Band Discus saat sesi peluncuran CD album Live In Swizterland 2005 (Foto: Medcom/Basuki)
Band Discus saat sesi peluncuran CD album Live In Swizterland 2005 (Foto: Medcom/Basuki)

Legenda Progressive Rock Indonesia Discus Kembali, Siap Gaet Pendengar Gen Z

Basuki Rachmat • 18 Juli 2026 18:03
Ringkasnya gini..
  • Discus merilis album Live In Switzerland 2005 dalam format CD, mengabadikan penampilan bersejarah mereka di ProgSol Festival, Swiss.
  • Legenda progressive rock Indonesia, Discus, kembali menyapa pendengar baru lewat arsip konser Live In Switzerland 2005.
  • Discus membidik Gen Z sebagai pendengar baru sekaligus berharap kembali berkarya, tur, dan tampil di berbagai festival musik.
Jakarta: Grup musik pionir progressive rock Indonesia, Discus, resmi merilis dokumentasi arsip penampilan bersejarah mereka saat menjadi penampil utama di ProgSol Festival, Swiss pada 2005 silam.
 
​Arsip legendaris ini resmi diabadikan dalam format fisik Compact Disc (CD) dan diedarkan oleh label independen demajors. Peluncuran album bertajuk Live In Switzerland 2005 tersebut dirayakan melalui acara intim bertajuk "Rilis Di Toko" yang digelar di Creative Spac3 Gramedia Jalma, Jakarta Selatan, pada Jumat, 17 Juli 2026.
 
Bagi para penikmat musik progresif, nama Discus bukanlah nama asing. Band yang berdiri pada 1996 ini lahir dari pertemuan Iwan Hasan dan almarhum Anto Praboe. Nama "Discus" sendiri diambil dari ikan hias asal Amazon yang dijuluki Raja Akuarium, yang kemudian menjadi inspirasi visual pada artwork album perdana mereka.

Melansir dari Synchronize Radio, Iwan Hasan merupakan seorang poliglot musik lulusan terbaik Willamette University, Oregon. Ia adalah satu dari sekitar lima puluh pemain harp guitar profesional di dunia, sekaligus menjadi satu-satunya di Indonesia setelah belajar langsung dari sang pelopor, John Doan, pada 1991.
 
Sementara tandemnya, mendiang Anto Praboe, merupakan pemain klarinet sekaligus multi-instrumentalis dengan reputasi panjang di kancah musik klasik dan jazz Indonesia.
Formasi awal Discus dihuni oleh Iwan Hasan (harp guitar), Anto Praboe (klarinet), Fadhil Indra (keyboard/perkusi), Eko Partitur (biola), Hayunaji (drum dan perkusi), Kiko Caloh (bass), Krisna Prameswara (keyboard dan MIDI), serta Nonnie Cindy (vokal).
 
Nama Discus mulai diperhitungkan secara internasional setelah merilis album debut 1st pada 1999 melalui label asal Italia, Mellow Records. Album tersebut menuai pujian luas dari komunitas progressive rock dunia.
 
Media musik asal Amerika Serikat, Expose, menobatkan 1st sebagai salah satu album progressive terbaik dunia. Sementara majalah Prog-Resiste dari Belgia memasukkannya ke dalam lima album progressive rock terbaik dunia pada akhir 1999. Di Indonesia, mendiang Denny Sakrie juga mencatat 1st sebagai salah satu album jazz paling penting dalam sejarah musik Indonesia melalui Rolling Stone Indonesia.
 
Kesuksesan album tersebut membawa Discus tampil di sejumlah festival bergengsi dunia, seperti ProgNight di San Francisco, Knitting Factory di New York, ProgDay di North Carolina, hingga BajaProg di Meksiko pada 2001.
 
Empat tahun kemudian, Discus kembali merilis album ...tot licht! (2003) yang dipasarkan melalui Musea Records (Prancis) dan Gohan Records (Jepang).
 
Perjalanan Discus sempat terhenti setelah wafatnya Anto Praboe pada 2010. Tak lama kemudian, Iwan Hasan juga menyatakan mundur sehingga band dinyatakan bubar. Namun pada 2011, album ...tot licht! justru menjadi No.1 Best Seller All Genre di Amazon Jepang. Pencapaian tersebut menjadi awal kebangkitan Discus hingga akhirnya kembali tampil pada 2012 dengan formasi baru.
 
Momentum kebangkitan berlanjut pada 2024 ketika Disk Union Jepang merilis box set tiga CD berisi katalog Discus yang langsung menembus posisi empat besar Best Seller All Genre International Chart. Setelah vakum selama lebih dari satu dekade, Discus juga kembali tampil di Ngayogjazz 2024 dan Synchronize Fest 2025.
 
Kini, dengan formasi baru yang dihuni oleh Iwan Hasan, Fadhil Indra, Hayunaji, Krisna Prameswara, Nonnie Cindy, serta didukung oleh Yuyun Arfah (ethnic vocal), Dony Koeswinarno (soprano sax/flute), Didiet (violin), dan Soebroto Harry (bass), mereka siap menyapa pendengar baru lewat album Live In Switzerland 2005.
 
​David Tarigan, selaku A&R (Artist and Repertoire) dari demajors, mengaku sangat terhormat bisa memfasilitasi perilisan arsip berharga ini ke pasar domestik.
 
"Kami merasa sangat terhormat bisa merilis album dari band yang bisa dibilang legenda kali di skena musik, secara spesifik musik Progressive Rock Indonesia, Discus," ujar David Tarigan, selaku A&R (Artist and Repertoire) dari demajors.
 
"Setelah sekian lama, satu dekade lebih, akhirnya mereka bisa main lagi tampil di depan umum. Dan kali ini benar-benar musimnya beda, audience-nya benar-benar baru. Karena memang ya itu juga salah satu misi kami. Kita lihat seperti apa nanti respons anak-anak zaman sekarang terutama melihat band legendaris ini Dan ya sekarang lanjutannya, kita rilis dulu CD ini, Live in Switzerland," tuturnya.
 
Usai gelaran acara, Medcom.id pun berkesempatan melakukan wawancara bersama para personel Discus untuk mengupas tuntas di balik layar perilisan album Live ini hingga rencana masa depan mereka.
 
Sebenarnya, di awal terbentuk, Discus ingin dikenal sebagai band dengan genre apa?
 
Iwan Hasan: "Awalnya itu Jazz, karena saya mendirikannya sebagai grup Jazz. Tapi akhirnya jadi Jazz yang utama Progressive Rock. Lucunya, kami diundang ke festival internasional di Amerika itu oleh festival Progressive, gara-gara lagu 'Kontras' dan 'Fantasia Gamelantronik'. Di sana ada unsur Progressive Fusion dan akustikan chamber music yang disukai publik prog-rock."
 
Iwan Hasan: "Jadi sebetulnya kita berubah jadi Progressive itu karena 'dicap' oleh festival, label, dan majalah Progressive di luar negeri. Saya sama Fadhil tidak pernah bilang 'Ayo bikin Jazz atau Prog', tapi hasil karya kita tahun 1999 itu yang mencuri perhatian dunia karena dianggap mengubah warna musik progresif."
 
Iwan Hasan: "Lagu 'Kontras' itu sejarahnya panjang, dari era Mahabrata, terus berevolusi jadi Gampang Suling, baru akhirnya jadi Kontras. Itu sudah ada sejak kita SMA. Kalau 'Fantasia Gamelantronik' saya bikin tahun 1993 pas pulang kuliah dari Amerika. Dulu judulnya 'International Crap', terus diadaptasi untuk Discus."
 
Fadhil Indra: "Ada majalah di Belgia, Progressive-S, bilang Discus datang dari tempat yang tak diduga. Mereka bilang musik Indonesia muncul lagi setelah era Guruh Gipsy tahun 1974. Jadi kami dianggap penerus estafet itu."
 
Kenapa akhirnya memilih rekaman versi Live di ProgSol, Swiss 2005 untuk dirilis ulang ke dalam format CD?
 
Iwan Hasan: "Kalau kenapa di Swiss, karena itu rekaman yang paling bagus. Karena engineer-nya waktu itu adalah Juerg Naegeli, mantan bassist Krokus ya, yang katanya waktu itu sudah jadi sound engineer terbaik di Swiss menurut organizer ProgSol Dia luar biasa, pas soundcheck aja kita ngerasa 'Wah, ini keren banget'. Penonton juga ngerasa begitu."
 
Iwan Hasan: "Dia sangat profesional, sebulan sebelumnya udah nanyain channel list, dia pelajari lagunya, bahkan minta kita mainin lagu tertentu pas soundcheck. Itu profesionalisme yang belum pernah kita alami sebelumnya, termasuk di sini atau negara lain."
 
Bagaimana cerita awal kolaborasi Discus hingga bisa merilis box-set 3 CD bersama label Disk Union di Jepang?
 
