Jakarta: Anggia Novita terus menunjukkan semangat untuk tetap produktif di tengah proses pemulihan kesehatannya. Mantan istri aktor Ferry Irawan itu memilih kembali dekat dengan dunia musik yang telah lama menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Bagi Anggia, musik bukan sekadar sarana berkarya. Aktivitas tersebut juga menjadi terapi yang membantunya bangkit setelah mengalami stroke. Melalui keterlibatannya dalam proyek Original Soundtrack film Juminten Edan, ia menemukan energi baru untuk menjalani masa pemulihan.
Perempuan yang akrab disapa Anggi ini dipercaya menjadi produser soundtrack film Juminten Edan. Proyek tersebut menjadi pengalaman pertamanya sebagai produser lagu untuk sebuah film layar lebar yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 23 Juli 2026.
Original Soundtrack film tersebut diciptakan oleh musisi Kukuh Kudamai. Proses pengerjaannya berlangsung selama kurang lebih dua bulan dengan melibatkan sejumlah pelaku musik yang memiliki kedekatan dengan nuansa budaya Jawa yang menjadi latar cerita film.
Untuk mengisi vokal utama, Anggia mempercayakan lagu tersebut kepada penyanyi asal Yogyakarta, Tania Dewi Astarina. Menurutnya, karakter suara Tania sangat sesuai dengan konsep musik yang ingin dihadirkan dalam soundtrack tersebut.
"Sebagai penyanyi yang sering menang lomba lagu daerah, karakter vokal dia cukup potensial membawakan lagu Ost. Karena memang konsepnya tradisional. Sesuai dengan mood filmnya," kata Anggi terkait pemilihan Tania.
Selain memiliki kemampuan vokal yang kuat, Tania juga dikenal cukup populer di Yogyakarta. Faktor tersebut turut mendukung proses produksi yang melibatkan arranger Dindin Hugo Agoesto dan pencipta lagu Kukuh Kudamai. Kehadiran tim yang berada dalam satu wilayah membuat koordinasi selama pengerjaan lagu berjalan lebih efektif.
Mayoritas proses syuting Juminten Edan juga berlangsung di Yogyakarta. Karena itu, keterlibatan para musisi lokal dinilai mampu memperkuat identitas film sekaligus menghadirkan suasana yang lebih autentik melalui musik pengiringnya.
Meski menjadi pengalaman perdana sebagai produser soundtrack film, Anggia mengaku tidak menemui hambatan berarti. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi dengan para kreator musik agar lagu yang dihasilkan mampu mewakili perjalanan emosional tokoh utama dalam cerita.
Apalagi proyek tersebut mendapat dukungan dari Trinity Optima Production yang telah berpengalaman di industri musik Indonesia. Melalui rumah produksinya, Digital Frame Production, Anggia bahkan menghadirkan soundtrack dalam dua versi berbeda, yakni pop dan keroncong, yang disesuaikan dengan alur cerita film.
"Di tengah proses pembuatan Ost ada aku kasih masukan sedikit. Ini biar film jadi lebih bernyawa. Karakter lagu sama dengan filmnya. Orang yang tuna wicara, putus asa. Apa yang ada dalam hatinya diceritakan dalam lagu ini," ujar Anggi.
Menurut Anggia, perilisan soundtrack lebih awal dilakukan agar publik dapat mengenal cerita dan suasana film sebelum penayangannya di bioskop. Ia berharap lagu tersebut mampu membangun kedekatan emosional dengan calon penonton.
Di balik kesibukannya menggarap proyek musik, Anggia menyimpan harapan besar terhadap proses pemulihan yang sedang dijalani. Kecintaannya pada dunia musik yang pernah ia geluti saat menjadi event organizer dan menangani grup musik Ungu pada periode 2003 hingga 2008 kini menjadi sumber semangat baru.
"Dalam proses penyembuhan stroke, saya memberanikan diri mengerjakan sesuatu karena memang saya menyukai musik," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan