Cover lagu berlirik bahasa Jawa ini dibuat oleh kreator Kevin Cotok dengan menerjemahkan lirik ke dalam bahasa Minang. Adaptasi ini menghadirkan nuansa berbeda dari lagu aslinya yang menggunakan bahasa Jawa.
Lagu Negoro Angin sendiri mengangkat kisah pahit hubungan jarak jauh atau long-distance relationship (LDR). Popularitasnya kembali meningkat setelah sejumlah penyanyi membawakan ulang lagu tersebut dengan gaya berbeda.
Lagu LDR
Lagu Negoro Angin merupakan salah satu karya penyanyi dangdut Jawa, Denny Caknan. Lagu berbahasa Jawa ini mengangkat kisah tentang hubungan jarak jauh yang diwarnai kerinduan dan perasaan berat ketika harus terpisah dari orang yang disayangi.
Melalui liriknya, lagu ini menggambarkan keinginan seseorang untuk tetap mempertahankan hubungan meskipun terhalang jarak.
Penggunaan bahasa Jawa membuat emosi dalam lagu terasa dekat dengan pendengarnya, terutama bagi mereka yang memahami makna di balik ungkapan-ungkapannya.
Daya tarik Negoro Angin juga terletak pada tema yang cukup universal. Cerita tentang rindu, jarak, dan keinginan untuk bertemu kembali bisa dirasakan oleh banyak orang, terlepas dari latar belakang bahasa maupun daerah asal mereka.
Hal inilah yang membuat lagu tersebut menarik untuk dibawakan kembali dalam berbagai versi.
Dinyanyikan Ulang Pakai Bahasa Minang
Kreator Kevin Cotok menarik perhatian warganet reels setelah postingannya dalam meng-cover lagu Negoro Angin yang Jawa kental menjadi berbahasa Minang.
Kata demi kata ia terjemahkan tanpa mengubah irama dan makna dari lagu yang sedang populer digunakan para warganet di TikTok maupun Instagram.
Versi Bahasa Jawa
Kenangan sing wingi
Mabur dhuwur melayang-layang
Terbang di atas awan
Ingin melepas rindu, Sayang
Kepisah benua Negara Angin
Nggayuh tresnamu, rasane wis ra mungkin
Wis beda semenjak jarak teka
Tiyang sing mbiyen tak kenal, dadi wong liya
Ternyata LDR pait tenan
Mboten seindah kembang tulip ning taman
Goblogku, isih sayang awakmu
Ngertia, ra sudi ngancani jaman susahmu
Versi Bahasa Minang
Kenangan kapatang
Tabang tinggi melayang-layang
Tabang yo di ateh awan
Nio malapeh rindu, Sayang
Tapisah banua Nagari Angin
Dapekan adiak, rasonyo ndak ka mungkin
Lah babedo samanjak jarak tibo
Urang nan dulu den tau manjadi lain
Kironyo LDR paik bana
Indaklah saindah iyolah bungo nan di taman
Pakaknyo den masih sayang adiak
Kok tau co iko, ndak sudi den mangawani
Pilihan kosakata, ungkapan khas, hingga cara menyampaikan emosi turut memengaruhi bagaimana sebuah lagu diterima oleh pendengar.
Bahasa Minang sendiri memiliki beragam ungkapan yang dapat memberikan warna tersendiri ketika digunakan untuk menyampaikan cerita tentang perasaan dan hubungan antarmanusia.
Reaksi Warganet
Negoro Angin versi bahasa Minang ini meraup komentar positif warganet. Banyak yang memuji kemampuan Kevin dalam menerjemahkan liriknya, ada pula yang melemparkan komentar bernada candaan.
“Bagus da, ada randang-randangnyo saketek,” puji salah satu netizen di kolom komentar.
“Negoro Angin ❌Nagari Minang ✅” salah satu netizen melemparkan plesetan judul aslinya karena lirik Minang ini.
“Sejak saat itu rendangku terasa seperti lengkuas,” canda netizen lain dalam kolom komentar.
Kehadiran versi bahasa Minang ini memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi ruang bagi kreator untuk mengeksplorasi karya musik populer.
Lagu yang telah dikenal luas bisa memperoleh sentuhan baru melalui kreativitas dan identitas bahasa daerah, sehingga berpotensi menjangkau pendengar dari latar belakang yang lebih beragam.
(Vira Farhatul Maula)