Band yang digawangi Oscario pada vokal, Kevin Indriawan di gitar, Lucky Azhary pada bass, serta Julian Aditya di drum ini menghadirkan sesuatu yang berbeda dibanding karya-karya sebelumnya. Untuk pertama kalinya, seluruh lagu dalam album Jahanam menggunakan lirik berbahasa Indonesia.
Langkah tersebut menjadi salah satu upaya Black Horses agar pesan dalam lagu mereka terasa lebih dekat dan relevan dengan para pendengar. Tidak hanya itu, album ini juga memperlihatkan eksplorasi musikal yang lebih matang dan berani.
Diproduseri oleh John Paul Patton atau Coki yang dikenal lewat proyek Kelompok Penerbang Roket, Ali, dan Portura, album Jahanam menawarkan nuansa classic rock yang lebih mentah, eksplosif, namun tetap terasa segar.
Di dalam album ini, Black Horses menghadirkan total sembilan lagu. Dua single yang telah lebih dulu dirilis yakni "Tirani Tua" dan "Distorsi Menggema" kini ditemani sederet lagu baru, termasuk "Jejak Waktu" yang dipilih sebagai track unggulan setelah perilisan album.
Bagi para pendengar setia Black Horses yang dikenal dengan sebutan Kusir-Kusir, lagu "Jejak Waktu" dianggap menjadi simbol kedewasaan baru dari band tersebut. Black Horses tetap mempertahankan energi rock khas mereka tanpa harus membuktikan diri secara berlebihan.
Perilisan video musik "Jejak Waktu" juga semakin memperkuat pesan emosional yang ingin disampaikan Black Horses lewat album ini. Mereka mencoba menghadirkan sisi gelap kehidupan tanpa harus menggunakan pendekatan yang vulgar.
Vokalis Black Horses, Oscar, mengungkapkan bahwa album Jahanam lahir dari keresahan dan situasi yang mereka rasakan belakangan ini. Menurutnya, karya tersebut dibuat agar pendengar bisa merasa lebih terhubung dengan realitas yang terjadi di sekitar mereka.
“Album ini adalah bentuk respon bagi para Kusir dan pendengar kami untuk bisa lebih relate dengan apa yang kami rasakan belakangan ini, terutama situasi yang terjadi di sekitar kita, apapun konteksnya,” ujar Oscar.
Sementara itu, Lucky Azhary menilai album ini memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar kumpulan lagu biasa. Ia menyebut Jahanam sebagai penanda zaman yang merepresentasikan kondisi kehidupan masyarakat saat ini.
“Ini lebih dari sekadar album atau kumpulan lagu, ini adalah penanda zaman dari Black Horses untuk kita semua yang tinggal di Indonesia,” kata Lucky.
Di balik proses kreatif album ini, produser Coki juga mengakui adanya tantangan tersendiri saat menggarap materi lagu bersama Black Horses. Menurutnya, tantangan terbesar adalah menyatukan idealisme musik dengan selera audiens masa kini.
“Proses produksi materi-materi dalam album ini punya tantangannya sendiri. Syukurnya, gue udah kenal dengan semua personil Black Horses dengan baik. Sehingga, tantangannya lebih ke output yang sama-sama kita inginkan secara idealis, tapi harus juga relate dengan audiens," jelas Coki.
Black Horses ingin para pendengar bebas menafsirkan emosi dan pesan yang mereka rasakan saat menikmati lagu-lagu dalam album tersebut. Sementara dari sisi lirik, Black Horses tidak ingin tampil menggurui.
"Kebebasan itu ada dan nyata, selama masih punya nyawa, maka beranilah mengambil sikap. Karena sikap kita yang ambil punya pengaruh bagi anak-cucu kita di kemudian hari," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News