Dalam konferensi pers Road to Pagelaran Sabang Merauke 2026 pada 24 April 2026, Raisa mengaku sempat heran sekaligus penasaran saat diminta menjadi juri. Ia merasa latar belakangnya yang berasal dari dunia musik, bukan tari, membuat dirinya mempertanyakan alasan pemilihannya.
“Aku sih malah bertanya, Pagelaran Sabang Merauke kenapa tertarik mengajak aku di sini? Karena dari tadi kayaknya yang paling di luar konteks adalah saya,” ucap Raisa sambil bercanda dalam konferensi pers tersebut.
Meski begitu, Raisa mengaku sudah cukup familiar dengan Pagelaran Sabang Merauke. Ia bahkan pernah menyaksikan pertunjukan tahun sebelumnya dan merasa terkesan dengan konsep besar yang ditampilkan di atas panggung. “Tapi pastinya aku sudah sangat familiar dengan Pagelaran Sabang Merauke dan udah ngeliat yang tahun lalu juga dengan naga-naga itu, luar biasa sekali pagelarannya,” tambahnya.
Raisa menjelaskan, tawaran menjadi juri awalnya ia respons dengan penuh tanda tanya. Bukan karena ingin menolak, melainkan karena rasa ingin tahu tentang kontribusi yang bisa ia berikan di luar bidang yang selama ini ia tekuni.
Namun, pada akhirnya ia merasa bahwa semua bentuk seni memiliki hubungan yang universal. Menurutnya, tari, musik, dan seni lainnya tetap bisa dinilai melalui rasa, emosi, dan jiwa yang disampaikan oleh para penampil.
“Ketika ditawarkan untuk ‘mau ga jadi juri?’, pertama yang aku tanyain, ‘kenapa harus aku?’ gitu,” cerita Raisa.
“Tapi pada akhirnya menurutku semua bentuk seni itu, mau itu tari, ataupun suara, musik, dan lain-lain, semua tuh ya kita bisa melihat dan merasakan dari soul-nya,” lanjutnya.
Dengan sudut pandang tersebut, Raisa justru melihat perannya sebagai juri dari sisi yang berbeda. Ia merasa tidak harus memahami teknik tari secara mendalam untuk bisa mengapresiasi penampilan para peserta.
“Jadi mungkin nanti ketika aku duduk di bangku juri, aku akan lebih gampang luluh gitu ya sama penari-penarinya karena ga ngerti dengan teknik, tapi hanya bisa merasakan soulnya mereka, bisa merasakan kebanggaan mereka terhadap budaya dan tari yang dibawakan,” ungkap Raisa.
Ia juga menyebut pengalaman ini sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus mencari inspirasi baru dari para penari yang akan tampil dalam ajang tersebut.
“Jadi aku gak sabar untuk belajar dari semua penari-penari yang akan tampil besok, dan juga aku gak sabar untuk terinspirasi dari mereka semua juga,” tutupnya.
Sementara itu, Pagelaran Sabang Merauke - Hanya Indonesia yang Punya akan kembali digelar pada 21 hingga 23 Agustus 2026 di Indonesia Arena, kawasan Senayan, Jakarta. Tahun ini, pagelaran mengusung tema Hikayat Srikandi Nusantara.
Tema tersebut menyoroti peran perempuan dalam berbagai cerita rakyat Indonesia yang sarat makna. Selain itu, tema ini juga menjadi refleksi pentingnya kontribusi perempuan dalam membentuk identitas dan narasi budaya Nusantara.
(Maiza Jasmine A.R)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News