia sejak reformasi. Namun jika pemilu periode berikutnya tidak punya sistem dan praktik yang lebih baik, apalagi politik uang masih marak, Krisna lebih memilih fokus pada kariernya sebagai aktor sinetron.
 
Krisna bergabung dengan Partai Nasdem dan maju sebagai caleg DPR dengan dapil Jawa Barat X. Sebelumnya hingga kini, dia adalah anggota DPR 2014-2019 dari Partai Keadilan Bangsa dengan dapil Jawa Barat VII.
 

 

(ELG)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif