Andien (Foto: dok. Andien)
Andien (Foto: dok. Andien)

EKSKLUSIF: Andien dan Bayang-bayang "Penyanyi Jazz"

Agustinus Shindu Alpito • 04 September 2026 12:10
Ringkasnya gini..
  • Andien mengungkap beban ekspektasi publik setelah dicap sebagai penyanyi jazz sejak debut di usia 14 tahun.
  • Label sebagai penyanyi jazz sempat membuat Andien merasa ruang eksplorasi musiknya terbatas, terutama saat bermusik di luar jazz.
  • Setelah lebih dari 25 tahun berkarier, Andien merasa baru kini bisa meraih kebebasan untuk mengeksplorasi musik tanpa keterikatan.
Jakarta: Ketika Andien pertama kali masuk industri musik pada 2000, usianya baru 14 tahun. Album debutnya, Bisikan Hati, digarap oleh Elfa Secioria, musisi yang juga menjadi gurunya di Elfa Music School. Album itu dirilis pada Januari 2000.

Dua tahun kemudian, ketika usianya sekitar 16 tahun, Andien bekerja bersama Indra Lesmana dan Aksan Sjuman untuk album Kinanti. Album tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu lompatan penting dalam musiknya, dengan perpaduan jazz, R&B, pop, bossa nova, hingga elemen elektronik, drum and bass dan jungle.

Di atas kertas, ini terdengar seperti awal karier yang ideal.

Tetapi ada konsekuensi lain dari tumbuh terlalu cepat di bawah bayang-bayang nama-nama besar: ekspektasi.

“Anak 14 tahun, 16 tahun, diproduserin sama Elva Sesioria, sama Indra Lusmana, sama Aksan Sjuman. Itu kayak beban yang pada akhirnya ga mudah juga sih gue rasa ya," ujar Andien dalam wawancara program pengarsipan musik Shindu’s Scoop.

Andien mengatakan tekanan terbesar justru tidak datang dari para musisi senior yang bekerja dengannya, melainkan ekspektasi publik kepada dirinya.

“Jadi itu debut aku pertama kali, press release itu judulnya adalah 'Andien, Magma Baru Dunia Jazz Indonesia gitu.'”

Label tersebut kemudian melekat cukup lama.

“Tapi aku agak kebingungan apalagi ketika awal-awal dilebeli sebagai penyanyi jazz gitu. Kenapa? Karena seolah itu kayak membatasi gerakku ketika aku gak nyanyiin lagu jazz, maka semua orang tuh akan jadi bertanya-tanya.”

Persoalannya menjadi jelas ketika musik Andien mulai bergerak.

Album pertama memang sangat dekat dengan jazz. Salah satu lagu yang paling dikenal dari periode tersebut adalah “My Funny Valentine”. Namun ketika mengerjakan Kinanti, pendekatannya berubah. Andien mengatakan Indra Lesmana banyak memasukkan pengaruh R&B, musik elektronik, drum and bass dan jungle ke dalam album tersebut.

Bagi Andien muda, perubahan itu tidak selalu mudah diterima publik.

“Kemudian di album kedua, Mas Indra lebih banyak pendekatannya ke R&B, di situ ada kayak musik-musik elektronik, drum and bass, jungle music gitu kan. Terus orang di situ pada nanya-nanya gitu, kok udah gak jazz lagi sih?”

Pertanyaan yang sama kembali muncul ketika ia bekerja dengan produser lain.

Kini, dua dekade lebih sejak kemunculannya pertama kali, Andien lebih leluasa dalam mengeksplorasi musik. Hal itu dapat kita dengar di album terbarunya, Sehidup Semusik.

“Jadi kenapa harus nunggu 25 tahun aku juga ga tau alesannya. Tapi yang jelas kebebasan itu kayak seperti baru bisa aku raih. Ketika emang udah apa ya, aku merasa kayak ga punya attachment gitu loh,” tukas Andien.

Simak wawancara eksklusif Andien selengkapnya di bawah ini:

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA