Prinsa Mandagie dan Difki (foto: ist)
Prinsa Mandagie dan Difki (foto: ist)

Kolaborasi Prinsa Mandagie dan Difki Hidupkan Lagi Lagu Galau Populer 2000an

Elang Riki Yanuar • 14 Februari 2026 18:50
Ringkasnya gini..
  • Prinsa Mandagie daur ulang “Seandainya” Vierratale bareng Difki Khalif lewat proyek Sony Music dan Musica Studio’s.
  • Prinsa dan Difki beri sentuhan orkestra di “Seandainya”, hadirkan versi baru yang emosional namun tetap familiar.
  • Lewat workshop vokal, Prinsa dan Difki satukan karakter suara beda untuk remake “Seandainya” yang lebih segar.
Jakarta: Prinsa Mandagie mengambil langkah baru dalam perjalanan karier bermusiknya. Dia coba memilih keluar dari zona nyaman dengan mengeksplorasi pendekatan berbeda, termasuk menafsir ulang lagu "Seandainya" milik band Vierratale.
 
Eksplorasi tersebut hadir lewat proyek kolaborasi lintas label antara Sony Music Indonesia dan Musica Studio’s. Program ini membuka kesempatan bagi para musisi untuk menghidupkan kembali lagu-lagu hits dengan sentuhan baru yang lebih relevan dengan warna generasi sekarang.
 
Dari sejumlah katalog yang ditawarkan, Prinsa mantap memilih lagu galau milik Vierratale yang dulu dikenal dengan nama Vierra. Lagu tersebut bukan hanya populer di era 2000-an, tetapi juga punya nilai sentimental bagi Prinsa.

"Banyak orang tumbuh bersama lagu ini, termasuk aku,” ucap Prinsa.
 
Proyek ini semakin menarik karena ia menggandeng Difki Khalif sebagai partner duet. Keduanya sama-sama dikenal sebagai solois, namun memiliki karakter vokal yang berbeda. Perbedaan inilah yang justru menjadi fondasi utama dalam membangun warna baru untuk lagu tersebut.
Difki menjelaskan bahwa proses penyatuan dua warna suara tidak terjadi begitu saja. Workshop intensif dilakukan agar pembagian part terasa natural dan tidak memaksakan karakter masing-masing.
 
"Kami memang punya range suara berbeda, jadi workshop membantu kami menentukan siapa menyanyikan bagian mana, supaya tetap harmonis," kata Difki. 
 
Aransemen lagu dirombak dengan pendekatan yang lebih emosional dan segar. Tambahan sentuhan orkestra memperkaya atmosfer pop rock yang ingin mereka tampilkan. Hasilnya, lagu terdengar lebih megah tanpa kehilangan ruh aslinya.
 
Bagi Prinsa, pengalaman ini menjadi tantangan tersendiri. Ia yang selama ini identik dengan nuansa dewasa dan sentimental, kini harus menghadirkan energi berbeda. 
 
“Jadi, tantangannya tidak hanya membawakan ulang, tapi bagaimana membuatnya terasa segar, tetap akrab, tapi punya warna kami sendiri,” kata Prinsa.
 
Proses kreatif tersebut juga menjadi ruang belajar bagi keduanya. Prinsa menemukan sisi baru dari jangkauan vokalnya, sementara Difki belajar memahami dinamika duet yang belum banyak ia jalani sebelumnya. 
 
Dalam proses harmonisasi, mereka turut dibantu oleh Barsena Bestandhi yang merancang perpaduan vokal agar dua karakter suara berbeda dapat menyatu dengan mulus. Beberapa kali percobaan dilakukan untuk menemukan pembagian nada yang paling pas, hingga akhirnya tercapai keseimbangan yang diinginkan.
 
Momen paling emosional terjadi saat sesi preview akhir. Ketika aransemen lengkap dengan elemen orkestra mulai terdengar utuh, keduanya merasakan lagu tersebut benar-benar lahir dalam bentuk baru. 
 
"Ini bisa jadi versi yang berbeda, tapi tetap familiar," kata Prinsa.
Prinsa Shafira Mandagie dikenal publik sejak mengikuti ajang Indonesian Idol pada 2019. Penyanyi kelahiran Cimahi, 14 September 1999 itu juga sempat membawakan lagu tema serial populer Layangan Putus berjudul “Sahabat Dulu.” Kini ia aktif berkarier sebagai penyanyi sekaligus presenter di bawah naungan Sony Music Indonesia.
 
Sementara itu, Difki Khalif mulai dikenal luas lewat kolaborasinya bersama Ariel NOAH dalam lagu “Cinta yang Diam” pada 2020. Ia telah menekuni dunia musik sejak remaja dan konsisten merilis karya solo sejak 2018, termasuk single “Si Paling” dan “Yang Terdalam.” 
 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA