Pertama kali dipopulerkan oleh Didi Suyoso Karsono, lagu ini kemudian terus berkembang dan dinyanyikan ulang oleh berbagai penyanyi lintas generasi. Setiap versi menghadirkan nuansa yang berbeda, menyesuaikan dengan zaman dan karakter penyanyinya.
Pada awal 2000-an, lagu ini kembali populer melalui versi anak-anak yang dibawakan oleh Tasya Kamila. Dengan aransemen ceria dan ringan, versi ini banyak dikenal oleh generasi muda dan sering diputar saat perayaan Lebaran di keluarga.
Sementara itu, Gita Gutawa menghadirkan versi yang lebih modern dan elegan melalui album Balada Shalawat yang dirilis pada 2010. Aransemen musiknya terasa lebih megah dengan sentuhan religi yang kuat, sehingga memberikan pengalaman mendengar yang berbeda.
Secara keseluruhan, lagu “Idul Fitri” memiliki makna mendalam tentang hari kemenangan umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Liriknya menggambarkan suasana kebahagiaan, kebersamaan, serta tradisi saling memaafkan saat Lebaran.
Selain itu, lagu ini juga mencerminkan tradisi masyarakat Indonesia saat Idul Fitri, seperti mudik ke kampung halaman, mengenakan pakaian baru, hingga berkumpul bersama keluarga. Nuansa tersebut membuat lagu ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menariknya, dalam versi aslinya, lagu ini juga menyisipkan pesan sosial yang cukup kuat. Beberapa bagian lirik menggambarkan realitas kehidupan masyarakat, mulai dari perjuangan ekonomi hingga kritik terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Lebaran.
Meski telah mengalami berbagai aransemen ulang, esensi dari lagu ini tetap sama, yaitu mengajak pendengarnya untuk kembali ke fitrah, mempererat silaturahmi, dan saling memaafkan.
Tak heran jika lagu “Idul Fitri” tetap bertahan lintas generasi dan selalu relevan diputar setiap tahun. Perpaduan antara nilai religi, budaya, dan pesan moral menjadikannya salah satu lagu Lebaran paling ikonik di Indonesia.
Berikut tiga versi lagu "Idul Fitri" karya Ismail Marzuki
1. Versi Didi Suyoso Karsono
Setelah berpuasa satu bulan lamanya
Berzakat Fitrah menurut perintah agama
Kini kita beridul Fitri berbahagia
Mari kita berlebaran bersuka gembira
Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan
Hilang dendam habis marah di hari lebaran
Minal aidzin wal faidin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali naik trem listrik perei
Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore
Akibatnya tengteng selop sepatu terompe
Kakinya pada lecet babak belur berabe
Maafkan lahir dan batin
Lain tahun hidup prihatin
Cari wang jangan bingungin
Lan Syawal kita ngawinin
Cara orang kota berlebaran lain lagi
Kesempatan ini dipakai buat berjudi
Sehari semalam main ceki mabuk brendi
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri
Akibatnya sang ketupat melayang ke mata
Si penjudi matang biru dirangsang si istri
Maafkanlah dan batin
Lain tahun hidup prihatin
Kondangan boleh kurangi
Korupsi jangan kerjai
2. Versi Tasya Kamila
Setelah berpuasa satu bulan lamanya
Berzakat fitrah menurut perintah agama
Kini kita beridulfitri berbahagia
Mari kita berlebaran bersuka gembira
Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan
Hilang dendam habis marah di hari Lebaran
Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan
Hilang dendam habis marah di hari Lebaran
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Dari segala penjuru mengalih ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali ke kota naik bis keren
Hilir-mudik jalan kaki pincang sampai sore
Akibatnya tenteng selop sepatu terompeh
Kakinya pada lecet babak belur berabe
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Minal aidzin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
3. Versi Gita Gutawa
Setelah berpuasa satu bulan lamanya
Berzakat fitrah menurut perintah agama
Kini kita ber-Idul Fitri, berbahagia
Mari kita berlebaran, bersuka gembira
Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan
Hilang dendam, habis marah di hari Lebaran
من العائدين والفائزين
Maafkan lahir dan batin
Selamat, para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali ke kota naik bis kerek
Hilir mudik, jalan kaki, pincang sampai sore
Akibatnya tenteng selop, sepatu, teropeh
Kakinya pada lecet, babak belur berabe
من العائدين والفائزين
Maafkan lahir dan batin
Selamat, para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
من العائدين والفائزين
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Ha, ah-ha-ha-ha, ah-ha-ha-ha, ah-ha-ha-ha
Ha, ah-ha-ha-ha, ah-ha-ha-ha, ah-ha-ha-ha
من العائدين والفائزين
Maafkan lahir dan batin
Selamat, para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
من العائدين والفائزين
Maafkan lahir dan batin
Selamat, para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Selamat, para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin
Ha, ah-ha-ha-ha, ah-ha-ha-ha, ah-ha-ha-ha
Ha-ah-ah
(Maiza Jasmine A.R)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News