Iwan Hasan: "Awalnya kita tidak ada rencana rilis itu sebagai album. Tapi tahun 2023, label Disk Union di Jepang kontak saya. Dulu album kedua Discus pernah jadi bestseller di sana tahun 2011 selama beberapa minggu."
 
Iwan Hasan: "Tiba-tiba mereka minta rilis boxset 3 CD: album pertama remaster, album kedua remaster, dan mereka nanya album ketiga. Karena belum ada album ketiga, saya tawarin rekaman live di Swiss tahun 2005 itu. Mereka setelah mendengar materinya."
 
Lalu, bagaimana akhirnya arsip ini bisa mendarat di demajors?
 
Iwan Hasan: Setelah rilis di Jepang dan jadi bestseller juga, saya coba pendekatan ke demajors di Indonesia. Saya kontak David Karto, dia bilang 'Ayo ngobrol'. Saya ke kantornya, ketemu David Tarigan juga. Ternyata mereka sangat tertarik dan mendukung. Saya kaget juga karena treatment-nya luar biasa, sampai dibikinin acara di Kios Ojo Keos ini sama Gramedia Jalma. Ini penghargaan yang besar buat kami."
 
Terkait rencana album baru Discus, apa yang membedakan proses penggarapannya dengan album-album terdahulu?
 
Iwan Hasan: "Lagu-lagu untuk album baru sebetulnya sudah lengkap di komputer saya sejak 2007. Bahkan tiga orang yang sudah meninggal (termasuk almarhum Anto) sudah sempat ngisi part-nya di komputer saya. Waktu Anto meninggal, ada ketegangan internal, saya sempat keluar sebentar, terus band vakum lama. Sekarang kita mulai bergabung lagi."
 
Fadhil Indra: "Prosesnya sekarang beda. Kita nggak pernah ngumpul sebagai band untuk latihan. Iwan yang direct, dia kasih panduan track-nya, personil lain ngisi part-nya masing-masing secara terpisah, terus nanti disatuin di studio. Jadi albumnya jadi dulu, baru kita ulik bareng-bareng buat dimainin."
 
Iwan Hasan: "Progresnya belum sampai 10%. Karena kesibukan masing-masing, jadwalnya susah ketemu. Kita berencana akan keluarin single dulu, satu per satu, mungkin tahun ini ada satu atau dua single."
 
Terakhir, apa harapan terbesar dari masing-masing personel untuk masa depan Discus?
 
Nonnie Cindy: "Harapannya generasi sekarang bisa ikut mendengarkan. Semoga Discus bisa termotivasi lagi buat bikin karya dan yang pasti pengen tour lagi."
 
Fadhil Indra: "Ini model baru, menggabungkan musik dengan karya tulis atau literasi di toko buku seperti ini. Saya ingin Discus jadi inspirasi buat generasi di bawah kami. Bagaimana musik bisa crossover dengan seni lain, mungkin nanti ke film atau tari. Kekuatan lirik Discus yang bercerita tentang sejarah Indonesia juga diharapkan bisa jadi obrolan sehari-hari."
 
Iwan Hasan: "Harapan utama ya laku, hahaha. Tapi bener, dengan adanya demajors, kita membidik Gen Z, semoga Gen Z mulai tahu tentang kami. Ini hal yang menyenangkan kalau itu terjadi."
 
Krisna Prameswara: "Harapan saya sih, karena maintain band seperti ini susah ya, apalagi seiring dengan umur (tertawa). Jadi mudah-mudahan (ada) semangat baru. Terus kita punya penggemar, penikmat yang baru lagi. Sekarang juga banyak festival-festival yang keren-keren, yang sudah lebih non-mainstream. Harapan kita bisa join juga di festival-festival itu, memperkenalkan musik kami. Karena sekarang selera musik orang-orang Indonesia lebih keren lagi. Mereka tidak terikat sama mainstream lagi, mereka sudah punya pilihan-pilihan sendiri. Tantangan buat kami juga untuk menyajikan yang lebih keren juga, seperti itu."
 
Yuyun Arfah: "Aku berharap banget mudah-mudahan Discus memang lebih banyak lagi diberi kesempatan panggung sehingganya banyak orang Indonesia yang akhirnya tahu dan mengenal kami. Apalagi dengan kehadiran aku di Discus itu, aku kan sarjana tari dengan pengetahuan musik etnikku, sehingganya Discus itu semakin kaya baik audio maupun visual. Karena setiap kali manggung itu aku berupaya untuk juga sambil mendeskripsikan pesan lagu melalui gerak tari."
 

 

 

 

 

 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA